Jilbab
Ramai-ramai Bicara Jilbab, Begini Sejarah Jilbab di Indonesia
Dunia pendidikan saat ini sedang ramai dengan isu kewajiban mengenakan kerudung atau jilbab bagi siswa SMK di Padang
TRIBUNMANADO.CO.ID - Dunia pendidikan saat ini sedang ramai dengan isu kewajiban mengenakan kerudung atau jilbab bagi siswa SMK di Padang, Sumatera Barat. Kewajiban ini rupanya juga berlaku untuk siswa non Muslim.
Aturan tersebut, menurut pihak sekolah, sudah berlaku selama 15 tahun lamanya namun baru dipersoalkan saat ini.
Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menegaskan, tidak akan memberi ruang kepada pihak sekolah yang intoleran.
"Sekolah tidak boleh sama sekali membuat peraturan atau imbauan kepada peserta didik untuk menggunakan model pakaian kekhususan agama tertentu sebagai pakaian seragam sekolah. Apalagi jika tidak sesuai dengan agama atau kepercayaan peserta didik," ujar Nadiem melalui akun Instagram resminya, Minggu (24/1/2021).
Mengenai jilbab, Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki sejarah tentang orang yang pertama mengenakan jilbab.
Peneliti Prancis, Denys Lombard menyantumkan sebuah gambar berjudul ‘an Achein woman’ dalam bukunya “Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda” (1607-1636).
Ilustrasi tersebut diambil Lombard dari naskah Peter Mundy pada tahun 1637 atau empat tahun sebelum pemerintahan Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah pada tahun 1641.
Ini artinya, perempuan Aceh sejak abad ke 17 sudah mengenal jilbab. Lagi-lagi siapa yang pertama mengenakannya pada masa itu tidak terjawab.
Namun dua abad kemudian pemakaian jilbab diperjuangkan di masyarakat Minangkabau melalui sejarah gerakan Paderi.
Wikipedia menulis Suku Minangkabau merupakan suku pertama di Indonesia yang menyuruh kaum perempuannya untuk mengenakan jilbab.
Bukti dari gerakan itu ada pada Rangkayo Rasuna Said, pahlawan nasional yang sudah mengenakan jilbab.
Selain Minangkabau, tercatat pula masyarakat Wajo Sulawesi Selatan di abad tersebut juga mewajibkan penggunaan kerudung alias jilbab.
Perintah itu dikeluarkan La Memmang To Appamadeng sebagai arung matoa (penguasa) Wajo.
Baru di abad ke-20 gerakan mengenakan jilbab semakin luas. Nyai Achmad Dahlan serta pengurus Nasyiatul Aisiyah Muhammadiyah adalah salah satu contohnya. Dalam sebuah foto mereka semua mengenakan jilbab.
Penulis G. F Pijper dalam bukunya yang berjudul Fragmenta Islamica Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX, mengungkap orang-orang Sunda yang biasa memakai kerudung putih dilipat di atas kepala.
Mereka menyebutnya dengan mihramah atau mihram yang awalnya berasal dari bahasa Arab mahramah.
Seorang perempuan bernama Opu Daeng Siradju dari Palopo juga tercatat sebagai perempuan Indonesia di abad itu yang taat mengenakan jilbab.
Perempuan yang tergolong sebagai perintis pergerakan kemerdekaan Indonesia tersebut tercatat sebagai Ketua Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada 14 Januari 1930.
Pada 1950 keturunan bangsawan dari raja-raja Gowa, Bone dan Luwu itu pernah menjadi anggota TNI dengan pangkat terakhir sebagai pembantu letnan.
Di era Orde Baru jilbab di Indonesia masuk pada masa kelamnya. Pada tahun 1983 terjadi perdebatan tentang penggunaan busana Muslim tersebut di sekolah antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Noegroho Notosoesanto. Siswi yang mengenakan jilbab tidak boleh bercampur dengan mereka yang tidak mengenakannya.
Menjelang berakhirnya Pemerintahan Soeharto mulailah komunitas berjilbab bermunculan dan pada tahun 2000 -an ramai-ramai perempuan menyebut pakaian itu sebagai hijab.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/hr-rasuna-said.jpg)