Terkini Nasional
Terawan: Rumah Sakit Harus Mampu Mengikuti Perkembangan di Masa Pandemi Covid-19
Situasi pandemi Covid-19, rumah sakit harus siap dalam situasi apapun, hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Situasi pandemi Covid-19, rumah sakit harus siap dalam situasi apapun, hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.
Terawan menambahkan dalam menghadapi transisi menuju adaptasi kebiasaan baru yang diterapkan di lingkungan RS.
Hal itu disampaikan Terawan dalam Seminar Nasional XVII dan Seminar Tahunan XIV Patient Safery melalui siaran kanal YouTube PERSI, Jumat (30/10/2020).
"Rumah sakit harus mampu membangun budaya baru dengan melakukan perubahan pada sistem pelayanan," kata Terawan.
Menurut Terawan, RS harus mampu mengikuti perkembangan di masa pandemi Covid-19.
Terlebih, menyiapkan tuntutan perubahan budaya hidup dengan menerapkan protokol kesehatan di semua lingkungan rumah sakit.
"Seperti menerapkan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak serta mengimplementasikan pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit," jelas Terawan.
Menkes juga menyebut, pihaknya telah menunjuk sejumlah rumah sakit yang melayani pasien Covid-19.
Baik rumah sakit yang ditetapkan Kementerian Kesehatan maupun yang ditetapkan oleh gubernur masing-masing provinsi.
"Dengan meningkatnya kasus Covid-19, maka perawatan juga diberikan pula oleh rumah sakit pemerintah maupun swasta lainnya," ucap Terawan.
Karni Ilyas Singgung Menkes Terawan Tak Pernah Ngomong, Saleh Daulay
Momen tersebut terjadi dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) 'tvOne', Selasa (27/10/2020).
Karni Ilyas sindir Menteri Kesehatan RI jarang tampi dipublik dan kurang berkontribusi terhadap penangan Covid-19 di Indonesia.
Dilansir TribunWow.com, Karni Ilyas mempertanyakan keberadaan sekaligus peranan dari Terawan Agus, khususnya dalam penanganan pandemi Covid-19, termasuk yang terbaru soal pengadaan vaksin.
Momen tersebut terjadi dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) 'tvOne', Selasa (27/10/2020).
Dalam kesempatan itu, bermula ketika mantan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon menanyakan siapa yang sebenarnya memiliki tanggung jawab penuh atas pengadaan vaksin Covid-19.
Menurutnya persoalan itu harusnya tidak perlu lagi dipertanyakan, karena jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, bersama lembaga-lembaga di bawahnya.
Namun menurutnya, kondisi yang terjadi malah tidak demikian.
Sehingga yang terjadi adalah munculnya ketidakpercayaan dan kebingungan publik terhadap pemerintah.
Menurutnya, rasa ketidakpercayaan dan kebingungan dari masyarakat semakin tak terhindarkan lantaran banyak menteri-menteri yang tidak dalam bidangnya ikut bersuara.
Apalagi statement yang dikeluarkan pun berbeda-beda antara satu dengan yang lain.
Ia menegaskan bahwa dalam persoalan vaksin ini harusnya mengacu pada Perpres Nomor 99 Tahun 2020 tentang pengadaan vaksin Covid-19 yang dibebankan kepada kementerian kesehatan, bukan kementerian yang lain.
"Saya melihat ada yang tidak beres dalam proses ini. Siapa sebetulnya yang paling bertanggungjawab sih, kan mengacu juga kepada Perpres harusnya," ungkapnya.
"Tetapi semua orang ngomong, menteri investasi ngomong, menteri Airlangga ngomong, sehingga kita tidak tahu siapa yang dipegang," pungkasnya.
Mendengar penjelasan dari Fadli Zon, Karni Ilyas ikut menambahkan.
Karni Ilyas menyinggung Menkes Terawan yang disebut tidak banyak berkontribusi, bahkan bisa dikatakan juga minim tampil ke publik.
Menurunya, penampilan Terawan yang notabene merupakan menteri kesehatan justru kalah dari menteri-menteri lain yang sebenarnya di luar tanggungjawabnya langsung.
"Sementara menteri kesehatannya tidak pernah ngomong," katanya.
Menanggapi hal itu, Fadli Zon malah meminta Karni Ilyas untuk menyediakan kursi kosong seperti yang sebelumnya sudah diviralkan oleh Najwa Shihab.
"Menteri kesehatannya tidak pernah ada, mungkin nanti lain waktu Bang Karni juga sisakan kursi kosong untuk Menteri Kesehatan," saran Fadli Zon.
"Dan menurut saya ini berbahaya kalau pemerintah diatur dengan cara seperti ini," pungkasnya.
Saleh Daulay: Jangan-jangan Vaksin Politik
Anggota DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Saleh Partaonan Daulay memberikan tanggapan terkait rencana vaksinasi Covid-19 di Tanah Air.
Dilansir TribunWow.com, Saleh Daulay menilai pemerintah Indonesia terkesan terburu-buru dalam melakukan vaksinasi.
Apalagi sempat muncul kabar bahwa vaksinasi akan dipercepat menjadi November 2020 dari yang rencana pertama pada awal 2021, meski sudah dibatalkan.
Terlebih hingga saat ini, pengembangan vaksin di Indonesia masih dilakukan uji klinis tahap ketiga.
Atas dasar itu, Saleh Daulay mengaku masih belum sepenuhnya yakin dengan keberhasilan dari vaksinasi tersebut.
Hal itu diungkapkan saat menjadi narasumber dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (27/10/2020).
Dirinya lantas meminta diberikan contoh negara mana yang bisa dikatakan berhasil dalam melakukan vaksinasi Covid-19.
Menurutnya, belum ada negara yang sukses melakukan vaksinasi Covid-19, termasuk China.
Dikatakannya bahwa keberhasilan China dalam mengatasi kasus Virus Corona dirasa bukan sepenuhnya karena melakukan vaksinasi, karena memang tepat dalam melakukan sikap pencegahan di awal.
"Kalau misalnya Indonesia segera melaksanakan vaksinasi, pertanyaan saya tunjukkan dulu kepada saya negara mana di dunia ini yang sudah berhasil melakukan vaksinasi untuk rakyatnya, secara total," ujar Saleh Daulay.
"Apakah betul China sudah melakukan itu, apakah betul China berhasil memutuskan mata rantai penyebaran virus ini karena vaksin atau bukan karena dulu mereka lockdown," tanyanya.
"Jangan-jangan karena mereka lockdown penyakitnya hilang. Apakah sudah ada studi tentang itu."
Tak hanya China, Saleh Daulay juga menyinggung negara Rusia yang seperti diketahui sudah menggembor-gemborkan keberhasilannya melakukan vaksinasi.
Dirinya mencurigai kemungkinan adanya kepentingan politik saja.
"Termasuk Rusia. Rusia kan mengklaim kalau mereka sudah vaksin warganya, apakah betul?" kata Saleh Daulay.
"Jangan-jangan vaksinnya vaksin politik," tegasnya.
"Apa yang dimaksud dengan vaksin politik adalah untuk menunjukkan kalau negara saya kuat," jelasnya.
Lebih lanjut, jika memang benar Rusia telah berhasil melakukan vaksinasi, Saleh Daulay meminta kepada pemerintah Indonesia harusnya bekerja sama dengan Negeri Tirai Besi tersebut.
"Kalau memang berhasil misalnya katakanlah Rusia sudah berhasil, kenapoa kita tidak datang ke sana untuk kerja sama dengan mereka," pungkasnya.
BERITA TERKINI TRIBUNMANADO:
Baca juga: Penyanyi Ini Mengaku Mau Menangis Nggak Kuat Saat Baca Naskah Untuk Main Film Layar Lebar Pertamanya
Baca juga: Azhari Ditemukan Tewas, Tangannya Masih Menggenggam Kunci Motor, Polisi:DIpastikan Korban Pembegalan
Baca juga: Ramalan Zodiak Besok Minggu 1 November 2020, Capricorn Akan Selangkah Lebih Dekat Menuju Kesuksesan
Simak videonya mulai menit ke- 9.27
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Terawan: RS Harus Mampu Membangun Budaya Baru dengan Melakukan Perubahan pada Sistem Pelayanan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/menkes-terawan-agus-putranto-berbicara.jpg)