Breaking News:

MTPJ 29 NOVEMBER

“Kedatangan Raja Damai Mematahkan Penindasan”

Mematahkan dari kata dasar patah berarti membuat patah. Penindasan adalah menindih (mengimpit, menekan) kuat-kuat.

Istimewa
Renungan Harian Kristen 

MTPJ 29 NOVEMBER – 5 DESEMBER 2020 (Minggu Adven 1)
TEMA BULANAN : “Memelihara Keutuhan Ciptaan”
TEMA MINGGUAN : “Kedatangan Raja Damai Mematahkan Penindasan”
Bacaan Alkitab : Yesaya 8:23-9:6

Renungan
Renungan (WWW.THOUGHTCO.COM)

ALASAN PEMILIHAN TEMA
Mematahkan dari kata dasar patah berarti membuat patah. Penindasan adalah menindih (mengimpit, menekan) kuat-kuat. Juga berarti memperlakukan sewenang-wenang, penggunaan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk menya-lahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Prilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial dan fisik. Penindasan dapat saja terus berlangsung sepanjang tidak ada kesadaran dalam kehidupan manusia.

Adven (latin: adventus) berarti kedatangan. Masa Adven disebut pula masa penantian. Orang yang menanti adalah orang yang mengarahkan hati ke depan, kepada apa yang diharapkan bakal terjadi, sehubungan dengan menantikan kedatangan Sang Mesias, Raja Damai. Biasanya orang hanya memahami dan menghayati makna Adven, jika ia menyadari nasib buruk yang membelitnya, dan kesuraman masa depan yang dihadapinya. Saat ini tindakan pemerasan, penindasan, ketidakadilan dan ketidakbenaran bagi kaum yang lemah, miskin dan melarat terus terjadi.

Realita masa kini manusia hidup di bumi ciptaan Tuhan selalu mendambakan keutuhan dan kedamaian, namun yang terjadi umat terhimpit (tertindih, tertekan) dengan beban berat. Dengan terhimpitnya, umat ingin keluar dari kuk penderitaan, sambil membutuhkan sang Raja Damai yang dapat mematahkan penindasan terhadap umat yang pertama melihat dan merasakan kemuliaan di tengah kesuraman dikaitkan dengan berita tanda Imanuel (Allah menyertai kita). Oleh karena itu tema minggu ini adalah “Kedatangan Raja Damai Mematahkan Penindasan”.

ilustrasi
ilustrasi ()

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Yesaya (Ibr. yesya’yahu) berarti “Allah adalah kese-lamatan. Nabi Yesaya tampil pertama kalinya pada tahun 740 sM kerajaan Israel di bagian Utara dengan ibukota Samaria masih berdiri tegak dengan mengalami masa kejayaan, kemakmuran dan kesejahteraan. Tetapi kesejahteraan disertai kemerosotan akhlak; ketidakadilan dan pemerasan dari pihak kalangan atas terhadap rakyat kecil merajalela. Betapa hebat, mengerikan dan besarnya malapetaka daerah itu yang telah mengalami kerusakan dari panglima Asyur, Tiglath-Pileser, pada perang Syro Efraim (734-733 sM).

Yehuda mengalami kekalahan militer dengan pembumi-hangusan kota dan desa di tanah Yudea. Sehingga Daerah itu dijadikan bagian wilayah kerajaan Asyur dan penghuninya diangkut ke negeri asing (2 Raj.15:29; Yes. 7:23-25; 8:21-22). Walau pun umat Tuhan menjalani hukuman, namun tetap ada “sisa Israel” yang selamat dan bertobat. Ini menjadi pangkal dan titik tolak suatu umat Allah yang baru, umat yang kudus dan setia. Wilayah Asyur termasuk “jalan ke laut” ialah jalan dari Damsyik ke Yordan, dari Damsyik ke barat, ke pantai laut Tengah.

Berita tentang nubuatan ancaman dan penghukuman yang akan didatangkan Allah yang kudus, diubah dengan sukacita, karena itu seluruh umat merasakan sorak-sorai, kesukaan, digambarkan dengan pesta panen yang besar dan pesta kemenangan perang yang gemilang (9:1,2). Yesaya dengan tegas dan keras menegur para pejabat Israel dan Yehuda, yakni Ahas raja Yehuda, agar tidak mengharapkan bantuan dari Asyur namun ia menolak pesan Tuhan. Allah dalam kasih-Nya tidak membiarkan umat-Nya menderita, bahkan Ia menyatakan kepada Ahas suatu tanda jaminan bagi umat Tuhan, yaitu tanda kemenangan; bahwa akan datang Raja Damai di kota Daud; seorang anak dara akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama “Imanuel” (“Allah menyertai umat”).

Baca juga: Ingin Disegani di Dunia, 9 Negara ini Bangun Kekuatan Angkatan Laut, Walau Tak Punya Wilayah Laut

Baca juga: Anggota DPR: Kelompok Teroris Harus Ditumpas Mumpung Kekuatannya Masih Kecil

Baca juga: Berikan Wejangan, Rachmat Gobel Minta Tim Pemenangan Solid Kawal SGR-NAP

Allah membebaskan bangsa itu dari kuk penindasan bangsa Asyur. Kuk yang berat dan menekan di atas pundak mereka akan dipatahkan dengan cara yang ajaib, “seperti pada hari kekalahan Midian” pada jaman Gideon (Hak. 6:9).

Orang-orang Midian dengan tentaranya yang besar menindas dan merampok Israel yang tidak berdaya. Sekalipun tentaranya yang kecil jumlahnya, dengan pertolongan Tuhan bangsa Israel dapat menghadapi dan melawan mereka. Hal tersebut menegaskan bahwa Sang Raja damai akan meniadakan penjajahan yang digambarkan melalui 3 kata: kuk, gandar dan tongkat (ayat 3). Umat tidak direndahkan lagi, tapi akan dilepaskan dari gandar (beban pikulan) dan belenggu penindasan.

Tuhan menetapkan bahwa tidak akan ada lagi musuh, segala alat perang akan dibakar habis, sepatu tentara yang berderap-derap untuk maju berperang, serta jubah perang yang berlumuran darah tidak akan ada lagi soal perang sebab Tuhan yang tampil sebagai pemenang. (ayat 4). Kini Tuhan menunjukkan keajaiban kuasa-Nya melalui nubuatan nabi Yesaya untuk mempersiapkan umat bertemu dengan penyelamat yaitu Imanuel (band. 7:14), Puncaknya diberitakan tentang kelahiran seorang anak laki-laki “yang diberikan oleh Tuhan kepada kita”, sebagai Pelepas yang akan mengerjakan keselamatan bagi manusia. Ada empat nama (gelar) yang diberikan, yaitu :Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Kehadiran Allah menjadi jawaban bagi Israel, besar kekuasaannya dan damai sejahtera tidak pernah berkesudahan di atas tahta Daud: Allah berjanji bahwa raja Israel akan selalu berasal dari keturunan Daud (ay.5-6).

Ilustrasi.
Ilustrasi. (SHUTTERSTOCK)
Halaman
12
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved