Berita Internasional

Demonstran Thailand Semakin Berani, Geruduk Markas Tentara Resimen Infanteri

Aktivis pro-demokrasi Thailand kembali turun ke jalan melanjutkan aksi protesnya pada Minggu (29/11/2020).

(AP Photo/Sakchai Lalit)
Polisi anti-huruhara berjaga saat demonstran menggelar unjuk rasa di luar markas Resimen Infantri ke-11, unit keamanan istana di bawah komando langsung Raja Thailand, Minggu (29/11/2020). Para pengunjuk rasa pro-demokrasi melanjutkan aksi protes mereka yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Para pengunjuk rasa pro-demokrasi melanjutkan aksi protes mereka yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Akibatnya Polisi anti-huruhara berjaga saat demonstran menggelar unjuk rasa di luar markas Resimen Infantri ke-11, unit keamanan istana di bawah komando langsung Raja Thailand, Minggu (29/11/2020).

Aktivis pro-demokrasi Thailand kembali turun ke jalan melanjutkan aksi protesnya pada Minggu (29/11/2020).

Pada aksi protes tersebut, mereka menggeruduk markas tentara Resimen Infanteri ke-11, yang terkait erat dengan Istana Kerajaan Thailand.

Polisi anti-huruhara berjaga saat demonstran menggelar unjuk rasa di luar <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/markas-resimen-infantri-ke-11' title='markas Resimen Infantri ke-11'>markas Resimen Infantri ke-11</a>, unit keamanan istana di bawah komando langsung Raja Thailand, Minggu (29/11/2020). Para pengunjuk rasa pro-demokrasi melanjutkan aksi protes mereka yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Awalnya, aksi protes tersebut diikuti oleh 800 orang. Setelah para pemimpin protes memberikan pidato, jumlah pengunjuk rasa menjadi sekitar 1.000 orang.

Beberapa pengunjuk rasa yang di barisan paling depan mencoba menyingkirkan dua bus yang digunakan untuk memblokir pintu masuk ke markas tentara tersebut dan menyingkirkan kawat berduri.

Sepasukan polisi anti-huruhara berbaris berdiri di depan gerbang markas tentara.

Hingga aksi protes rampung, tidak ada aksi kekerasan yang dilaporkan terjadi.

Para demonstran yakin bahwa tentara telah merusak demokrasi di Thailand dan bahwa Raja Maha Vajiralongkorn memiliki terlalu banyak kekuasaan dan pengaruh.

Para demonstran yang melangsungkan aksi selama berbulan-bulan itu juga menuntut reformasi untuk membuat monarki lebih bertanggung jawab, menghadapi tabu lama bahwa mengkritik kerajaan diancam hukuman penjara.

“Rakyat seharusnya boleh mengkritik raja. Rakyat seharusnya boleh memeriksa apa yang dia (raja) lakukan. Dengan cara ini, rakyat akan lebih menghormati dan mencintainya,” kata salah satu aktivis, Somyot Pruksakasemsuk.

Somyot pernah mendekam di balik jeruju penjara selama tujuh tahun penjara karena mencemarkan nama baik monarki.

Baca juga: Soroti Perkembangan Penanganan Covid-19 Terbaru, Presiden Jokowi: Ini Semuanya Memburuk Semuanya

Selain itu, dia juga menghadapi tuntutan pidana sehubungan dengan aksi protes tahun ini sebagaimana dilansir dari Associated Press.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved