Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Kekayaan Dimensi Cinta dalam Kumpulan Puisi “Ia Dinamai Perempuan” Karya Ita Siregar

Singkat kata, kalau surga ada di bawah kaki sang perempuan, itulah keabadian cinta yang hendak diungkap dan ditegaskan Ita.

Editor: maximus conterius
Dokumentasi Benni E Matindas
Buku kumpulan puisi "Ia Dinamai Perempuan" karya Ita Siregar. 

Oleh:
Stefi Rengkuan
Anggota Presidium Ikatan Sarjana Katolik (Iska)
Wakil Bendahara Perhimpunan Intelektual Kawanua Global (PIKG)
Anggota Pengurus Pusat Ikatan Alumni STFSP

BARU saja saya ikut sore ini bedah buku “Ia Dinamai Perempuan”, kumpulan puisi karya Ita Siregar dalam webinar Zoom atas undangan dari salah satu penanggapnya sendiri, senior Benni E Matindas (BEM).

Bedah buku ini adalah salah satu mata acara dalam Festival Sastra & Rupa Kristiani tahun 2020 ini. Panitianya selalu baru. Perintisnya tokoh-tokoh besar seperti Remy Silado, Edi Soetriyono, dan lain-lain. Menurut info yang saya dapatkan ajang Kristiani ini sudah cukup lama. Dua tahun lalu Benni E Matindas, Romo Mudji Soetrisno, Prof Riris Sarumpaet yang menjadi pembahas puisi seperti acara kali ini. Jelas yang dulu secara luring, sekarang daring karena masih dalam normal baru masa pandemi Covid-19.

Saya terlambat masuk dan masih sempat mengikuti bagian akhir uraian penanggap ahli. BEM merujuk seorang filsuf yang berbicara tentang cinta dan subyek. Julia Kristeva, filsuf asal Bulgaria, mungkin masih hidup. Kristeva menegaskan bahwa cinta adalah satu-satunya moyang subyek, tanpa dia setiap orang cuma jadi obyek. Dengan ungkapan lain, cinta itu tidak menjadikan manusia obyek, seolah seperti robot tanpa kebebasan. Melainkan karena cinta itu pula manusia menjadi subyek yang pada dirinya dan dengan itu bisa mencintai. Bandingkan ungkapan klasik St Agustinus dari Hippo, “Ama et fac quod vis” (Mencintailah dan lakukan segala yang kau kehendaki), karena sesungguhnya cinta itu berasal dari Tuhan bahkan Tuhan itu sendiri. Dalam aktivitas mencintai itulah maka cinta itu hadir dan menjadi nyata meresapi pertumbuhan dan arah sejati manusia. Di mana ada cinta kasih, hadirlah Tuhan!

Bila dilanjutkan dalam perspektif teologis kristiani, cinta itu sendiri sudah ada dan sudah datang dan terus mendatangi manusia, baik sebagai subyek maupun sebagai obyek cinta itu sendiri dalam segala matra kehidupan dan konteksnya, masa lalu dan masa depan.

Cinta itu abadi kekal bukan hanya dari sisi waktu tak terbatas, dia selalu hadir dari saat ke saat, tapi juga karena hakikat cinta itu adalah kesempurnaan itu sendiri. Dalam iman kristiani, cinta sudah nyata dan paripurna dalam diri Yesus Kristus, dalam peristiwa korban salib di atas Golgota.

Sudah selesai, sudah sempurna!

Cinta yang menebus seluruh umat manusia dalam keutuhan semesta ciptaan itu, menembus masa lalu, sekarang dan sampai masa akan datang, dari kekal sampai kekal.

Dialah Alfa dan Omega. Awal dan Akhir. Dialah Sang Waktu dan Sang Kasih itu sendiri yang meruang dalam peristiwa inkarnatoris yang setiap Desember dirayakan dengan penuh kebahagian dan romantis umat manusia.

Kesempurnaan itu sudah datang dalam diri Sang Penyelamat, namun mesti selalu dimohonkan kedatangannya secara eskatologis antispatif, dalam mana Ia akan menegakkan kembali cinta itu. Siapa yang tak mampu mencintai akan merasa malu dan tak berani memasuki istana cinta kekal itu.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved