Breaking News
Rabu, 29 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tokoh

Virus Corona Jadi Penyebab Kematian Pelukis dan Arsitek Terkenal Raphael Pada 1520

Raphael yang dikenal juga sebagai Raffaello Sanzio da Urbino, adalah seorang pelukis sekaligus arsitek terkenal Italia di era High Renaissance.

Editor: Rizali Posumah
Via Electra Travel
Raphael, pelukis terkenal zaman High Rennaisance. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Studi terbaru memperjelas penyebab kematian seorang tokoh terkenal, Raphael Sanzio alias Rafaello Sanzio.

Raphael yang dikenal juga sebagai Raffaello Sanzio da Urbino, adalah seorang pelukis sekaligus arsitek terkenal Italia di era High Renaissance.

Menurut studi terbaru, Raphael dikabarkan tewas akibat penyakit yang 'mirip virus corona.'

Seniman kelahiran Firenze, Italia 6 April 1483 ini wafat di Roma, Italia pada 6 April 1520 di usia 37 tahun.

Raphael meninggal akibat demam yang mirip dengan gejala virus corona saat ini setelah gagal memberitahu dokternya bahwa dia diam-diam mengunjungi kekasihnya pada 'suatu malam yang dingin.'

Hal itu membuat dokternya salah melakukan perawatan medis, menurut sebuah studi terbaru.

Mitos populer mengatakan pelukis Renaissance itu wafat akibat sifilis pada 1520 akibat terlalu banyak 'bermain wanita', namun pemeriksaan ahli menyebut dia meninggal akibat infeksi.

Menurut sejarawan Michele Augusto Riva pada media Perancis AFP, Raphael yang demam tinggi adalah sosok pelukis, desainer dan arsitek produktif yang sangat disayang oleh Paus.

Paus bahkan mengirimkan dokter terbaik di Roma kepada Raphael karena takut kehilangan sosok seniman tak ternilai itu.

Namun, menurut pelukis Italia, Giorgio Vasari, Raphael tidak memberitahu kepada dokternya bahwa dia sering 'jalan-jalan malam di udara dingin' untuk mengunjungi beberapa wanita.

"Saat itu, lebih dan sangat dingin di bulan Maret kala itu, dan dia seperti menderita pneumonia," ungkap Riva, sang sejarawan.

Dokter kala itu mendiagnosis Raphael dengan demam yang disebabkan oleh pendarahan yang semakin membuatnya lemah.

Seniman itu adalah sosok manusia ajaib yang merupakan salah satu dari 'trinitas hebat Renaissance' bersama dengan sosok Michelangelo dan Leonardo da Vinci.

Raphael diantar ke tempat peristirahatan terakhir dengan pujian tertinggi yang disematkan kepadanya di pemakaman besar di Vatikan, Pantheon, sebuah pemakaman bergengsi di Italia.

Setiap tahunnya, mawar merah selalu menghiasi makam Raphael.

Kesalahan Raphael

Menurut Riva, pada saat itu, para dokter sadar akan bahaya pendarahan yang terjadi dalam penyakit infeksi namun bertindak berdasarkan informasi yang salah.

Riva adalah salah satu sejarawan yang juga ikut menulis dalam penelitian bersama 3 rekan peneliti lainnya dari Universitas Milano Bicocca.

"Kesalahan medis, dan kesalahannya sendiri karena tidak akurat (dalam) menceritakan sejarahnya, berkontribusi pada kematian Raphael itu sendiri," katanya.

Para peneliti telah menyiapkan beberapa studi singkat yang dipublikasikan pekan ini melalui jurnal Internal dan Emergency Medicine, sebelum Covid-19 mencengkeram bagian utara Italia pada akhir Februari.

Sebagai dokter yang melakukan praktik, mereka juga harus menunda kelanjutan penelitian itu ketika harus berada di garis depan melawan krisis wabah, merawat para tenaga medis lain yang terjangkit infeksi virus corona di unit perawatan intensif.

"Dari apa yang kami ketahui, Raphael meninggal karena penyakit paru-paru yang sangat mirip dengan virus corona yang kita lihat sekarang," katanya.

Laporan kontemporer tentang kematian seniman itu mengungkapkan penyakit Raphael "bertahan selama 15 hari; Raphael cukup tenang untuk mengatur urusannya, mengakui dosa-dosanya, dan menerima ritual terakhir," ungkap penelitian itu.

Penelitian itu juga mengungkapkan kalau penyakit yang diderita Raphael tergolong akut dan memiliki kronologi demam tinggi.

"Infeksi menular seksual belakangan ini seperti gonore dan sifilis tidak memiliki masa inkubasi."

"Manifestasi akut dari virus hepatitis tidak dapat diakui tanpa adanya penyakit kuning dan tanda-tanda gagal hati lainnya."

Keterangan penelitian itu juga mengungkap tidak ada epidemi tifus atau pun wabah lain yang dilaporkan di Roma kala itu.

Terlepas dari kematian Raphael di usia yang masih tergolong muda itu, Raphael sudah menghasilkan banyak karya, sebagian besar di Vatikan.

Karyanya dipajang dimuseum-museum yang mencakup beberapa ruang yang penuh dengan lukisannya di dinding.

Lukisan-lukisan Raphael diselesaikan oleh para muridnya setelah dia wafat dan masih menjadi ruang-ruang yang penuh dengan lukisan paling populer di Vatikan.

Direktur LBHM: Kasus Novel Harus Dibongkar Sampai ke Akar-akarnya

RAMALAN ZODIAK Cinta Sabtu 18 Juli 2020, Bagi Taurus Cinta Sangat Penting, Cancer Banyak Komunikasi

7 Bulan Buron, Harun Masiku Dikabarkan Meninggal Dunia

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kematian Pelukis Raphael pada 1520 karena Virus Corona?".

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved