Penemuan Mayat

5 ABK KM Starindo Jaya Maju VI Ternyata Tewas Setelah Pesta Miras Campuran Alkohol Antiseptik

Hasil penyelidikan kelima ABK tersebut tewas usai menenggak minuman keras oplosan di atas kapal ikan tempat mereka bekerja.

Editor: Aldi Ponge
ANTARA FOTO
Lima mayat dalam kapal ikan KM Starindo Jaya Maju VI di perairan Pulau Pari, Pulau Seribu, Jakarta. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Lima Anak Buah Kapal yang ditemukan tewas dalam kapal KM Starindo Jaya Maju VI ternyata gara-gara minum minuman keras (miras) oplosan.

Polisi sudah mengungkap kronologi penyebab meninggalnya ABK dalam freezer tersebut.

Penemuan 5 mayat tersebut berawal saat Polres Kepulauan Seribu yang sedang melakukan operasi di perairan.

Hasil penyelidikan kelima ABK tersebut tewas usai menenggak minuman keras oplosan di atas kapal ikan tempat mereka bekerja.

Belajar Mutilasi dari Youtube, Pelaku Bermalam Dengan Jasad, Djumadil Main Game Online Saat Memotong

Jawa Timur Tertinggi Angka Kematian Covid-19, DKI Jakarta Kasus Positif Terbanyak di Indonesia

Mereka tewas secara beturut-turut dalam jangka waktu kurang lebih satu hari setelah mengonsumsi miras oplosan tersebut.

Kelima ABK yang tewas usai mengonsumsi miras oplosan tersebut masing-masing bernama Putra Enggal Pradana (19), Khoirul Mutaqqin (24), M Zulkarnaen (24), Mohammad Son Haji (27), serta Miftakhul Huda (21).

Awalnya, pada pukul 15.30 WIB Kamis (3/9/2020) lalu, kelima ABK tersebut bersama-sama meminum miras oplosan yang ternyata dibeli almarhum Mohammad Son.

Miras oplosan yang dibawa Son itu merupakan campuran alkohol antiseptik 70 persen dengan minuman berenergi dalam kemasan.

Kapolres Kepulauan Seribu AKBP Morry Edmond menuturkan, kelima ABK tersebut secara bersama-sama meminum miras yang ada hingga sampai Jumat (4/9/2020) dini hari.

Dijelaskan Morry, ABK pertama yang meninggal dunia setelah menenggak miras oplosan tersebut ialah Zulkarnaen.

"Pada hari Jumat, 4 September 2020 sekitar pukul 20.00 WIB, saksi nakhoda mendapat laporan bahwa MZ (M. Zulkarnaen) telah meninggal di ruangan istirahat bawah," kata Morry dalam konferensi pers di Kantor Perwakilan Polres Kepulauan Seribu, Pademangan, Jakarta Utara, Senin (21/9/2020).

9.801 Siswa SD dan SMP di Bolsel Dapat Kuota Internet Belajar 35 GB, Kartu SIM Dibagikan Disdik

Jawa Timur Tertinggi Angka Kematian Covid-19, DKI Jakarta Kasus Positif Terbanyak di Indonesia

Konferensi pers kasus kapal ikan bawa lima jenazah ABK, Senin (21/9/2020), di Kantor Perwakilan Polres Kepulauan Seribu, Pademangan, Jakarta Utara.
Konferensi pers kasus kapal ikan bawa lima jenazah ABK, Senin (21/9/2020), di Kantor Perwakilan Polres Kepulauan Seribu, Pademangan, Jakarta Utara. (TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO)

Setelah Zulkarnaen meninggal dunia, satu jam kemudian ABK Putra mengalami sesak nafas.

Putra kemudian meninggal sekitar pukul 21.00 WIB Jumat malam itu.

Dua jam berikutnya, miras oplosan tersebut merenggut nyawa Khoirul.

"Sekitar pukul 23.00 WIB di ruangan istirhat, atas nama KM (Khoirul) sedang uring-uringan kesakitan, merasakan pusing, hingga akhirnya meninggal dunia," kata Morry.

Keesokan harinya, Sabtu (5/9/2020), korban kembali berjatuhan akibat miras oplosan tersebut.

Miftakhul, pada Sabtu siang sekitar pukul 14.00 WIB, tutup usia setelah mengalami gejala hampir serupa dengan rekan lainnya yang sudah terlebih dahulu meregang nyawa.

Kematian Miftakhul disusul Son, yang pada akhirnya meninggal dunia Sabtu petang sekitar pukul 18.00 WIB.

Kematian kelima ABK secara runut ini berdasarkan keterangan enam saksi yang telah diperiksa kepolisian.

Keterangan mereka kemudian dicocokkan dengan hasil visum, yang ternyata berkesinambungan.

"Hasil visum dari RS Polri Kramat Jati, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Dan kedua, tes penyaring alkohol positif. Ketiga, isi lambung korban kosong," jelas Morry.

Ilustrasi mayat ditemukan di Kapal.
Ilustrasi mayat ditemukan di Kapal. (PojokSatu.id/IStimewa)

"Kesimpulan penyebab kematian diakibatkan karena alkohol yang seharusnya tidak berada di dalam tubuh," tutup dia.

Diberitakan sebelumnya, Kapal ikan KM Starindo Jaya Maju VI ditemukan tengah mengangkut lima jenazah ABK di perairan Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu, Kamis (17/9/2020).

Penemuan kapal pengangkut jasad manusia ini terjadi saat aparat Polres Kepulauan Seribu tengah menggelar Operasi Yustisi serta patroli rutin.

Polisi mendapati lima jenazah ABK tersebut disimpan di dalam ruangan pendingin.

Kelima ABK tersebut ternyata sudah meninggal hampir dua pekan.

Keterangan nakhoda dan awak kapal lainnya, kelima jenazah tersebut sengaja diawetkan agar tidak membusuk untuk dikembalikan ke keluarga mereka.

SUMBER: https://jakarta.tribunnews.com/2020/09/21/kronologi-lima-abk-tewas-usaitenggak-miras-oplosan-saat-berlayar-kejang-kejang-hingga-sesak-nafas?page=all&_ga=2.227153241.577586337.1600583653-1294520286.1593332677

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved