Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Kesejahteraan Petani Vs Daya Beli Masyarakat Kota di Era New Normal

Jika dilihat secara tahun kalender, maka inflasi Kota Manado "lebe soe". Selain deflasi sepanjang tahun 2020, trennya pun cenderung naik.

Editor: maximus conterius
Tribunmanado.co.id - Dewangga Ardhiananta
Daya beli masyarakat menurun karena dampak virus corona atau Covid-19 jelang Hari Raya Idul Fitri dirasakan oleh para pedagang di Pasar Bersehati Manado. 

Oleh:
Ahmad Yeyen Fidyani
Statistisi Pertama BPS Kota Manado

SALAH satu indikator guna mengukur kesejahteraan petani adalah dengan melihat Nilai Tukar Petani (NTP). Melalui NTP kita bisa melihat kemampuan/daya beli masyarakat tani di perdesaan. NTP yang nilainya kurang dari 100 persen memberikan arti bahwa indeks harga yang diterima petani dari hasil produksi pertaniannya lebih rendah apabila dibandingkan dengan indeks harga yang dibayarkan oleh petani untuk konsumsi rumah tangga maupun keperluan usaha pertanian berupa barang/jasa.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, NTP Sulawesi Utara secara umum kurang baik dengan menyentuh angka di bawah 100 persen. Sejak awal kemunculan Covid-19 pada awal bulan Maret hingga September lalu, NTP Sulawesi Utara secara berturut-turut: 98,85 persen, 97,79 persen, 97,85 persen, 96,52 persen, 98,12 persen, 98,27 persen, dan 97,64 persen. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada beberapa tahun sebelumnya yang bernilai antara 92-95 persen, maka nilai NTP di masa pandemi tersebut jauh lebih baik. Hal ini kontradiktif dengan beberapa indikator ekonomi lainnya yang justru mengalami trend negatif di saat pandemi Covid-19.

Salah satu indikator tersebut adalah Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi. Jika NTP menggambarkan daya beli masyarakat di perdesaan yang mayoritas merupakan petani, maka inflasi menggambarkan daya beli masyarakat secara umum di perkotaan. Dari 90 kota inflasi secara nasional, 2 di antaranya terdapat di Sulawesi Utara, yaitu Kota Manado dan Kota Kotamobagu.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Sulawesi Utara, Kota Manado selalu mengalami deflasi selama tahun 2020, termasuk saat ‘bulan-bulan’ Covid-19 pada Maret-September 2020, kecuali pada Agustus yang mengalami inflasi sebesar 0,71 persen. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Kota Manado terbilang rendah. Saat mengomentari angka inflasi nasional pada Juli 2020, Joshua Pardede seorang Ekonom Bank Permata berpendapat bahwa deflasi tersebut menunjukkan masih rendahnya daya beli masyarakat sejak dihantam pandemi Covid-19 (Kompas, 03/08/2020).

Pengaruh Covid-19 sudah terasa di Kota Manado saat awal virus tersebut masuk ke Indonesia, hal ini terlihat dari tingkat deflasi yang cukup besar pada Maret yaitu -0,90 persen. Sedangkan deflasi terkecil Kota Manado terjadi pada bulan Mei dengan menyentuh angka -0,01 persen atau hampir inflasi, karena meskipun deflasi namun terjadi kenaikan harga yang signifikan dari periode sebelumnya. Seperti diketahui bersama bahwa bulan Mei terdapat perayaan tahunan umat islam yaitu bulan Ramadhan dan Idulfitri. Namun tetap saja pengaruh Covid-19 lebih besar daripada moment tersebut, terbukti dari masih terjadinya deflasi meskipun sangat kecil.

Jika dilihat secara tahun kalender, maka inflasi Kota Manado "lebe soe". Selain deflasi sepanjang tahun 2020, trennya pun cenderung naik dari -0,09 persen pada Januari hingga -1,01 persen pada September. Dan hanya terjadi penurunan pada bulan Juni yang merupakan periode awal diterapkannya new normal, serta pada Agustus yang secara bulanan memang mengalami inflasi.

Berbeda dengan Kota Manado, Kota Kotamobagu yang baru masuk sebagai kota inflasi pada tahun 2020 ini justru mengalami inflasi sepanjang 2020 kecuali pada Mei, Juli dan September. Perbedaan yang sangat mencolok lainnya terjadi pada bulan Ramadhan dan Idulfitri yang bertepatan dengan Mei 2020. Meskipun sama-sama mengalami deflasi, namun jika Kota Manado mengalami kenaikan harga siginifikan dari deflasi -0,21 persen menjadi -0,01 persen. Kota Kotamobagu justru mengalami penurunan harga siginifikan dari inflasi 0,51 persen menjadi deflasi -0,27 persen. Perbedaan angka inflasi dari dua kota tersebut menunjukkan perbedaan antara kota inflasi di perkotaan dan perdesaan.

Selain dari besaran NTP Sulawesi Utara yang relatif tinggi, besaran inflasi Kota Kotamobagu pula memperkuat asumsi bahwa masyarakat perdesaan di Sulawesi Utara yang mayoritas merupakan petani, memiliki daya beli yang lebih baik dibandingkan masyarakat perkotaannya. Selain daya beli masyarakat, harga di perdesaan juga relatif terjaga dibandingkan dengan harga di perkotaan.

Pemberlakuan imbauan untuk stay at home guna memutus rantai penyebaran Covid-19 selama pandemi menyebabkan distribusi bahan makanan dari hulu ke hilir terhambat. Sehingga bahan makanan yang berasal dari perdesaan hanya bisa diperdagangkan atau dikonsumsi di wilayah perdesaan dan sekitarnya. Sebaliknya masyarakat di perkotaan yang biasanya memiliki konsumsi tinggi, menurun di tengah pandemi. Sesuai dengan dugaan Kepala BPS RI, Suhariyanto bahwa pergerakan inflasi yang lambat dipengaruhi oleh rendahnya konsumsi masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Pria yang biasa disapa Kecuk ini juga menambahkan bahwa rendahnya inflasi menunjukkan dua hal yaitu stabilitas harga terjaga dan daya beli masyarakat melemah (DetikFinance, 04/05/2020). Diperkuat juga oleh Peneliti Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Haryo Aswicahyono yang berpendapat bahwa pergerakan IHK yang relatif rendah diakibatkan melemahnya permintaan (daya beli) masyarakat. Penurunan daya beli tersebut tidak lepas dari terpuruknya pendapatan masyarakat khususnya yang mendapatkannya secara harian, sebagai akibat dari diterapkannya kebijakan stay at home tersebut (Kompas, 03/07/2020).

Sebenarnya berbagai upaya telah banyak dilakukan oleh pemerintah untuk membendung laju pertumbuhan Covid-19 di Indonesia. Mulai dari himbauan untuk stay at home agar bisa melaksanakan social atau physical distancing sesuai rekomendasi WHO, hingga menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa wilayah sebagai pengganti dari lockdown. Namun perkembangan kasusnya masih sangat miris. Dari semula hanya 2 orang pada awal kemunculannya pada Maret, kini sebanyak 315.714 orang dinyatakan positif Covid-19, 11.472 orang di antaranya gugur dan 240.291 orang dinyatakan sembuh (07/10/2020). Pada level Provinsi Sulawesi Utara, sudah 4.630 orang yang dinyatakan positif dengan kesembuhan sebanyak 3.766 orang dan meninggal dunia 178 orang.

Dari sisi ekonomi pun pemerintah sudah memberikan sedikit suntikan untuk mendongkrak perekonomian, mulai dari memberikan bantuan langsung tunai (BLT), subsidi listrik PLN daya 450 dan 900 Watt, atau menangguhkan cicilan kredit bank bagi masyarakat miskin terdampak Covid-19. Namun dengan melihat beberapa ulasan angka-angka di atas, kiranya masih butuh treatment dan waktu yang lebih lama untuk melihat hasilnya.

Harapannya di era new normal yang sudah berjalan empat bulan ini, kondisi kesejahteraan petani dan daya beli masyarakat pun kembali membaik. Selama era new normal, besaran NTP Sulawesi Utara sudah cukup baik, namun inflasi kedua kotanya belum memberikan kabar yang baik. Deflasi yang rendah tidak terlalu baik, meskipun inflasi yang terlalu tinggi pun tidak baik bagi perekonomian suatu daerah. Tetap stay healthy dalam membangun perekonomian Sulawesi Utara dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan saat beraktivitas di luar rumah. (*)

Baca juga: Dituduh Jadi Dalang di Sejumlah Aksi Demonstrasi, SBY: Sakit Hati Saya Pak Jokowi

Baca juga: Habib Rizieq Shihab Dikabarkan Bakal Balik Indonesia, Pimpin Revolusi Selamatkan NKRI

Baca juga: Cristiano Ronaldo Positif Covid-19, Mega Bintang Juventus Bakal Absen di Tiga Pertandingan

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved