Tecno

Ada Apa dengan TikTok, Data Pengguna Bisa Terkirim ke China, Benarkah?

Penguna TikTok di Indonesia, sudah terbilang banyak mulai dari anak kecil hingga lansia. Maraknya aplikasi ini,mengirim data ke cina, benarkah?.

Editor:
Istimewa
gambar TikTok 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Penguna TikTok di Indonesia, sudah terbilang banyak mulai dari anak kecil hingga lansia. Maraknya aplikasi ini, membuat sejumlah orang tak sadar bahwa belakangan ini ramai dengan diskusi bahwa aplikasi ini diduga mengumpulkan data pengguna.

Isu ini antara lain dicuatkan ke permukaan dalam sebuah utas (thread) pengguna twitter dengan akun @SoundOfYogi. Yogi menyarankan agar pengguna menghapus (uninstal) apliaksi TikTok di "Ada snippets code (kode program) yang memuat aplikasi mampu mengunduh file Zip, (kemudian) unzip lalu execute binary apapun yang telah di-download," tulisnya.

Hal itu juga tercantum di syarat dan ketentuan aplikasi. Namun, yang dipermasalahkan dari kasus TikTok baru-baru ini adalah jenis data yang dikumpulkan lebih banyak daripada aplikasi media sosial lainnya. Dicurigai bahwa kumpulan data pengguna tersebut lantas dikirim ke China, entah berakhir di tangan pemerintah negara tersebut atau pihak lain.

Isu ini antara lain dicuatkan ke permukaan dalam sebuah utas (thread) pengguna twitter dengan akun @SoundOfYogi. Yogi menyarankan agar pengguna menghapus (uninstal) apliaksi TikTok di "Ada snippets code (kode program) yang memuat aplikasi mampu mengunduh file Zip, (kemudian) unzip lalu execute binary apapun yang telah di-download," tulisnya.

Benarkah demikian? Informasi soal data yang dihimpun dalam twit tersebut serupa dengan laporan dari perusahaan keamanan siber, Penetrum yang dipublikasi bulan April lalu. Saat itu, Penetrum mengoprek aplikasi TikTok versi 10.0.8 hingga 15.2.3. Dari hasil pengujian, Penetrum menemukan sebanyak 37,7 persen alamat IP dari layanan yang terkait dengan TikTok berlokasi di luar Amerika Serikat, sebagian besar di-host oleh ISP bernama Alibaba di China.

Sedikit membahas tentang server Alibaba. Tahun 2019 lalu, server Alibaba mengalami peretasan dan membuat lebih dari 899 GB data didalamnya bocor. Detektif kepala Riset dan Keamanan, Anurag Sen yang memimpin investigasi kejadian ini menemukan bahwa database yang diretas memuat informasi yang dikumpulkan oleh lebih dari 100 aplikasi pinjaman online yang ada di China.

 Selain itu masih ada entri dari laporan operator, detail transaksi, inovice tagihan (berisi nama lengkap, nomor HP, detail tagihan bulanan, kartu kredit, kartu debit, dan log panggilan), alamat IP, dan durasi sesi online pengguna.

"Pelacakan berlebihan" Kembali ke pembahasan data apa saja yang dikumpulkan oleh TikTok. Menurut laporan Penetrum kode yang dioprek juga memuat permintaan akses aplikasi Android dengan kode "android.permission.ACCESS_FINE_LOCATION".

Kode tersebut mengizinkan API untuk menemukan lokasi sepresisi mungkin dari beberapa tools yang digunakan, termasuk GPS serta WiFi dan data seluler.

Semua data yang dikumpulkan sistem operasi perangkat, seperti WiFi, perubahan SSID, dll juga turut dihimpun. Data nomor IMEI juga dikoleksi yang kemungkinan digunakan untuk melacak aplikasi apa saja yang diinstal.

Ada pula data IMSI yang disebut bisa digunakan untuk memahami perilaku pengguna yang ujung-ujungnya digunakan untuk menargetkan iklan.

"Dari pemahaman dan analisis kami, tampaknya TikTok melakukan pelacakan yang berlebihan terhadap pengguna," tulis Penetrum dalam laporannya.

Aplikasi Google Tangi yang Mirip TikTok Kini Hadir di Android Penetrum masih menduga kemungkinan bahwa jenis data yang dihimpun kebetulan mirip dengan jenis data yang ditemukan di kasus pembobolan data server Alibaba tahun 2019 lalu. Penetrum juga menemukan kode aplikasi AppsFlayer.

Di situsnya, AppFlayer mendeskripsikan diri sebagai perusahaan Customer Relationship Management yang menyediakan platform bagi pengembang aplikasi untuk menyimpan, memiliki, menganalisa, dan mengontrol data pengguna.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved