Breaking News:

Update Virus Corona Dunia

Bisnis Lain Terpuruk di Masa Pandemi Corona, Situs Dewasa Malah Panen Duit, Apa Sebab?

Pornhub, situs pornografi terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat, justru panen duit.

NET
Ilustrasi video adegan di situs dewasa. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebagian besar orang harus menghabiskan waktu di dalam rumah setelah merebaknya pandemi virus corona di seluruh dunia.

Pada saat yang sama, hampir semua sektor bisnis mengalami penurunan pendapatan yang signifikan.

Bahkan banyak perusahaan sudah bangkrut atau di ambang pailit.

Namun, Pornhub, situs pornografi terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat, justru panen duit.

Pengunjung situs itu dilaporkan mengalami peningkatan 18 persen dari masa sebelum wabah corona.

Apalagi setelah situs itu memberlakukan masa gratis 30 hari untuk konten premiumnya.

Lantas mengapa orang mengonsumsi makin banyak pornografi (materi/konten porno)? Apakah kesenangan ini punya dampak buruk pada jangka pendek maupun panjang?

Berikut uraian pendek Joshua B Grubbs, guru besar bidang psikologi klinis di Bowling Green State University, Ohio, AS, dalam The Conversation, yang juga dimuat dalam situs Popular Science, popsci.com.

Ia sudah puluhan tahun mendalami masalah pornografi.

Menurut Grubbs, ada banyak alasan orang menggemari pornografi, namun alasan utama mengerucut pada: kenikmatan seksual.

Berdasarkan hasil risetnya, sebagian besar penggunaan pornografi untuk masturbasi.

Namun, ada sejumlah alasan lain mengapa orang menggunakan materi porno.

Stres, kecemasan, dan emosi negatif menjadi sebagian sebab orang mengakses materi porno.

Intinya, orang berpaling ke pornografi dan masturbasi karena merasa dapat lepas sejenak dari stres mereka.

Para periset psikologi juga mendapat temuan bahwa orang menggunakan pornografi makin banyak ketika merasa bosan.

Maka Grubbs menduga kuat bahwa peningkatan konsumsi pornografi yang drastis di masa pandemi sekarang ini karena orang mengalami kebosanan.

Makin bosan, makin tinggi minat untuk mengonsumsi materi porno.

Jadi, kebijakan social distancing untuk mengatasi wabah covid-19, yang menyebabkan orang mengalami isolasi sosial, kesepian, dan stres, menjadi alasan yang masuk akal atas peningkatan konsumsi pornografi.

Menjadi pertanyaan kemudian, apakah peningkatan konsumsi pornografi di masa pandemi ini bakal punya dampak buruk pada masa mendatang?

Sebagai ilmuwan sang profesor tidak yakin bahwa hal tersebut akan menimbulkan masalah sosial yang meluas seperti kecanduan, dan disfungsi seksual berkepanjangan.

Alasannya, belum cukup data selama pandemi ini yang mendukung kesimpulan ke arah itu.

Kesulitan lain untuk membuat prediksi, kata Grubbs, karena berdasarkan studi bahwa sebagian besar konsumen mengaku tidak punya masalah dengan konsumsi pornografi. Meskipun mereka mengonsumsinya setiap hari.

Memang sejumlah telaah ilmiah menemukan hubungan penggunaan pornografi dengan hasil yang mungkin memprihatinkan.

Misalnya, konsumsi pornografi di kalangan pria sering terkait dengan tingkat kepuasan seksual yang rendah.

Namun, kondisi saat ini tidak bisa disimpulkan bahwa konsumsi pornografi yang meningkat dan meluas berarti terkait dengan ketidakpuasan seksual yang meluas di kalangan kaum pria.

Di kalangan perempuan, kata Grubbs, hasilnya lebih tidak jelas.

Sejumlah telaah mendapati pornografi terkait dengan kepuasan seksual yang lebih tinggi pada perempuan, tapi temuan lain justru mendapati tidak ada korelasi sama sekali dengan kepuasan seksual.

Hasil telaah ilmiah yang mengaitkan penggunaan pornografi dengan kesehatan mental mendapati temuan bahwa mengonsumsi pornografi selama berjam-jam tidak dengan sendirinya menyebabkan depresi, kecemasan, dan stres sepanjang waktu, begitu juga tidak menimbulkan disfungsi ereksi.

Memang ada kasus-kasus orang mengakui penggunaan pornografi menyebabkan mereka mengalami disfungsi ereksi.

Namun, telaah skala luas mendapati bahwa penggunaan pornografi tidak terkait dengan masalah disfungsi ereksi dalam jangka panjang.

Pendek kata, kata Prof Grubbs, pornografi yang meningkat sekarang ini tidak akan menyebabkan masalah sosial yang meluas kelak.

Peningkatan besar itu kemungkinan karena pornografi menawarkan pengalihan perhatian orang dari rasa bosan dan stres akibat situasi saat ini.

Bisa jadi juga pornografi membantu "melandaikan kurva" jumlah penderita covid-19, karena membuat orang betah tinggal di rumah. Setidaknya itu berlaku di Amerika Serikat.

Masih kata Grubbs, pada kenyataannya pornografi saat ini menjadi "pintasan" seksual berisiko paling rendah bagi diri sendiri dan sama sekali tidak membahayakan jiwa orang lain.

Awkarin Jadi Sorotan, Berikan Uang Senilai Rp 10 Juta Secara Cuma-cuma ke Netizen

3 Lagu Terbaru yang Dinyanyikan Didi Kempot, Termasuk Lagu Religi Istighfar Sak Kuatmu

Seekor Anjing Terinfeksi Virus Corona, Belanda Umumkan Kasus Pertama Virus Corona Pada Hewan

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Bisnis Pornografi Justru Menangguk Rezeki Besar di Saat Pandemi Melanda Dunia.

Editor: Rizali Posumah
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved