Sulut Maju

Ikan Nila dan Rempah Sulut Tembus Pasar Jepang, Olly Dondokambey Serukan Genjot Ekspor

ISTIMEWA
Olly Dondokambey 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Ikan Nila dan rempah asal Sulut tembus ke pasar Jepang, menyusul ikan tuna yang sudah lebih dulu eksis sebagai komoditas ekspor.

Ikan Nila dan rempah ini dieskpor lewat penerbangan langsung (direct call) menggunakan pesawat Airbus Maskapai Garuda.

Direct Call tersebut dari Bandara Sam Ratulangi Manado ke Bandara Narita, Tokyo, Jepang.

Olly Dondokambey, sosok sentral yang berhasil mewujudkan direct call eksport ke Jepang.

Setelah ikan tuna, Jepang juga meminati ikan nila dan rempah.

”Saya mendapat kabar kalau penerbangan kedua tadi malam sudah mengangkut rempah dan ikan nila. Ini sangat baik dan menjanjikan untuk petani kita," kata Gubernur Sulut yang tengah cuti ini, Kamis (1/10/2020).

Meski di masa Pandemi tak menghalangi aktivitas ekspor produk pertanian maupun perikanan Sulut

"Kita memang tidak menyerah saat pandemi dan terus menggenjot ekspor,” kata Olly

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut, Tienneke Adam mengatakan, sejak diluncurkan Gubernur Olly Dondokambey, direct call ekspor ini sudah yang kedua berlangsung

"Ya memang kita lanjut terus. Dan kali ini lebih menjanjikan karena sudah masuk ke komoditas lain yakni ikan nila dan rempah. Sejak dilaunching pak Gubernur Olly minggu lalu, ternyata animo makin besar memanfaatkan penerbangan langsung ini," kata Tienneke.

Ia menjelaskan, ekspor kali ini mencapai total 13,572 ton yang umumnya ikan tuna.

Permintaan ikan nila meningkat cukup signifikan setelah pekan lalu mengirim sampel 100 kg ke Jepang.

Sampel ini direspon buyer dengan mengorder tambahan 200 kg

"Melonjak menjadi 200 kilogram dan diharapkan akan terus naik," kata Tienneke.

Oa menjelaskan, ekspor dengan penerbangan langsung dari Manado ke Jepang ini membuka lembaran kemajuan baru bagi perekonomian Sulut.

Sebab aneka komoditas unggulan daerah bisa diserap di pasar internasional, khususnya Jepang.

"Dorongan kuat pak Olly, agar semua komoditas pertanian dan perikanan agar dapat diterima di pasar Jepang. Kami berupaya dorong dan fasilitasi para eksportir kita," ujarnya

Dalam daftar ekspor langsung dari Sulut ke Jepang itu, ada Ikan Tuna, Lobster 20 Kg dan Nila 200 Kg dengan total 6.144 Ton, serta sampel Pertanian 90 Kg.

Flory Sumerah, eksportir berterima kasih atas terobosan direct call ekspor ini.

Apalagi terobosan ini dilakukan di tengah pandemi, sehingga membuka peluang bagi eksportir seperti dirinya untuk tetap bertahan dan bahkan mendapatkan peluang baru dari kegiatan ekspor ini.

“Saya sangat berterima kasih kepada pemerintahan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw karena sudah menciptakan iklim berbisnis yang sangat baik, sehingga peluang usaha terbuka dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarkat,” tutur Flory yang dikenal pemilik usaha CV Rengas Jaya.

Harapan sama datang dari Raifel Wowiling, petani nila di Kawiley Kec. Kauditan, Minahasa Utara.

Sebagai petani nila dirinya merasa senang karena ada harapan di tengah situasi pandemi ini.

“Selama pandemi ini kami dilema, karena ikan nila harus diberi makan terus, namun sulit dipasarkan karena harganya murah. Dengan adanya peluang ekspor ini, kami tentu sangat berterima kasih ke bapak Gubernur Olly yang sudah mendengarkan jeritan hati kami,” tutur Raifel.