Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Leluhur Minahasa, Masa Lalu dan Masa Depan

Dahlan Iskan langsung mengusulkan supaya Prof Perry Rumengan mengurus gelar doktor honoris causa bagi Weliam H Boseke.

Istimewa
Suasana seminar sejarah dan budaya membahas buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa karya Weliam H Boseke diadakan oleh Tou Kawanua Surabaya di Oval Hotel Surabaya, Senin (9/11/2020). 

Oleh:
Stefi Rengkuan
Anggota Presidium Iska
Wakil Bendahara PIKG
Anggota Pengurus Pusat Ikal STFSP

SEMINAR sejarah dan budaya membahas buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa karya Weliam H Boseke diadakan oleh Tou Kawanua Surabaya, Senin 9 November 2020. Acara berlangsung dengan baik walau dalam situasi protokol kesehatan yang ketat di Oval Hotel Surabaya. Kapasitas ruangan yang menampung 500-600 orang hanya boleh dimasuki 50 peserta (sekitar 10 persen kapasitas).

Acara dibuka dengan doa pembukaan dan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dengan sikap sempurna, lalu langsung sambutan dari ketua Kawanua Surabaya, Noufry Rondonuwu.

Pembawa acara menyerahkan pengaturan acara kepada moderator John Puah yang langsung mengawali dengan ungkapan bahasa Jerman yang artinya "Kami Bangga sebagai Orang Jerman". Nah, kita mencari tahu leluhur dalam rangka kebanggaan identitas sebagai warga negara Indonesia, dan sebagai suku atau bangsa Minahasa sendiri yang punya kisahnya tersendiri unik sebagaimana suku bangsa-suku bangsa lainnya di Nusantara.

Ilmuwan Sejati itu Jujur

Pengantar dari Prof Dr Perry Rumengan, ahli musik sekaligus etnomusikolog langka di Indonesia, memberi penjelasan yang menekankan sisi prosedur penelitian ilmiah, karena pasalnya hal ini yang sering dipertanyakan banyak kalangan termasuk para ilmuwan. Uraian praktisi seni musik pertunjukan ini juga coba menjawab sejumlah orang yang tampak sekadar berbasa-basi memuji temuan tapi sebenarnya mempertanyakan dan menolak dari perspektif dan prasangka tuduhan tertentu yang cenderung tendensius dan naif.

Profesor musik etnis ini memberikan bingkai ilmiah temuan Boseke ini secara umum, dan secara khusus lagi dari antropologi spesial yakni etnomusikologi bukan sekadar musikologi, yang keduanya menjadi keahlian sang profesor. Ungkapan lucu gaya Manado ini mewakili dua tipe umum reaksi dan tanggapan orang terkait temuan menggemparkan in. "Di Manado kwa ada dua model bas (tukang). Noh, ada bas yang jago bastel dan ada bas yang stel jago." Ada tukang yang ahli dan ada tukang yang berlagak ahli belaka!

Seminar membahas buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa karya Weliam H Boseke.
Seminar membahas buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa karya Weliam H Boseke. (Istimewa)

Bukti Temuan dan Terbitan Buku

Setelah mantap memberi bingkai dalam bidang dan arah ilmiah temuan ini, langsung disambung oleh penulis sendiri. Boseke memulai presentasinya dengan mengajak semua warga Kawanua menyanyikan lagu Opo Wananatase, sambil ditampilkan huruf Han untuk diikuti oleh mereka yang bisa membaca huruf ideografis ini. Lalu dijelaskan arti lagu ini kata demi ungkapan dalam bahasa Han. Sungguh mengharukan saat menyanyikan apalagi setelah dijelaskan apa arti dan makna serta konteks lagu itu dalam bahasa Han.

Demikian beberapa penjelasan temuan yang lebih banyak bisa dibaca dalam buku pertama terbitan tahun 2018 (cetakan ke 1 dan ke 2) dan 2020 (cetakan ke 3) yang akan dilengkapi dalam buku kedua. Membaca buku pertama akan sangat membantu memahami buku kedua. Demikian juga membaca buku kedua akan melengkapi pemahaman di buku pertama. Bahkan masih banyak rencana buku yang spesifik membahas nanti bagian-bagian tertentu terkait temuan ini.

Halaman
123
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved