Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Bolmong

Lulus SD Langsung Bertani, Disdik Bolmong Catat Persoalan di Sekolah Pelosok

Bagi sejumlah siswa di desa terisolisasi di Bolmong, sekolah adalah enigma. Sebuah misteri. Akan kemanakah kita setelah selesai sekolah?

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma
Istimewa
Disdik Bolmong Catat Persoalan di Sekolah Pelosok 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Bagi sejumlah siswa di desa terisolisasi di Bolmong, sekolah adalah enigma.
Sebuah misteri. Akan kemanakah kita setelah selesai sekolah?

Itu pertanyaan yang menggelayut di benak mereka. Daripada bingung, para siswa ini lebih suka jalan pintas. Berhenti sekolah dan jadi petani.

Fakta ini terungkap dalam kunjungan Dinas Pendidikan (Disdik) Bolmong ke beberapa desa terisolir selang dua pekan terakhir.

Kamis (2/7/2020) tim Disdik menuju ke wilayah Dumoga Timur. Di dusun Gunung Sari, tim menemukan sebuah SD
yang hanya memiliki 3 ruang kelas tanpa ruang guru.

Sistem Pendidikan Bolsel, Bakal Diterapkan di Pohuwato

Jumlah muridnya hanya 13. Kepsek SD Lusje Sondakh membeber, umumnya siswa SD tersebut tak melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya.

"Mereka pilih bertani, membantu orangtuanya," ujarnya.

Ia mengaku tak bosan-bosan meminta orang tua untuk terus menyekolahkan anaknya.

Tapi niat tulus tersebut terbentur minimnya pengetahuan orang tua siswa.

"Setiap siswa lulus, tugas saya adalah mengedukasi orang tua," beber dia.

Derita Penambang Bakan Tak Menambang Kami Kelaparan, Menambang Kami Ditangkap

Tim Disdik Bolmong berlanjut ke SDN Satu Ikarad. Di sekolah yang memiliki 15 siswa itu memiliki sejumlah kekurangan, yakni plafon atap yang mulai rusak, serta toilet yang tidak bisa digunakan. Kepsek SDN Satu Ikarad , Marni Longdong mengatakan, biaya bantuan operasional sekolah (BOS) yang diterima tidak mencukupi untuk perbaikan sekolah.

"Tahun ini dana BOS kita hanya Rp.12 juta, sementara yang akan kita bangun lebih dari itu,"ujar dia.

Dia mengaku, besaran dana BOS yang diterima sekolah hanya mampu menutupi belanja buku murid, serta pengadaan peralatan sekolah lain.

"Kita berharap dana BOS naik agar kekurangan fasilitas yang ada bisa kita penuhi,"tutur Marni.

Tak jauh dari sekolah tersebut, terdapat juga SDN Dua Ikarad, jumlah muridnya lumayan banyak, namun keluhan guru-guru hanya soal medan jalan yang mereka tempuh untuk menuju sekolah. Sebagian besar guru-guru di sekolah tersebut berasal dari Desa Kanaan, yang jarak tempuh ke Desa Ikarad mencapai 3 kilometer.

DynCorp, Perusahaan Pemasuk Tentara Bayaran Amerika, Pengusaha Kaya, CIA & Pentagon Gunakan Jasanya

"Tidak jauh kalau jalan bagus, tapi kalau hujan kita was-was karena jalan berlumpur,"ucap salah satu guru di sekolah tersebut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved