Berita Bolmong
Kimong di Bolmong Diperkirakan Bisa Menampung 33 Ribu Tenaga Kerja, Ada Artinya Dalam Bahasa Hokkian
Sebuah kawasan dengan nilai investasi mencapai sekira 160 Triliun rupiah, dengan jumlah investor yang antri sebanyak 200.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kawasan Industri Mongondow (Kimong) seketika menjadi trending topic.
Mengalahkan pilkada yang kini memasuki titik krusial.
Sebuah kawasan dengan nilai investasi mencapai sekira 160 Triliun rupiah, dengan jumlah investor yang antri
sebanyak 200, dan bisa menampung sedikitnya 33 ribu tenaga kerja, akan berdiri di tanah Totabuan.
Runningnya tahun ini. Dengan protokol covid 19 berhubung dunia masih diliputi pendemi tersebut.
Pantas bila publik terperanjat dan latah menyebut Kimong.
Kata Kimong ternyata punya arti tersendiri. Bukan hanya singkatan dari Kawasan Industri Mongondow.
Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow beberapa waktu lalu dalam sebuah pertemuan di ruang
lantai dua gedung Pemkab Bolmong membeber, Kimong punya arti dalam bahasa Cina Hokkian.
"Kim itu emas, ong itu raja, jadi ini kawasan yang bakal mendatangkan kemakmuran bagi Bolmong," kata dia.
Investor Kimong memang berasal dari Cina. Menurut Yasti, Kimong merupakan cita-citanya.
Semenjak jadi Bupati, ia menmimpikan kawasan industri yang akan membawa kemakmuran bagi Bolmong dan BMR umumnya.
"Itu cita-cita saya saat saya menjabat sebagai bupati. Impian saya harus hadir di tanah Mongondow salah satu kawasan industri dari hulu hingga hilir. Karena saya meyakini, kita belum mampu untuk membangun kawasan ini dengan anggaran daerah maupun negara."
"Alhamdulillah 2000 investor sudah siap membangun pabrik, tinggal kita kasih karpet merah. Jangan diganggu karena mereka yang nantinya akan membantu anak-anak kita untuk mendapatkan lapangan pekerjaan," katanya.
• Anies Baswedan Ingatkan Hal Ini, Sebut Jangan Menganggap Enteng
• Kasubag Pelengkahu: Keadaan Mahasiswa Papua di Unima Dalam Kondisi Aman
• Sambut New Normal, Pemkab Minahasa Bakal Bentuk Tim Pengawas Covid-19