Breaking News:

Alzheimer

Banyak Berfikir, Peneliti Menunjukkan itu Bisa Berisiko Lebih Tinggi Terkena Alzheimer

Alzheimer atau di Indonesia biasa disebut kepikunan memang salah satu penyakit yang tidak dapat dianggap remeh

SIphotography/Getty Images/iStockphoto/Grid.id
Ilustrasi Alzheimer 

TRIBUNMANADO - Alzheimer atau di Indonesia biasa disebut kepikunan memang salah satu penyakit yang tidak dapat dianggap remeh.

Para peneliti menunjukan bahwa berfikiran negatif yang terus-menerus ada kaitannya dengan gejala awal penyakit itu.

Dalam studi ini secara spesifik mempelajari kebiasaan 'berfikir negatif secara terus menerus' yang bukan rasa sedih biasa.

Bukan rasa sedih biasa itu dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang meliputi kekhawatiran dan perenungan.

Para peneliti menemukan bahwa pola pikir negatif yang obsesif tersebut berkaitan dengan penurunan kognitif dan agregasi protein beta amiloid, protein otak yang terlibat dalam penyakit Alzheimer.

Penting untuk menekankan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal, memiliki beberapa peringatan dan bersifat observasional.

Meski begitu, studi sangat menatik karena memberikan cara baru untuk menguji siapa yang berisiko Alzheimer.

“Memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko dementia merupakan hal vital dalam memperbaiki pemahaman kita mengenai kondisi mengerikan ini," jelas Fiona Carragher, Alzheimer’s Society Director of Research and Influencing.

Dan jika memungkinkan, itu bisa dijadikan strategi pencegahan,” lanjut dia.

“Hubungan yang ditunjukkan antara pola berpikir negatif yang berulang dengan penurunan kognitif sangat menarik meskipun perlu penyelidikan lebih lanjut untuk memahaminya dengan lebih baik,” tambahnya.

Halaman
123
Editor: Dewangga Ardhiananta
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved