Jokowi Siap Ambil Risiko: Khawatir Sikap Menterinya
Pengamat politik Yunarto Wijaya lantas menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mewacanakan reshuffle kabinet.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pengamat politik Yunarto Wijaya lantas menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mewacanakan reshuffle kabinet. Yunarto menilai, Jokowi kecewa dan marah pada semua Menteri yang ada di kabinet tanpa terkecuali.Meskipun, di tengah-tengah pidatonya, Jokowi menyebutkan satu nama kementrian yang kinerjanya tuai sorotan saat pandmi Covid-19.
• Iran Keluarkan Surat Penangkapan dan Minta Bantuan Interpol untuk Menahan Donald Trump
"Saya pikir gak mau bicara siapa ya. Karena dari awal, presiden menyatakan kecewa pada Menteri di jajaran kabinet. Karena seakan-akan semuanya biasa saja, extraordinary di saat seperti in.Walaupun ada satu nama yang disebutkan, bukan nama tapi kementerian yang disebutkan secara eksplisit, yakni Kemenetrian Kesehatan.," tutur Yunarto Wijaya Dalam tayangan Kompas Siang, Senin (29/6).
"Saya lebih melihat kemarahannya spontan tidak direncakan untuk dipublikasikan. Tetapi mengikuti perkembangan kemudian, dirasakan publikasi kemarahan Pak Jokowi ini akan dirasakan baik untuk kuputusan selanjutnya," tandas Yunarto Wijaya.
"Saya pikir reshuffle itu opsi yang diambil terakhir manakala kinerja kementerian belum juga beres," ujar Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo menambahkan.
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memastikan,Presiden siap mengambil segala resiko dan mempertaruhkan reputasi politik dalam menangani krisis akibat pandemi Covid-19."Memang presiden mengatakan akan mengambil risiko, reputasi politik akan saya pertaruhkan. Makanya Presiden mengambil langkah contoh untuk bawahan," kata Moeldoko kemarin.
Mantan Panglima TNI ini pun mengatakan, dalam dunia militer menghadapi situasi kritis, ada tiga langkah yang biasa dilakukan panglima dan komandan.Pertama, kata Moedoko, kehadiran komandan di lapangan."Kita lihat presiden datang ke Surabaya yang masih merah. Beliau datang. Itu ciri-ciri panglima selaku hadir dalam situasi kritis," ucap Moeldoko.
Kedua, lanjut Moeldoko, dengan mengerahkan senjata dalam hal ini bantuan sosial (bansos) yang diberikan kepada masyarakat yang terdampak.Lalu, ketiga, mengerahkan kekuatan cadangan. Moeldoko tidak menjelaskan apakah maksud dari kekuatan cadangan itu adalah reshuffle kabinet.Namun, ia menekankan ketika kekuatan cadangan dikerahkan artinya situasi mulai sangat jelek."Jangan sampai gunakan ini," jelas Moeldoko.
• Polisi-TNI AU Perketat Penjagaan Masuk Keluar Bandara Sam Ratulangi Manado
Moeldoko mengungkap, presiden sudah beberapa kali memperingatkan para menteri dan pimpinan lembaga negara agar bekerja ekstra keras dalam mengatasi krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19.Namun, peringatan tersebut teryata belum dijalankan secara signifikan lewat kinerja para menteri.
Sehingga, pada sidang paripurna kabinet 18 Juni 2020 lalu, Jokowi memberikan peringatan yang lebih keras bahkan membuka opsi untuk membubarkan lembaga maupun mereshuffle kabinet."Presiden khawatir para pembantu ada yang merasa saat ini situasi normal. Untuk itu diingatkan, ini peringatan kesekian kali," kata dia.
"Presiden beberapa kali katakan ini dan masih ada beberapa di lapangan yang tidak sesuai dengan harapan beliau," jelas Mantan Panglima TNI ini.
Sebelumnya, presiden menyinggung soal perombakan kabinet atau reshuffle saat rapat paripurna di hadapan para menteri Kabinet Indonesia Maju pada 18 Juni 2020, lalu.Dalam kesempatan itu, Jokowi mengutarakan rasa kecewanya terhadap kinerja para menteri yang dinilai tidak memiliki progres kerja yang signifikan.
"Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya. Entah buat Perppu yang lebih penting lagi. Kalau memang diperlukan. Karena memang suasana ini harus ada, suasana ini tidak, bapak ibu tidak merasakan itu sudah," kata Jokowi lewat video yang diunggah melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (28/6).
Lebih lanjut, Presiden mengajak para menteri ikut merasakan pengorbanan yang sama terkait krisis kesehatan dan ekonomi yang menimpa Indonesia saat di tengah pandemi Covid-19.Jokowi menilai, hingga saat ini diperlukan kerja-kerja cepat dalam menyelesaikan masalah yang ada.
Terlebih, Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyampaikan, bahwa 1-2 hari lalu growth pertumbuhan ekonomi dunia terkontraksi 6, bisa sampai ke 7,6 persen. 6-7,6 persen minusnya. Lalu, Bank Dunia menyampaikan bisa minus 5 persen.
• Habis Kesabaran, Warga Sekampung Turun Berdemo: Cacing pun Jika Diinjak Melawan Apalagi Manusia
"Kita harus ngerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali kita. Saya lihat masih banyak kita yang menganggap ini normal," ucap Jokowi.
"Lha kalau saya lihat bapak ibu dan saudara-saudara masih melihat ini sebagai masih normal, berbahaya sekali. Kerja masih biasa-biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extra ordinary," jelasnya. (tribun network/sen/yud/mam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/istana-beri-penjelasan-soalvideokekecewaan-jokowi-atas-kinerja-menteri-baru-terungkap-ke-publik.jpg)