Breaking News:

OPINI

Pesan Bung Hatta ke Sahabatnya Bung Karno

Dia meninggalkan istana wakil presiden dan pindah ke Jalan Diponegoro 57. Hatta memilih jadi rakyat biasa.

(Dokumen Intisari)
Bung Karno dan Bung Hatta membacakan teks proklamasi. 

Oleh: Ahmad M. Sewang
Guru Besar UIN Alauddin Makassar

Setelah Ir. Soekarno mengambil jalan sendiri, tidak lagi ingin mendengar nasihat, maka tepat pada 1 Desember 1956 pecahlah Dwi Tunggal yang beken itu: Soekarno-Hatta.

Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

Dia meninggalkan istana wakil presiden dan pindah ke Jalan Diponegoro 57. Hatta memilih jadi rakyat biasa.

Kembali menggantungkan hidupnya dari menulis dan mengajar. 

Dengan bermodalkan gelar sarjana dari Belanda dan doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada, Bung Hatta mengajar di universitas itu dan beberapa kampus lain. 

Menjelang akhir hidupnya, Hatta masih dikenal publik sebagai sosok sederhana.

Bahkan dia sulit membayar air PAM bulanan.

"Begitu sederhana hidup pemimpin kita pada waktu itu,” kata Ali Sadikin dalam biografinya yang ditulis Ramadhan KH.

Atas inisiatif Bang Ali, beliau mengangkatnya sebagai "Warga Kota Jakarta Utama" sehingga bebas dari pembayaran air PAM.Sejak

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved