Jumat, 5 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah

Begini Cara Penggali Kubur Bernama Makmur, Cegah Penularan Covid 19 saat Bekerja

Jika dalam sehari, minimal Makmur dan penggali kubur lainnya harus menggali dua lubang, kini ia bisa menggali empat sampai lima lubang.

Tayang:
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Makmur, penggali makam di TPU Jombang, Ciputat, Tangsel, Rabu (23/9/2020). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Cerita seorang penggali kuburan korban covid 19 di Tangerang Selatan. 

Dia mengungkapkan bagaimana dirinya tetap bugar saat bekerja di lokasi rawan terpapar virus corona. 

Namanya Makmur.

Cara Mudah Keluar dari Grup WhatsApp Tanpa Ketahuan

Ada Remaja yang Diduga Mengintai Kegiatan Kepolisian, Diamankan Polisi Tadi Malam

Pria berusia 47 tahun ini  baru saja mengubur satu jenazah pasien Covid-19 di tempat pemakaman umum (TPU) Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), Rabu (23/9/2020).

Bajunya kuyup bermandikan keringat. Kaos tangan panjang hitamnya terlihat lebih gelap.

Celana sebetis warna krem yang dikenakannya sudah penuh tanah. Warna coklat tua lebih terlihat mendominasi.

"Hari ini baru satu," ujar Makmur sambil tersenyum.

Di tengah terik matahari, Makmur bercerita tentang pekerjaannya yang belakangan terasa lebih berat.

Seiring melonjaknya kasus Covid-19 di berbagai daerah termasuk di Tangsel, korban meninggal dunia pun bertambah.

Jika dalam sehari, minimal Makmur dan penggali kubur lainnya harus menggali dua lubang, kini ia bisa menggali empat sampai lima lubang.

Setiap pukul 07.00 WIB, Makmur harus sudah siap dengan paculnya sebagai alat kerja utama.

Meski waktu masuk kerjanya selalu sama, namun waktu pulang dari pemakaman tidaklah menentu.

Terkadang Makmur bisa sampai di rumah sebelum matahari terbenam. Namun lebih sering saat hari mulai gelap.

Prosedur jenazah pasien Covid-19 yang harus dikubur sebelum empat jam, membuat Makmur harus selalu siaga.

"Lonjakan kemarin pas Agustus, akhir Agustus. Sepagian semalaman. Paling banyak lima jenazah, dari Tangsel semua," ujarnya.

Kedatangan jenazah yang kerap tanpa pemberitahuan sebelumnya membuat waktu istirahat Makmur sering terganggu.

"Kadang-kadang dadakan sih. Kita mau istirahat siang gitu, datang, terus keganggu lagi," ujarnya.

Bagi penggali kubur yang sudah bekerja selama tiga tahun di TPU Jombang itu, tidak ada yang namanya hari libur.

Yang ada hanya waktu istirahat dan siaga 24 jam.

"Enggak ada waktu libur, paling bergantian sama kawan, kalau mau istirahat. Enggak ada waktu tetapnya," ujarnya.

Bekerja di siang yang terik dan terkadang di tengah hujan deras, Makmur harus selalu dalam kondisi prima.

Terlebih, kewajiban mengatakan hazmat yang sangat tidak nyaman, membuat proses penguburan dua kali lebih berat.

Makmur bersyukur, sang istri yang begitu menyayanginya selalu menyiapkan vitamin setiap berangkat ke TPU.

Sang istri paham betul, suaminya bekerja di lokasi berisiko tinggi terpapar Covid-19. Badan yang bugar mutlak diperlukan.

"Dibeliin vitamin sama istri, iya vitamin C, apa segala bae dah dibeliin istri," ujarnya sambil tersipu.

Makmur berharap masyarakat bisa mematuhi protokol kesehatan agar terhindar dari paparan Covid-19.

"Ya jangan sampai lah kita seperti ini. Tapi kita enggak tahu juga ya. Yang penting kita jaga jarak. Yang penting olahragalah, pakai masker," tutupnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com

Subscribe YouTube Channel Tribun Manado:

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved