Mutiara Ramadan
Jinakkan Covid-19 Melalui Pendidikan Spiritual
Sebut saja, negara Amerika Serikat, dengan kekuatan sumber daya yang berlimpah dan mumpuni tetap saja keok dihantam pandemi covid-19.
METAMORFOSA covid-19 dari endemi ke epidemi lalu menjadi pandemi global dalam waktu yang relatif singkat telah membuat masyarakat dunia terhenyak.
Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan dunia dengan menghadirkan perilaku baru.
Berjabat tangan, misalnya, sebagai perilaku membangun chemistry antara satu individu dengan individu lainnya tidak dapat lagi dilakukan secara normal, karena setiap orang diminta untuk melakukan physical distancing.
Jika perilaku berjabat tangan ini di-breakdown ke dalam dunia pesantren, maka ia menyimbolkan bentuk respek seorang santri kepada kiai atau pengasuhnya.
Bahkan lebih dari itu, berjabat tangan sambil mencium tangan kiai diyakini mampu mentransmisikan kemakbulan doa keberkahan dari sang kiai kepada santrinya.
Penularan covid-19 secara pandemik telah memaksa hampir seluruh negara untuk melakukan berbagai upaya penanggulangan.
Saat ini setidaknya ada 213 negara yang terpapar covid-19. Ini berarti penularan covid-19 terjadi tanpa pandang bulu, betapa pun hebatnya kekuatan sebuah negara ternyata dibuat tidak berdaya oleh keganasan covid-19.
Sebut saja, negara Amerika Serikat, dengan kekuatan sumber daya yang berlimpah dan mumpuni tetap saja keok dihantam pandemi covid-19.
Justru negara inilah paling banyak menyumbang warga negara yang terinfeksi covid-19, jumlahnya mendekati satu setengah juta orang pada medio Mei 2020.
Bahkan, warga negara Amerika Serikat yang meregang nyawa akibat covid-19 sudah melewati 88.400 orang dan ini tentu saja masih terus bertambah.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Per akhir medio Mei 2020, menurut sejumlah media TV nasional, terdapat 17.520 positif covid-19, 4.129 yang sembuh, dan 1.148 yang meninggal dunia.
Lalu, pertanyaan mendasar yang penting diajukan berkenaan dengan realitas di atas adalah bagaimana diksi yang digunakan negara terkait covid-19 ini?
Jawaban atas pertanyaan di atas, jika merujuk pada fakta empirik narasi yang begitu gegap gempita disosialisasikan kepada masyarakat berupa hashtag perang melawan corona (#perangmelawancorona), maka kelihatannya tidak ada yang salah dengan hashtag tersebut.
Bahkan, dianggap sebagai penyemangat bagi masyarakat dalam menghadapi dampak yang ditimbulkan oleh coronavirus disease 2019.
Sedikit sekali yang menyadari bahwa hashtag tersebut bersoal jika dilihat dari pendekatan pendidikan spiritual (spiritual education approach).
Mengapa? Jawabnya karena hashtag tersebut menyiratkan kesombongan manusia dan seolah-olah mendeklarasikan bahwa manusia memiliki kekuatan tidak terbatas melawan apa pun, termasuk melawan covid-19. Padahal sebagai negara agamis, Tuhan tidak boleh dinegasikan dalam setiap tidakkan manusia, apalagi berhadapan dengan covid-19.
Secara empirik, apalagi filosofis, makhluk manusia sehebat dan sedigdaya apa pun tidak akan pernah mampu memenangkan perang melawan tentara Tuhan.
Pertanyaan analitisnya adalah apakah covid-19 ini termasuk tentara Tuhan? Sebelum menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu perlu dipetakan ragam tentara Tuhan yang secara empirik tidak pernah mampu dilawan apalagi diperangi oleh manusia.
Tentara Tuhan itu dapat dibagi menjadi dua, tentara Tuhan berbasis alam dan tentara Tuhan berbasis non-alam.
Tentara Tuhan berbasis alam misalnya api. Manusia hidup bersahabat dengan api dalam kesehariannya, bahkan jika tidak ada api, maka kehidupan manusia akan nestapa.
Namun, ketika api berubah menjadi tentara Tuhan, maka manusia kesulitan mengalahkannya. Biasanya api berhasil dipadamkan setelah membakar habis suatu objek.
Lalu, bagaimana manusia dapat mengklaim bahwa mereka sudah berhasil mengalahkan api? Bukankah kerusakan yang ditimbulkan oleh tentara Tuhan berupa api itu sudah mengubah wujud yang sebelumnya ada menjadi tiada?
Adapun tentara Tuhan berbasis non-alam adalah burung ababil yang dikirim Tuhan untuk melawan tentara gajah pimpinan Abrahah yang hendak menyerang kota Mekkah, tempat Kakbah berada. Kesombongan Abrahah yang ingin menyerang rumah Tuhan ini harus dibayar mahal dengan melawan tentara Tuhan berupa burung ababil yang memiliki alutsista super canggih berupa bebatuan panas.
Dikatakan super canggih karena tidak ada satu pun tentara gajah Abrahah yang tersisa, semuanya tewas, termasuk Abrahah.
Lalu, bagaimana dengan covid-19, dapatkah dipetakan sebagai tentara Tuhan? Walaupun tidak sama persis, tetapi ia memiliki kemiripan dengan tentara Tuhan berbasis non-alam.
Oleh karena itu, penanganan covid-19 ini haruslah berbasis pendekatan pendidikan spiritual, yaitu manusia menanggulangi covid-19 ini dengan mengerahkan seluruh sumber dayanya, terutama bertumpu pada penelitian ilmiah medis, tetapi tetap menghadirkan Tuhan untuk menyempurnakan usaha maksimal manusia.
Itulah sebabnya menurut hemat saya, #perangmelawancorona sejatinya diganti menjadi #menanggulangicorona atau #menjinakkancorona atau #berdamaidengancorona. (*)
Oleh: Dr Muljono Damopolii MAg, Akademisi dan Alumnus Pondok Karya Pembangunan Manado
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/dr-muljono-damopolii-mag-234.jpg)