Breaking News:

Tetty Pecat Kader ‘Lompat Pagar’ Dukung Olly-Steven

Aksi ‘lompat pagar’ Jimmy Rimba Rogi Cs berujung pemecatan. DPD Partai Golkar Sulawesi Utara.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie Tombeg
Tribun manado / Andrew Pattymahu
Tetty Paruntu serahkan bantuan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Aksi ‘lompat pagar’ Jimmy Rimba Rogi Cs berujung pemecatan. DPD Partai Golkar Sulawesi Utara memecat delapan kader yang membelot dan memberi dukungan ke pasangan calon lain. Stefanus Vreeke Runtu, Jimmy Rimba Rogi, Marhany Pua, Syerly Adelin Sompotan. Ragie Arther Wuwung, Helmut Hontong, Maria Hernie Pijoh dan Rinny Malonda dipecat setelah mendukung pasangan calon petahana Pilgub Sulut Olly Dondokambey-Steven Kandouw.

Baca juga: Terawan: Distribusi Dokter yang Merata Perlu Kita Maknai dengan Menengok Diri Kita Sendiri

Ketua PDP Golkar Sulut Christiany Eugenia Paruntu melalui Ketua Harian James Arthur Kojongian mengatakan, delapan kader itu tidak bisa lagi membawa nama Golkar dalam kegiatan politik. Arther Wuwung, satu dari kedelapan nama itu saat dihubungi mengatakan dia sudah pamit dari Golkar beberapa waktu lalu. "Saya sudah duluan pamit ke Ketua CEP (Tetty Paruntu) baru setelah itu saya mendukung calon yang diusung PDIP," kata dia, Selasa (10/11/2020).

Dia menegaskan, sudah tidak lagi menjadi pengurus DPD Golkar Sulut. Karena elegannya mundur dulu baru dukung calon lain. "Kalau masih pengurus Golkar terus mendukung calon lain itu berarti saya membelot dan wajib dipecat. Tapi kan saya sudah mundur duluan," ujarnya.

Juru Bicara Golkar Sulut Feryando Lamaluta, Selasa kemarin mengatakan, partai ini punya AD/ART. Dalam aturan jika ada kader yang membelot maka ada sanksi tegas berupa pemecatan kepada yang bersangkutan.

Golkar tidak main-main, apalagi saat ini partai berlambang pohon beringin itu fokus pada Pilkada Serentak 2020 dan menginginkan kesolidan semua kader. "Kami akan siapkan sanksi," kata dia.

Dia sudah mendengar kader yang membelot yakni pengurus kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Yoyo, sapaanya mengatakan, sudah diberitahu oleh Ketua DPD II Partai Golkar Sangihe. "Kalau dari Bolsel (kader yang membelot) saya belum tahu. Saya cari informasi dulu ke pengurus partai," kata mantan jurnalis itu.

Dia mengatakan, menghormati apapun keputusan dari kader yang mendukung paslon lain. Bagaimanapun itu hak politik mereka. Yoyo meminta seluruh kader di Nyiur Melambai supaya tetap solid memenangkan Pilkada Serentak baik di Pilgub Sulut maupun di tujuh kabupaten kota. "Golkar sangat solid dan tak terpengaruh dengan isu apapun," pungkasnya.

Makin banyak kader Golkar 'putar haluan' menyatakan dukungan ke Olly-Steven. Olly pun menyambut hangat dengan tangan terbukan dukungan para pentolan Golkar. Ia menganggap sikap itu sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan Sulut. "Semua elite politik di Sulut mulai solid, dalam rangka mereka sangat peduli terhadap masyarakat Sulut untuk membuat Sulut lebih lebih maju," kata Olly.

Baca juga: Pernah Ditimpa Kasus Hukum, Rizieq Shihab Kini Sudah di Indonesia, Bagaimana Kelanjutan Kasusnya?

Daftar kader membelot cukup panjang. Semisal Marhany Pua. Sebelum merapat ke Olly-Steven, Marhany tercatat pernah menjabat Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Sulut. Marhany tak lama di Golkar setelah pecah kongsi dengan CEP.

Sejumlah pentolan lainnya, misalnya Jimmy Rimba Rogi dan Stevanus Vreeke Runtu, keduanya mantan Ketua DPD I Golkar Sulut. Lalu ada Wakil Wali Kota Tomohon Syerly Adelyn Sompotan, dan Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong.

Sejumlah nama lainnya, Ruben Saerang, Firasat Mokodompit, Ismail Moo, Rio Sumual, Hangky Gerungan, Elisabeth Lihiang, Herry Kereh dan Arthur Wuwung. Terbaru, kader Partai Golkar Sangihe hengkang ke PDIP.

Mantan Ketua Golkar Manganitu Selatan Sinadia Bawembang dan Wakil Bendahara Partai Golkar Sangihe Meyti Pontoh mengikuti jejak Helmud Hontong, Wakil Bupati Sangihe. "Kemenangan Olly-Steven adalah sesuatu yang nyata. Karena program mereka jelas dan sudah dilakukan bukan baru janji," ujar Bawembang di sela kampanye terbatas Olly–Steven di Kecamatan Manganitu, Senin (9/11/2020).

Ia membeber Kecamatan Mangsel terdiri dari 13 kampung serta 24 tempat pengumutan suara (TPS). Total pemilih berjumlah 8.701. "Saya menyatakan bahwa hanya tersisa 2 kampung milik paslon lain, sisanya milik Olly-Steven," sebut dia.

Ia menegaskan dukungannya terhadap Olly-Steven dengan kesungguhan. "Pada waktu saya keluar dari Golkar 2 September, seluruh pengurus dari kampung menanyakan keputusan saya. Maka saya katakan, inilah aku, utuslah aku. Sekali layar terkebang, surut kita berpantang," ungkapnya.

Di hadapan Olly–Steven, ia menyampaikan salam dari masyarakat Manganitu Selatan. "Pesannya kami berterima kasih jalan sementara dikerjakan. Kami sangat bersyukur. Dulunya tidak pernah ada bendera PDIP berkibar di Mangsel, sekarang silahkan jalan. Dari Laine sampai Lapango di tempat saya tinggal, tidak ada satu pun bendera Golkar," ungkapnya.

Meyti Pontoh, juga memohon Olly selaku Ketua DPD PDIP Sulut untuk menerimanya bergabung dalam pemenangan Olly-Steven. Mantan pengurus Golkar Kecamatan Tabukan Selatan Tenggara (Tabselteng) yang pada saat itu mengenakan jaket beringin, meminta Olly menggantinya dengan jaket PDIP. "Dengan hati nurani saya mendukung Olly – Steven. Saya akan terus berjuang untuk PDIP. Tolong terima saya. Merdeka,” tukasnya.

Baik Sinadia maupun Meyti mendapatkan jaket PDIP dan dikenakan langsung Olly. Sejumlah alasan diungkap para tokoh. Ada karena perseteruan internal, kecewa atas putusan partai. Sosok populis dan merakyat Helmud Hontong, misalnya. Ia pecah kongsi dengan Bupati Sangihe, Jabes Gaghana yang juga Ketua DPD II Golkar Sangihe, Helmud memutuskan berseberangan dengan kebijakan Golkar pada pilgub.

"Saya sadar keputusan politik mendukung Olly-Steven pada pilgub 2020 ini ada konsekuensi yang harus dibayar, namun hal itu sudah saya pikir sejak awal," kata Helmud

Satu hal mendasar kemampuan Olly bersinergis dengan pemerintah pusat, banyak mega proyek yang masuk ke Sulut. "Tidak dapat dipungkiri, kedekatan dan hubungan baik pak Olly dengan presiden dan para menteri telah banyak membawa kemajuan yang signifikan bagi Sulut, bukan hanya janji hampa," kata Helmud

Sejak hengkanva ke rumah perjuangan Olly-Steven, maka ia telah melakukan konsolidasi dengan mesin partai PDIP dan partai pengusung Olly-Steven guna menyatukan gerak perjuangan.

"Kehadiran Pak Olly dan Pak Steven bersama istri dan tim pemenangan pada hari ulang tahun saya adalah kado spesial sepanjang hidup saya, untuk itu saya bersama keluarga dan simpatisan fanatik saya akan memberikan kado spesial bagi Olly-Steven pada tangg 9 Desember 2020 mendatang," kata Helmud. 

Kader Lompat Pagar:

* Jimmy Rimba Rogi

* Syerly Adelyn Sompotan

* Helmud Hontong

* Hamdi Paputungan

* Ruben Saerang

* Firasat Mokodompit

* Ismail Moo

* Rio Sumual

* Hangky Gerungan

* Elisabeth Lihiang

* Herry Kereh

* Marhany Pua

* Arthur Wuwung

* Jeferson Rumayar

Kekuatan Golkar Tak Lagi Menggigit

Jimmy Rimba Rogi terus bergerak memenangkan petahana Olly Dondokambey-Steven Kandouw di Pilgub Sulut sepaket Andrei Angouw-Richard Sualang di Pilkada Manado. Imba bahkan menyiapkan Sekretariat Tim Pemenangan Militan Imba.

Niatnya sebenarnya ingin juga mewujudkan Kota Manado hebat, namun ia harus menelan pil pahit. Golkar yang sudah lama dinaunginya ternyata tak mengakomodirnya untuk diusung sebagai calon wali kota dan lebih memilih figur lain.

Imba merasa dikhianati, ia mengaku kecewa. "Kenapa dukung OD-SK dan AA-RS? Memang harus dukung orang menang dong, masa mau dukung orang kalah, " ujar Imba penuh semangat. Golkar tak menghendakinya, maka ia pun kukuh mencari jalan lain. "Ketemu ternyata bersama Olly," ujar mantan Ketua DPD I Golkar Sulut ini.

Baca juga: Debat Pilkada Manado, Richard Sualang Sindir Ketimpangan Kota Manado

Dalam politik, kata Imba, tak ada yang mungkin. Begitulah Imba mengatakan, politik itu dinamis, jadi orang politik selama masih bernafas pasti mencari kepuasan, politik ibarat sebuah seni. "Kalau seni itu kan harus memuaskan. Orang seni cari yang bagus supaya puas," ujarnya.

Syerly Adelyn Sompotan (SAS) juga 'korban'. Berstatus incumbent dan punya elektabilitas tinggi tak jadi jaminan diusung menjadi calon wali kota Tomohon. Golkar mengusung Jilly Gabriela Eman, putri Wali Kota Jimmy Eman dan Virgie Baker politisi Partai Nasdem.

SAS kecewa dan memilih hengkang. Ia menabuh genderang perang ke Partai Golkar dengan menjadi Ketua Tim Kampanye Caroll Senduk-Wenny Lumentut seteru Golkar di Pilkada Tomohon

Stevanus Vreeke Runtu (SVR) juga ikut bergerak menjadi seteru Partai Golkar. Ia membentuk Relawan Pemengan Olly-Steven, SaVeRo. SVR mengatakan, ketulusan seorang pemimpin tentunya harus dihargai, dan ia pun yakin rakyat akan tulus serta bersuka cita mendukung pemimpin yang bekerja sebaik-baiknya.

"Saya tahu betul program-program Pak Olly dan Pak Steven, karena 5 tahun saya bekerja bersama dalam Kemitraan di DPRD. Banyak program yang dilakukan yang betul-betul untuk kepentingan rakyat, untuk kesejahteraan rakyat," jelasnya.

Pengamat politik Prof Welly Areros menilai Golkar wajib kerja keras. Berpindahnya sejumlah kader membuat kekuatan tentu Golkar sedikit goyah. "Memang dengan melihat sejumlah kader membelot, tentu ini menjadi pukulan bagi Golkar. Apalagi kader yang berpindah mempunyai basis masa yang bakal mempengaruhi raihan suara calon yang diusung Golkar," katanya.

Untuk itu, akademisi Unsrat ini menilai dengan melihat situasi yang ada sekarang tidak benar kalau CEP-Sehan langsung mengklaim bahwa di Bolaang Mongondow Raya (BMR) mereka mampu meraut 70 persen.

"Jika ada klaim seperti itu sangat tidak mungkin. Sebab kalau 10 tahun lalu kekuatan Golkar itu hampir pasti menguasai suara mayoritas. Karena saat Golkar punya tokoh yang hebat.Tapi sekarang di Pilkada 2020 ini sudah tidak ada lagi kader Golkar yang bertahan di Golkar.

Mereka telah menyatakan dukungan kepada parpol yang lain sehingga tidak benar kalau CEP-Sehan bisa meraih suara mayoritas di BMR," kata Areros. Selain itu, dia menyebut untuk Tomohon lebih parah lagi kehebatan Golkar sesudah dua periode menjabat Jimmy Eman.

"Petahana yang mencalonkan anaknya yang untuk segi elektabilitas tidak mengigit lagi.Golkar di Tomohon bakal mampu diambil alih oleh PDIP," terangnya lagi.

Adapun untuk kekuatan Golkar secara keselurahan akan sangat terganggu. Dikarenkan kader yang membesarkan Partai Golkar di Sulut memilih mendukung calon dari partai lain. "Ini yang membuat kekuatan Golkar tidak mengigit lagi. Artinya kecil kemungkinan memang di Tomohon, begitu juga di Kabupaten Minsel posisi Golkar juga sudah tidak sehebat di masa CEP menjadi Bupati Minsel," kata Areros.

"Sehingga kelihatannya Golkar menghadapi lawan berat dari PDIP. Semua ini penyebabnya pada  persoalan internal Golkar. Oleh karena itu perlu ekstra kerja keras pasangan CEP-Sehan untuk memenangkan Pilkada Serentak 9 Desember 2020," tandasnya. 

Pengamat Politik Sulut, Stefanus Sampe, Ph.D
Pengamat Politik Sulut, Stefanus Sampe, Ph.D (Istimewa)

Stefanus Sampe PhD
Analis Politik dari Unsrat

Keinginan dari Pemilih

Lebih kepada ketidakpuasan kader terhadap kebijakan partai. Ketidakpuasan ini sudah semakin besar dan tidak dapat diselesaikan secara internal yang kemudian berujung pada pengunduran diri kader yang merasa tidak lagi terakomodir kepentingan mereka oleh parpol. Akibatnya mereka beralih ke parpol lain.

Memang perubahan ini merupakan dinamika yang biasa terjadi pada masa pemilu. Memang di luar masa pemilu dinamika ini juga terjadi tetapi pada masa pemilu hal ini terjadi lebih cepat.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab, di antaranya adalah mekanisme kampanye paslon, ketidakpuasan pendukung dan sebagainya. Namun yang paling berpengaruh dalam perubahan ini adalah keinginan dari pemilih untuk memilih calon yang dianggap memiliki peluang yang besar untuk menang pilkada.

Di sini, pemilih merasa pilihan mereka sangat penting dan tidak boleh disia-siakan hanya untuk memilih calon yang peluang menangnya kecil. Mereka lebih memilih calon yang paling diunggulkan untuk menang. Nah, dari survei tersebut disertai adanya faktor ketidakpuasan kebijakan dari partai membuat sejumlah kader dan tokoh partai mengakomodir keinginan dari pemilih tersebut.

Makanya sebelum hari pencoblosan mereka segera mengoreksi dan memastikan pilihan mereka. Inilah yang menyebabkan "quick shifting" menjelang hari pencoblosan. (dru/ryo/hem/mjr)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved