Tajuk Tamu Tribun Manado

Menakar Spirit Kepemimpinan di Masa Pandemi

Tidak mungkin jika seorang pemimpin tidak memiliki ‘passion’ yang memberi inspirasi, lalu menjadi pemimpin.

ISTIMEWA
Ambrosius Loho 

Oleh:
Ambrosius M Loho M.Fil
* Dosen pada Universitas Katolik De La Salle Manado
* Pegiat Filsafat

PEMIMPIN dan kepemimpinan adalah sesuatu yang penting. Dalam diri/sosok seorang pemimpin terdapat berbagai hal yang penting yang perlu kita pahami, dalami dan praktikkan. Tak luput hal intergritas seorang pemimpin, yang tampak ‘dipertaruhkan’, terutama soal kebijakan dan pengambilan keputusan ketika dia menjadi pemimpin.

Sejalan dengan fakta di atas, dalam pemahaman sederhana sebagaimana paparan Konfusius, pemimpin yang lahir (ada), harus menjadi pelayan publik, pelayan untuk semua orang, tak pandang buluh. Di sini ditegaskan bahwa menjadi pelayan publik pada hakekatnya penting bagi setiap pemimpin, maka semangat pelayanan, harus melandasi tindakannya. Sejalan dengan itu, peran pemimpin yang bertindak berdasarkan tindakan etis, juga harus menunjukkan sikap sebagai pemimpin yang ‘memerintah’ sekaligus memiliki kemampuan ‘meluruskan’. (Suryajaya 2016: 300).

Pendek kata, dalam arti tertentu, seorang pemimpin yang berperan memerintah dan meluruskan, juga harus menyatukan semua yang berbeda pemikiran, kemudian membangun persaudaraan untuk berjalan bersama.

Di sisi lain, seorang pemimpin harus pula memiliki visi dan misi, serta upaya untuk membangun persatuan, guna menciptakan keadilan sosial. Hal ini berarti bahwa, seorang pemimpin memperjuangkan keadilan tanpa pamrih, mengembangkan wawasan kebangsaan yang konsisten, serta mengupayakan kesejahteraan rakyat secara berkesinambungan. (Lilijawa 2007: 31).

Gambaran ideal seorang pemimpin sebagaimana uraian di atas, tidak kemudian menyatakan bahwa menjadi pemimpin itu mudah, karena seorang pemimpin harus sebijak mungkin dalam tindakan dan kebijakan.

Fakta saat ini mementaskan banyaknya permasalahan yang muncul karena mewabahnya Covid 19. Permasalahan pun menjadi semakin kompleks misalnya pada saat ada oknum-oknum tertentu, yang tidak menjalankan perannya secara tepat, baik dan benar, terutama dalam hal kebijakan penangan Covid-19. Tak kurang puluhan pemimpin, dari banyak sekali pemimpin, yang eksistensi kepemimpinannya dipertaruhkan bahkan dipertanyakan, karena misalnya salah dalam pengambilan keputusan, atau salah melangkah karena memiliki data yang kurang tentang Covid-19.

Problem ini, hemat penulis, tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka, terkait hal itu, wacana tentang sosok seorang pemimpin yang penuh bijaksana, sarat nilai kebaikan, ketekunan dan kewibawaan dalam mengambil kebijakan-keputusan, tanpa kita sadari akan, terus bergaung, bukan hanya di saat pemilihan kepala daerah, pemilihan pemimpin sebuah organisasi, bahkan pemilihan kepala negara, tapi juga terutama di tengah situasi seperti terpentas saat ini. kita butuh pemimpin yang menguasai ‘medan pertempuran’ (lapangan). Itu realitas yang ada kini.

Berkaca dari situ, rakyat seyogyanya membutuhkan pemimpin yang ‘komplit’, sebagai imbas dari kesediaan dan kesiapan beliau ketika ingin menjadi pemimpin. Hal terpenting tentu saja sosok pemimpin yang diinginkan adalah pemimpin yang bijaksana dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Di sisi yang sama, pemimpin yang dibutuhkan adalah yang memiliki pengalaman, serta ber-etika.

Dalam salah satu diskusi online bertajuk ‘Kepemimpinan di Masa Pandemik’ yang penulis pernah ikuti, terdapat beberapa poin refleksi tentang pemimpin dan kepemimpinan yang perlu kita ketahui. Beberapa poin penting itu adalah: Pertama, seorang pemimpin adalah sosok yang bisa menginspirasi dalam segala keadaan. Tidak mungkin jika seorang pemimpin tidak memiliki ‘passion’ yang memberi inspirasi, lalu menjadi pemimpin. Seorang pemimpin harus memberi inspirasi, dalam arti memberi kebijakan-kebijakan sentral dalam setiap fenomena yang muncul dalam masyarakat.

Kedua, seorang pemimpin, menurut ukuran tertentu, ‘harus menderita’. Mengapa dia harus menderita, karena pemimpin adalah orang yang paling bertanggung jawab atas masa depan kehidupan rakyatnya. Harus menderita, juga karena secara tidak disadari, pemimpin mengurus rakyatnya, mengayomi rakyatnya, memperhatikan rakyatnya dan memberi support serta kontrol terhadap rakyatnya, dan tidak terutama fokus untuk berpikir tentang dirinya, kelompok pendukungnya, dll.

Ketiga, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan berefleksi, untuk bisa ‘menularkan keluar’. Maksudnya, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan yang bisa mendalami semua fenomena yang terjadi, terutama di tengah situasi pandemi saat ini, untuk bisa menularkan kebijakan-kebijakannya tentang bagaimana mengatasi fenomena yang terjadi. Keempat, hal paling penting, adalah, seorang pemimpin harus memiliki kreativitas, memiliki semangat untuk melahirkan sebuah perubahan dalam masyarakat, dan terutama juga memiliki sikap kritis. Sikap-sikap ini adalah sikap kunci seorang pemimpin.

Pandemi covid-19 yang kita alami sekarang tentu membutuhkan pemimpin yang kapabel. Maka dari itu, seorang pemimpin yang kapabel adalah pemimpin yang memilliki ‘sense of urgency’, memiliki komunikasi yang kritis dan tranparan, memiliki ‘skill’ yang mampu mengolah yang salah langkah, bersifat ‘up dating’ terutama dalam menyikapi penyebaran covid-19, dan memiliki gambaran besar tentang apa yang harus dilakukan ke depan (visioner). Kapabilitas seorang pemimpin seperti itu, juga harus dibarengi dengan kepekaan dalam segala situasi, berpijak pada data dengan sikap kritis. Maka jika kita melihat kondisi sekarang, apakah para pemimpin yang ada kini, sudah sepenuhnya berpijak dari hal itu, kendati itu amat ideal untuk ukuran tertentu?

Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab, namun idealisme itu, tentu menjadi penuntun praktis bagi seorang pemimpin. Tugas kita, bukan menghakimi kebijakan-kebijakan pemimpin yang ada, tapi paling tidak, dari sini, kita belajar bersikap kritis, manakala hal ideal itu belum menjadi kenyataan dalam realitas praktis. (*)

Penggunaan Sabun Batangan Selama Pandemi Corona, Bisakah Bakteri Hidup di Batang Sabun?

30 Hari Terkurung, Pasien Positif Corona Curhat Tertekan Diisolasi, Pintu Ruangan Dirantai

Anda Harus Tahu, Seberapa Cepatkah Penularan TBC hingga Apa Saja Gejalanya?

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved