Breaking News:

Berita Terkini

Warga di Sragen Tutup Jalan dengan Bata Hebel, Tak Terima Lahannya Dibangun Tanpa Izinnya

Seorang warga mereka menutup akses jalan tembusan tersebut karena tidak terima lahan pekarangannya dibangun oleh warga sekitar dan ditalud.

(KOMPAS.com/LABIB ZAMANI)
lan di Dukuh Ngledok, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen, Jawa Tengah ditutup dengan menggunakan tembok bata hebel, Selasa (4/8/2020). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tanah adalah salah satu hal yang sering diperdebatkan oleh Masyarakat.

Baru-baru ini, seorang warga mereka menutup akses jalan tembusan tersebut karena tidak terima lahan pekarangannya dibangun oleh warga sekitar dan ditalud.

Keluarga almarhum To Pawiro menutup jalan tembusan di Dukuh Ngledok, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dengan tembok bata hebel karena jalan tersebut masuk di lahan pekarangannya.

Jalan yang memiliki lebar sekitar tiga meter itu dahulunya adalah jalan setapak.

"Sewaktu ayah saya beli tanah memang sudah ada jalan, tapi jalan setapak. Cuma orang (Ngledok) itu tidak menghargai (keluarga) langsung dibangun jalan," kata anak laki-laki almarhum To Pawiro, Tugiyono (55) sesuai mediasi di Balai Desa Gading, Tanon, Sragen, Jawa Tengah, Selasa (4/8/2020).

Tanah pekarangan itu, lanjut Tugiyono, sudah diwariskan kepada kakaknya bernama Sonem.

Karena jalan setapak itu dibangun dan ditalud oleh warga, kakaknya tersebut tidak terima akhirnya ditutup menggunakan bata hebel.

"Mbakyuku (kakakku) tidak terima. Karena tanah pekarangan itu diberikan kepada kakak saya. Iya ditutup jalan itu. Karena tanah itu sertifikatnya tidak ada tulisan jalan tidak ada," ungkap Tugiyono.

Tugiyono mengklaim bahwa jalan yang dibangun tersebut memakan lahan pekarangan milik kakaknya.

Menurut dia, sebelum membangun jalan tersebut, warga harus izin terlebih dahulu kepada keluarganya.

Halaman
12
Editor: Rhendi Umar
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved