Breaking News:

Opini

Semiotika ala Kapolri: Kapolda Metro Baru Adalah yang Dulu Menangani Kasus Chat Mesum

Kok perasaan jadi geli ya. Pak Kapolri bisa saja, kok menunjuk Kapolda Metro Jaya yang baru adalah polisi yang dulu menangani

DOK KOMPAS.COM DAN KABAR POLRI
Irjen Nana Sudjana dan Irjen Muhammad Fadil Imran. Kapolda Metro Jaya dicopot gegara Habib Rizieq Shihab 

Oleh: Andre Vincent Wenas

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kok perasaan jadi geli ya. Pak Kapolri bisa saja, kok menunjuk Kapolda Metro Jaya yang baru adalah polisi yang dulu menangani kasus chat mesum.

Kapolri Jenderal Idham Aziz
Kapolri Jenderal Idham Aziz (Korps Brimob Polri)

gak ada yang lainnya Pak? …ah sudahlah. Gak apa-apa juga sih, lagi pula khan ini mungkin hanya kebetulan toh. Pak Irjen Pol Fadil Imran memang punya reputasi yang mumpuni dan pantas untuk posisinya yang baru itu.

Cuma saja dari otak-atik-otak soal semiotika, ilmu tentang simbol, atawa tanda-tanda kok rada gimana gitu.

Menyusul dilabraknya protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah oleh sekelompok orang yang sama sekali tidak peduli dan juga sama sekali tidak bertanggungjawab di wilayah hukum Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Barat, maka kedua Kapolda itu pun dicopot.

Ya dicopot lantaran katanya tidak mampu menjalankan perintah atasan untuk tegas dalam menegakkan protokol kesehatan di masa pandemi ini di dalam wilayah hukumnya masing-masing.

Baca juga: RENUNGAN PAGI - Kasih Sejati Disertai Perbuatan

Baca juga: RHK - Teladan Kristus

Baca juga: Pengamat: Panglima TNI Mengisyaratkan Siap Tempur, Tinggal Tunjukkan Pembuktian

 

Kita tentu mengapresiasi kebijakan Kapolri, agar ini juga menjadi signal penting bahwa nadi otoritas negara masih berdenyut. Tanda-tanda masih ada kehidupan, sehingga masih ada harapan. Alhamdulilah wa syukurilah.

Kebijakan Kapolri ini pun jadi signal kuat pula bagi para Kapolda, dan semua jajaran penegak Kamtibmas di seluruh Indonesia. Tak boleh ciut nyalinya menghadapi preman-preman (berjubah) yang semena-mena menabrak aturan dan telah menghina institusi pemerintahan yang sah.

Apalagi kemarin Panglima TNI pun sudah angkat bicara dengan sangat lantang, bahwa siapa saja yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa akan berhadapan dengan TNI.

Rakyat tidak boleh dibiarkan hidup dalam suasana resah lantaran teror psikis dari sekelompok bajingan yang melakukan agitasi dan provokasi dengan angkuh dan sok jagoan. Negara tidak boleh kalah dari premanisme.

Halaman
12
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved