Breaking News:

Connie Maria Mamahit

''Balada Pelaut'' Conny Maria Mamahit : Refleksi Kemajuan dan Kemerosotan Minahasa

Siapa menyebut diri orang Manado Sulawesi Utara tidak kenal lagu dan pelantunnya, Balada Pelaut?

Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUN MANADO/DAVID MANEWUS
Stefi Rengkuan 

Tajuk Tamu oleh :
Stefi Rengkuan
Ketua DPP Kawanua Katolik, Anggota Presidium ISKA

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Siapa menyebut diri orang Manado Sulawesi Utara atau secara khusus orang Minahasa termasuk yang ada di perantauan disebut Tou Kawanua dan tidak kenal lagu dan pelantunnya, Balada Pelaut? Ya, lagu ciptaan Ferry Pangalila ini memang menjadi populer dibawakan oleh Conny Maria Mamahit.

Lagu yang populer sejak tahun 90an ini, paling tidak dihitung sejak saya menginjak pelabuhan Bitung dan naik kapal laut pertama kali di tahun 1992 menuju Jakarta, lagu-lagu perpisahan menggema di ruang tunggu sampai di halaman dermaga hingga sesaat kapal siap berangkat memberi tanda yang babunyi goros itu dari trompet kapal. Dapa inga waktu kita so nae Umsini. Saat kapal bastom, menarik jangkar dari dasarnya dan tali-tali raksasa lainnya dari tambatannya berupa tiang-tiang besi gemuk padat kokoh. Vaya condios, my darling...

Entah kapan persisnya lagu ini menjadi viral di blantika musik pop Manado bahkan Nasional. Tapi sejak saya kembali ke asrama Skolastikat Pineleng, 1993-1999, lagu ini sangat populer, sampai di Jakarta kembali melalui pelabuhan Bitung pada tengah 2001, bahkan hingga musim Corona 2020 ini, malah dikejutkan dengan kepergian kekal sang Keke yang boleh dinobatkan sebagai Ratu Balada Pelaut. The Queen of Balada Pelaut!

Sejak lagu Balada Pelaut ini populer, saat-saat perpisahan di pelabuhan Bitung dan pelabuhan yang ada di Indonesia Timur saya kira (yang rata-rata masyarakatnya masih gampang menangkap lirik bahasa Melayu-Manado) memutar lagu ini. Bagi saya lagu yang dinyanyikan nona Remboken ini begitu indah dan mengandung lirik yang sarat makna.

Refleksi atas lagu ini saya angkat dalam momen spesial Suci mengenang kepergian Ses Conny untuk menjadi otokritik terhadap sisi menyimpang dari konsep ideal budaya Minahasa: Tona'as (dari keunggulan pribadi - - > individualisme) dan Matuari (dari persaudaraan - - > komunalisme). [Lih. Paul Richard Renwarin, Matuari wo Tona'as, Cahaya Pineleng, Jakarta, 2007.] Dualitas nilai dan dinamikanya ini sesungguhnya bisa ditemukan dalam pelbagai masyarakat adat budaya di nusantara, tentu dengan cerita asli dan pemaknaan nya yang lain dari kekhasan di Minahasa.

Balada Pelaut bukan lagu sekedar kisah perpisahan di dermaga pelabuhan, yang selalu mengharubiru perasaan insan manusia pencinta, dalam level komunal keluarga dan calon pasangan hidup semati atau so maso minta dan bertunangan atau masih sekedar masih tahap pacaran sampai pada masih saling pendekatan karena ada rasa suka satu sama lain. Sudah atau belum ada ikatan apapun, walau sudah ada janji, terungkap verbal dan non verbal atau hanya dalam perasaan dalam hati saja.

Lagu yang diputar atau dinyanyikan di banyak kesempatan ini oleh pelbagai lapisan masyarakat adalah lagu tentang sebuah ironi ketidaksetiaan pihak yang justru secara normal diposisikan sebagai mereka yang lebih setia. Dalam masyarakat dengan aturan norma yang jelas dan kuat, ada profesi dan pekerjaan yang diposisikan rentan tidak setia dan bahkan mendapat stigma buruk, dan hanya doa yang bisa membuat mukjizat, karena mungkin secara hitungan atau berdasar sejumlah pengalaman, disimpulkan profesi tertentu itu identik dengan "mata karanjang" dan "pambatunangan" alias playboy atau playgirl yang gemar berkencan dengan siapa di mana saja, tanda tidak setia pada satu pasangan.

Mengagetkan dan di luar kenormalan, justru pihak yang rentan selingkuh yang sudah dicap orang berperilaku suka-suka tanpa peduli pasangan dan keluarga atau pihak yang ditinggalkan, pihak tersangka bahkan tertuduh ini ternyata membuktikan diri bersih dari segala prasangka dan tuduhan. Ternyata dia sudah memberikan segalanya kepada orang yang dicintai atau pihak yang dilayani dan dihormatinya, tetapi justru yang terjadi di luar idealitas dan praktik normal masyarakat bahwa dari pihak yang tinggal itu ingkar janji dan melanggar sumpah setianya sendiri.

Dari lirik lagu ini juga kita bisa memahami apa yang sedang hidup di masyarakat pada waktu itu dicipta dan dinyanyikan dengan penuh penghayatan. Menurut pakar etnomusikologi, Prof Perry Rumengan, dari sisi teori ilmiah tentang musik etnis (dan tentu saja jenis musik pada umumnya), lagu adalah ungkapan sosial budaya masyarakatnya sendiri. Lirik dan musik sebuah lagu tidak sekedar berkisah tentang sebuah peristiwa dengan segala detail fakta material yang bisa dicerap secara inderawi, melainkan juga menyingkap nilai-nilai dan tata batin yang lebih mendalam dan sangat menentukan sebuah peradaban, kemajuan atau kemerosotannya atau kemapanan dan kemandekan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved