Pilkada 2020

Politik Uang Capai 1 Juta Per Kepala, Jeirry : Calon Miskin Gagasan

Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow menyebut terdapat kecendrungan nilai politik uang akan makin besar.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
tribunmanado.co.id/Arthur Rompis
Rapat Koordinasi Kampung Pengawasan Anti Politik Uang Pada Pilkada Serentak Tahun 2020 di Desa Mongkoinit, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolmong, Rabu (11/11/2020) siang. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Politik uang ditengarai masih akan mewarnai Pilkada Sulut di semua arah pada 9 Desember 2020 nanti.

Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow menyebut terdapat kecendrungan nilai politik uang akan makin besar.

"Saya diskusi dengan teman -teman. Katanya di suatu daerah di Sulut politik uangnya mencapai 1 juta per kepala," kata dia dalam Rapat Koordinasi Kampung Pengawasan Anti Politik Uang Pada Pilkada Serentak Tahun 2020 di Desa Mongkoinit, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolmong, Rabu (11/11/2020) siang.

Menurut Jeirry, dari hasil pengamatannya, nilai politik uang terus membesar. 

Dari pada masa awal pilkada langsung berjumlah 50 ribu, kini sudah sampai sejuta per kepala.

"Ini bukan hanya di Sulut. Tapi di seluruh Indonesia. Seperti temuan kami di sejumlah daerah, nilainya 750 ribu sampai 1 juta," kata dia.

Ia mengungkap, terdapat empat faktor mengapa politik uang makin menggila.

Pertama, politik uang jadi indikator penting bagi calon untuk memenangkan kontestasi.

"Jika nilainya makin tinggi berarti upaya serius untuk mempengaruhi opini pemilih, ini berarti tidak ada pertarungan gagasan, tapi siapa yang paling banyak memberi uang," ujarnya.

Faktor kedua, ia menuturkan, rivalitas antar calon sangat ketat hingga mereka terjerumus dalam praktik yang melawan aturan.

Kurangnya gagasan yang signifikan juga jadi faktor penyebab calon memilih menggaet pemilih dengan politik uang.

"Kurangnya gagasan yang signifikan jadi penyebab memilih pendekatan politik yang pragmatis," ujar dia.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah sikap permisif masyarakat.

Alih alih memusuhi politik uang, masyarakat menganggap itu hal lumrah.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved