Penanganan Covid

Bepergian Naik Pesawat Terbang saat Pandemi Covid-19? Simak Panduannya!

Menjelang masuk ke Pintu 5, saya melihat marka di lantai, tanda tempat orang berdiri agar tercipta pembatasan jarak fisikal.

dok Garuda Indonesia
Maskapai nasional Garuda Indonesia pada hari ini, Kamis (01/10) bertempat di Hangar 2 GMF AeroAsia secara resmi meluncurkan livery khusus yang menampilkan visual masker pada bagian depan (hidung) pesawat Airbus A330-900 Neo yang merupakan livery masker pesawat pertama yang ada di Indonesia. 

Ada sekitar 6 petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang bertugas pada pagi itu. Mereka duduk di belakang meja yang memiliki partisi dari material plexiglass.

Di depan meja itu dipasang pita-pita pembatas, supaya orang tidak saling serobot menyerahkan dokumen syarat perjalanan.

Tampak seorang petugas keamanan bandara mengatur jarak antar-orang yang akan melakukan validasi.

Petugas itu memeriksa suhu para calon penumpang, dan mengingatkan mereka agar membersihkan tangan dengan cairan hand sanitizer.

Di pintu masuk tempat antre itu memang terpasang alat dispenser hand sanitizer, namun kali ini benda itu tak menarik perhatian.

Saya sudah akan berjalan bergegas menuju meja, namun seorang petugas mengingatkan saya untuk membersihkan tangan dengan hand sanitizer.

Di sepanjang jalur menuju meja pemeriksaan KKP, saya melihat marka di lantai untuk mengingatkan jarak antar-pengantre.

Masalahnya, meski pun marka dan rambu sudah dipasang namun kedisiplinan penerapannya kembali kepada manusia yang menjalankan.

Saya sudah berusaha menjaga jarak dengan orang di depan, namun ada seseorang, yang mungkin waktu penerbangannya sudah mepet sementara dia belum check-in, menyerobot tepat di ujung antrean

Syarat perjalanan yang akan saya gunakan adalah hasil rapid test, yang tentu saja berbunyi non-reaktif untuk IgG dan IgM.

Untuk memvalidasi surat keterangan itu, calon penumpang harus menyerahkan kartu identitas yang saat melakukan tes. Karena saya menggunakan KTP, maka saya juga menyerahkan KTP saya.

Petugas KKP yang melayani saya memeriksa dokumen saya dengan cepat, dan memberikan validasi.

Membuat eHAC

Sebelum saya meninggalkan mejanya, dia mengatakan agar saya mengunduh aplikasi eHAC, atau Indonesia Health Alert Card, sambil menunjuk sebuah banner yang menampilkancara mengunduh aplikasi eHAC, cara mendaftar, dan cara mengisi formulir laporan rencana perjalanan.

Informasi yang wajib dilaporkan adalah kota keberangkatan, tanggal keberangkatan, alamat menginap di destinasi, nomor telepon saya, nomor penerbangan, dan nomor tempat duduk.

Informasi itu akan digunakan untuk melacak orang-orang yang berada di dekat saya, andaikata saya ternyata mengidap Covid-19.

Mengunduh aplikasinya sih mudah, namun untuk mengisi eHAC-nya yang bikin bingung. Terutama untuk menemukan formulir yang harus diisi.

Untung saya datang jauh lebih awal dari waktu keberangkatan pesawat, sehingga tidak diburu-buru waktu untuk segera naik ke pesawat.

Setelah eHAC sudah terisi dan diterima, langkah berikutnya adalah check-in.

Nah itulah salah satu perubahan penting untuk proses keberangkatan penumpang pesawat udara.

Kalau dulu calon penumpang bisa langsung check-in di bandara, kini dia harus melakukan validasi dokumen syarat bepergian dan mengisi eHAC terlebih dahulu sebelum mendaftar ke bagian penerimaan penumpang.

Pasalnya petugas check-in akan meminta calon penumpang melampirkan hasil rapid test atau tes PCR, selain kode pemesanan tiket dan KTP.

Jika petugas check-in tak melihat cap validasi dari KKP, calon penumpang akan ditolak check-in saat itu dan diarahkan untuk melakukan validasi.

Masyarakat yang akan bepergian harus mengisi Health Alert Card (HAC). Pengisian bisa dilakukan lewat aplikasi digital, yang sering disebut eHAC. Petujuk cara mengisi eHAC dipasang di dekat konter validasi surat keterangan bebas Covid-19. (Warta Kota/AC Pingkan)

Check-in

Untuk keberangkatan ke Bali, saya menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

Konter check-in Garuda kini memiliki partisi dari flexiglass, yang gunanya menghalangi droplet dari kedua belah pihak.

Dengan begitu salah satu kemungkinan penularan Covid-19 sudah dieliminir.

Selain menunjukkan tiket digital di layar ponsel pintar saya, menyerahkan hasil rapid test dan KTP. Terlihat petugas itu mensterilkan kedua benda itu dengan lampu ultra violet.

Ketika proses check-in selesai, dan petugas tersebut menyerahkan KTP, hasil rapid test, dan boarding pass, dia menyarankan saya membersihkan tangan dengan hand sanitizer, sebab selama proses check-in mungkin tanpa disadari tangan saya menyentuh konter.

Imbauan itu adalah tindakan jaga-jaga, mengingat virus corona 2 ini memang degil banget dan karakter aslinya belum semuanya ketahuan oleh para ahli epidemiologi.

Periksa suhu dan  instruksi membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer kembali saya jumpai saat pemeriksaan barang bawaan kabin, dan di boarding lounge sebelum masuk ke pesawat.

Rasanya tangan ini jadi licin karena bolak-balik diusapi hand sanitizer.

Namun itu adalah kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan tertular Covid-19.

Artikel ini telah tayang di Tribunwartakotatravel.com dengan judul Inilah Proses Bepergian dengan Pesawat Udara di Masa Pandemi Covid-19

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved