Rabu, 20 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cap Tikus

5 Varian Cap Tikus, Minuman Tradisional Beralkohol di Manado, Ada Campuran Ular dan Kalajengking

Nama Cap Tikus ketika orang Minahasa yang mengikuti pendidikan militer untuk menghadapi Perang Jawa, sebelum 1829

Tayang:
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
DOK TRIBUN MANADO
Varian Cap Tikus 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO -- Cap Tikus adalah minuman beralkohol hasil fermentasi dan distilasi Air Nira dari Pohon Aren.

Masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara sudah mengenal minuman tradisional ini.

Awalnya, nama Cap Tikus adalah Sopi. 

Nama Cap Tikus ketika orang Minahasa yang mengikuti pendidikan militer untuk menghadapi Perang Jawa, sebelum 1829, menemukan Sopi dalam botol-botol biru dengan gambar ekor tikus. 

Dikira Meninggal Dunia, Pria Ini Ternyata Hanya Ketiduran, Petugas Sudah Datang untuk Evakuasi

HEBOH Anak Kambing Berkepala Babi di Desa Balunganyar Jatim, Videonya Viral di Medsos

Sejak dulu, petani Minahasa, sebelum pergi ke kebun atau memulai pekerjaannya, minum satu seloki Cap Tikus untuk penghangat tubuh dan pendorong semangat untuk bekerja.

Cap Tikus sudah cukup melegenda sebagai minuman penghangat tubuh.

Ada banyak kreasi yang bisa diciptakan dengan bahan dasar cap tikus, satu di antaranya Pinaraci, yakni captikus yang direndam bersama bahan rempah.

Lazimnya, bahan rempah pinaraci berupa cengkeh, gingseng, vanili atau tanaman rempah lainnya.

Ada juga meracik Pinaraci dengan merendamnya dengan hewan berbisa, yakni seekor ular kobra dan mamba hitam.

Dua jenis ular itu terkenal bisanya sangat mematikan. Ada juga menggunakan Kalajengking

Hal ini dipercaya menambah rasa hangat dan efek yang lebih keras dibanding cap tikus murni.

Cap Tikus 1978 kemasan 320 Ml dipasarkan Rp 80 ribu per botol.
Cap Tikus 1978 kemasan 320 Ml dipasarkan Rp 80 ribu per botol. (Istimewa)

Masyarakat percaya tubuh mereka akan memiliki stamina yang lebih kuat setelah meminum cap tikus bercampur reptil tersebut.

 Di Sulut, luas lahan perkebunan aren yang menjadi bahan pembuatan cap tikus mencapai 5.907 hektare.

Produktivitasnya 1 ton 103 kilogram per semester atau rata-rata 457 kilogram per bulan dalam bentuk sadapan air nira.

Cap tikus sudah menjadi minuman keras tradisonal favorit digunakan warga di Sulawesi Utara  bahkan Papua.

Banyak petani cap tikus yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga strata tiga.

Sayangnya, banyak persoalan kriminal yang terjadi disebabkan tingginya gangguan keamanan karena mabuk cap tikus.

Sebab cap tikus mudah didapatkan dengar harga murah di warung-warung.

Pria Asal Manado Ini Jadi Model Terkenal di New York, Intip Potret Gantengnya Oliver Prasetyo

17 Pahlawan Nasional Asal Manado, Diminta Soekarno Bentuk Pemerintahan hingga Gugur Usia 24 Tahun

Polisi pun rutin melakukan razia cap tikus untuk menekan angka kriminalitas.

Berikut 5 racikan cap tikus yang populer di Sulut:

1. Cakram

Ular kobra dan Black Mamba direndam dalam minuman khas Minahasa 'Captikus'
Ular kobra dan Black Mamba direndam dalam minuman khas Minahasa 'Captikus' (TRIBUNMANADO/RYO NOOR)

Cakram itu singkatan dari cap tikus kram -kram.

Kram merupakan istilah lokal untuk kata keram.

Cakram ini sebenarnya tak ada camputan lain, hanya cap tikus yang diproduksi dengan kadar alkohol tinggi.

Mengonsumsi cakram secara harafiah bisa membuat badan jadi keram, namun kram-kram ini lebuh merujuk ke kandungan alkohol dari cap tikus itu sendiri.

Cakram merupakan cap tikus yang punya kandungan alkohol di atas 50 persen.

Istilah cakram ini muncul di sentra produksi cap tikus di Minsel di daerah Motoling.

Selain cakram, istilah cap tikus dengan kadar alkohol tinggi sering disebut istilah setempat cap tikus bakar manyala.

2. Pinaraci

Warga Tomohon menyediakan minuman cap tikus dicampur hewan reptil seperti Ular Kobra dan Kalajengking yang sudah diawetkan
Warga Tomohon menyediakan minuman cap tikus dicampur hewan reptil seperti Ular Kobra dan Kalajengking yang sudah diawetkan (TRIBUNMANADO/ANDREAS RUAUW)

Pinaraci merupakan satu di antara varian racikan cap tikus yang cukup populer di kalangan masyarakat Sulut.

Minuman captikus ini ditampung dalam sebuah wadah biasanya botol besar yang berisi sejumlah bahan rempah.

Lasimnya bahan rempah pinaraci yakni ginseng, kayu manis, vanili, cengkeh dan bahan lainnya.

Ada pula sejumlah variasi tergolong ekstrem memasukan anak rusa bahkan ular.

Pinaraci biasa disiapkan selain untuk konsumsi sendiri, sering untuk disajikan menyambut tamu yang datang.

3. Saledo

Saledo sebenarnya merupakan nama minuman tradisional Minahasa berbahan air nira sebelum tenar disebut cap tikus.

Belakangan Saledo diidentikan dengan variasi minuman captikus yang diolah bercampur gula putih.

Gula putih dimasak hingga berwarna kecoklatan kemudian dicampur dengan cap tikus, menghasilkan minuman cap tikus berwarna kecokelatan.

Produksi Saledo masih skala rumahan.

4. Cap Tikus 'Mix'

Bea Cukai Sulbagtara Tindak Cap Tikus dan Tembakau Ilegal
Bea Cukai Sulbagtara Tindak Cap Tikus dan Tembakau Ilegal (Tribun Manado / Jufry Mantak)

Cap tikus cukup populer di kalangan masyarakat dengan mencampur dengan minuman lain.

Tak jarang sering muncul nama istilah tersendiri dari campuran tersebut.

Ada istilah lama campuran cap tikus disebut cakol.

Cakol singkatan dari Cap tikus Coca-Cola. Cap tikus dicampur dengan minuman bersoda.

Varian campuran ini masih sering ditemui sampai saat ini, tapi istilah cakol sudah lama tak lagi terdengar.

Ada juga istilah lama disebut stinky.

Cap tikus mix ini terdiri dari cap tikus, susu kental manis putih dan minuman bersoda merek fanta.

Sempat tenar di tahun 2.000 an, tapi belakangan ini sudah jarang terdengar cap tikus mix jenis ini.

Cap tikus mix lainnya yang cukup populer saat ini yakni cap tikus dicampur minuman energi drink.

Ada pula yang mencampur dengan bir

5. Minuman Merek Lokal Berbahan Cap Tikus

Di Sulut sebenarnya sudah banyak beredar minuman merek lokal berbahan cap tikus.

Paling tenar merek kasegaran, ada juga segaran sari, dan champion.

Minuman ini sudah diolah dengan beragam campuran bahan. (Aldi Ponge/Ryo Noor)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved