Breaking News:

Sejarah Bangsa

Sosok Jenderal Spoor, Panglima Tentara Belanda Misi Khusus Bunuh Jenderal Sudirman, Tewas Misterius

Jenderal Spoor memiliki misi khusus didatangkan ke Indonesia untuk membunuh Panglima TNI Jenderal Besar Soedirman

Editor: Aldi Ponge
Wikipedia
Panglima Tentara Belanda di Indonesia Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor 

Pada tahun 1943, ia menjadi direktur dinas penerangan militer Belanda (NEFIS) di Australia.

Jend. Spoor meninggal tiba-tiba pada tanggal 25 Mei 1949 dan dikelilingi oleh rumor yang terkait dengan "peristiwa Letnan Muda Aernout yang melakukan penyelidikan korupsi terhadap petinggi KNIL".

Secara anumerta, ia dianugerahi Militaire Willems-Orde.

Sejak ditempatkan di Indonesia, Spoor memang mengemban misi berat yaitu mengembalikan kejayaan Belanda di Indonesia.

Tidak hanya itu, dia juga memiliki misi untuk menghabisi Tentara Republik yang saat itu dipimpin oleh Jenderal Soedirman.

Sayangnya Spoor mati muda pada usia 47 tahun.

Sampai saat ini masih belum ada yang mengetahui pasti mengenai penyebab Spoor bisa meninggal.

Ada beberapa pendapat yang berbeda tentang penyebab kematiannya.

Ada yang mengatakannya Spoor tewas karena diracun oleh Belanda sendiri, ada pula yang mengatakannya tewas karena serangan penyakit jantung.

Berdasarkan buku karangan Moor, Spoor memang disebutkan tewas usai makan siang di sebuah restoran pelabuhan perahu layar (Jachtclub) di Tanjung Priok, Jakarta, Jumat, 20 Mei 1949.

Saat itu, Spoor makan siang bersama beberapa orang ajudannya untuk merayakan kenaikan pangkatnya.

Namun, usai makan siang tersebut, Spoor mengalami serangan jantung, dan koma selama lima hari.

Akibatnya, Spoor pun meninggal pada tanggal 25 Mei 1949.

Rumor yang beredar, saat itu Spoor memang sengaja akan dienyahkan dengan memberikan racun pada makanannya.

Namun, dugaan itu sampai saat ini masih belum terungkap.

Spoor akhirnya gagal menghentikan Jenderal Soedirman dan gagal mengembalikan kejayaan Belanda di Indonesia.

Profil Jenderal Soedirman

Berbeda dengan Simon Spoor, sosok Jenderal Soedirman justru melekat erat di ingatan masyarakat Indonesia

Berikut profil Jenderal Soedirman dilansir dari Tribun Video dalam artikel 'Profil Jenderal Soedirman - Pahlawan Nasional Republik Indonesia'

Sejak kecil Raden Soedirman (selanjutnya Soedirman) lebih banyak tinggal bersama pamannya ketimbang bersama orangtuanya.

Masalah ekonomi menjadi alasan utama Soedirman tinggal bersama pamannya, Raden Cokrosunaryo yang saat itu adalah seorang camat.

Soedirman mulai mengenyam bangku sekolah ketika ia berusia 7 tahun. Ia dimasukkan ke Hollandsche Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk pribumi pada masa kolonial Belanda.

Lulus dari HIS, Soedirman kemudian pindah ke sekolah menengah milik Taman Siswa. Namun hanya satu tahun karena sekolah milik Taman Siswa itu dianggap liar oleh Belanda dan akhirnya dilarang.

Soedirman kemudian pindah ke MULO, setingkat SMP Wiworotomo.

Di Wiworotomo, Soedirman banyak belajar ilmu agama dari Raden Muhammad Kholil. Ia terkenal sangat taat beragama, bahkan teman-temannya menjulukinya sebagai “Haji”.

Ia juga aktif berorganisasi, ia menjadi salah satu pendiri organisasi kepemudaan, seperti pramuka di bawah naungan Muhammadiyah, Hisbul Wathan (HW).

Meski prestasi akademiknya biasa saja, namun Sudirman terkenal sangat disiplin, hal ini tidak lepas dari didikan sang paman.

Pernah dalam sebuah acara jambore yang diadakan oleh HW di lereng Gunung Slamet yang sangat dingin, semua peserta jambore tidak tahan dengan hawa dingin yang menyengat itu.

Semua bermalam di rumah-rumah penduduk setempat, kecuali satu orang, Soedirman.

Pada 1934, sang paman yang mengasuhnya meninggal dunia. Hal ini membuat perekonomian keluarganya semakin payah. Beruntung Soedirman tetap diizinkan sekolah di Wiworotomo sampai ia tamat pada 1935 tanpa membayar tagihan sekolah.

Lulus dari MULO Wiworotomo, Soedirman kemudian melanjutkan ke Kweekschool, sekolah calon guru milik Muhammadiyah di Solo.

Namun karena kendala biaya, ia hanya bertahan setahun dan kemudian pulang ke Cilacap, Jawa Tengah.

Pulang ke Cilacap, Soedirman menjadi guru di HIS Muhammadiyah sekaligus menjadi anggota organisasi tersebut. Ia kemudian diangkat menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut.

Pada 1943, Soedirman menjalani pendidikan militer Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor yang diselenggarakan oleh Jepang.

Riwayat Karier

- Guru di HIS Muhammadiyah Cilacap

- Anggota Syu Sangikai (semacam DPR di Banyumas) (1942 – 1944)

- Komandan Batalyon Kroya, Cilacap

- Panglima Divisi V Banyumas, dengan pangkat Kolonel (1945)

- Panglima Besar TKR, dengan pangkat Jenderal (1945 – 1959)

Pada 29 januari pukul 18.30, diusianya yang masih 34 tahun, Sudirman menghembuskan napas terakhir.

Jenazahnya dimakamkan keesokan harinya di Makam Taman Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta, di samping makam Urip Sumohardjo.

Namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 314 tahun 1964 tanggal 10 Desember 1964.

Penghargaan

- Pahlawan Nasional Indonesoa (1964)

- Jenderal Besar Anumerta Bintang Lima (1997)

SUMBER: https://surabaya.tribunnews.com/2019/06/29/punya-misi-khusus-habisi-panglima-tni-jenderal-soedirman-ini-sosok-perwira-belanda-simon-spoor?page=all

http://jatim.tribunnews.com/2018/09/14/jadi-rival-panglima-sudirman-jenderal-spoor-malah-tewas-seusai-makan-di-tanjung-priok?page=all

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved