Update Virus Corona Sulut
Pengamat Kesehatan: Tenaga Medis Wajib Gunakan APD Sesuai Standar WHO
Kasus pasien positif di Sulawesi Utara (Sulut) terus meningkat. Diantara kasus tersebut sejumlah tenaga medis telah terkonfirmasi positif covid-19
Penulis: Mejer Lumantow | Editor: Rhendi Umar
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kasus pasien positif di Sulawesi Utara (Sulut) terus meningkat. Diantara kasus tersebut sejumlah tenaga medis telah terkonfirmasi positif covid-19.
Pasalnya, penanganan medis yang dilakukan secara langsung kepada pasien covid-19 membuat mereka sangat rentan terinfeksi virus Corona tersebut.
Melihat hal ini, Pengamat Kesehatan Sulut Jonesius Manoppo mengatakan solusi terbaik untuk melindungi tenaga medis terpapar covid-19 adalah dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standard WHO.
"Sudah ada pedoman penggunaan APD untuk tenaga kesehatan dan pedoman ini di setiap fasilitas kesehatan ada yang mengawasi," jelas Manoppo kepada Tribun Manado.
Lanjutnya, pelaksanaan penggunaan APD sesuai standard ini diawasi oleh Tim Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi (PPI) dan semua fasilitas kesehatan wajib ada. Tugasnya meliputi membuat, memastikan, mengawasi dan mengevaluasi SOP Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi.
"Jadi tim ini memastikan apakah alatnya sudah standar, cara pakainya sudah standar, cara lepas dan pemusnahan sudah sesuai standar atau tidak," sebut Manoppo.
Namun, kata dia, potensi terjangkitnya tenaga medis, apalagi yang sudah positif bisa saja bukan didapatkan dari tempat kerja (Rumah Sakit, atau Puskesmas) tapi dari keluarganya yang lebih dahulu positif.
"Bisa saja tenaga medis sudah melakukan tindakan pengamanan diri yang sesuai standar di tempat kerja, namun ternyata ada anggota keluarga di rumah yang terpapar dari luar, nah ini yang bahaya," ujar Manoppo.
Hal ini dapat dilihat seperti ada tenaga kesehatan yang terbukti kontak erat risiko tinggi dari pasien yang dinyatakan positif sebelumnya. Tentu semua orang waspada, tetapi kalau ada anggota keluarga yang bergejala covid-19 perlu isolasi mandiri di rumah.
"Beberapa Rumah Sakit dan tenaga kesehatan yang terlibat langsung di ruang isolasi pasien covid-19 malah sudah menerapkan isolasi mandiri, artinya mereka sudah tidak tinggal dan atau menjaga jarak dengan keluarganya," jelas Manoppo.
Selain itu, menurutnya, perlu juga di antisipasi dari sisi pasien yang datang memeriksakan diri kepada tenaga medis. Disini, dirinya menekankan kejujuran pasien sangat penting.
"Apakah pernah melakukan perjalanan ke daerah transmisi lokal, atau pernah kontak langsung dengan kasus positif, atau pernah dinyatakan sebagai ODP atau bahkan PDP sebelumnya di tempat lain," ungkapnya.
Untuk itu, harus disadari tenaga kesehatan terutama yang melakukan tracking dan tracing, medis dan paramedis di Puskesmas ataupun Rumah Sakit saat ini mau tidak mau pasti berisiko terpapar.
"Solusinya, semakin sedikit masyarakat yang terpapar, semakin sedikit pula peluang tenaga medis dan paramedis terpapar virus covid-19," terang Dosen Spesialis Epidemiologi dari UNIMA ini.
Disatu sisi, kata Manoppo, kalau pilihan Pemerintah tidak akan memberlakukan PSBB dan memang harus berdamai dengan covid-19, kita harus belajar membiasakan diri untuk cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, menggunakan masker, menghindari kerumunan, dan mereka yang berusia lanjut serta memiliki penyakit kronis harus lebih waspada.
"Jadi, kembali lagi pada kesadaran masyarakat untuk melakukan tindakan protokol pencegahan covid-19 agar penularan virus ini bisa ditekan," kunci Manoppo. (Tribunmanado/Mejer Lumatow)
SUBSCRIBE YOUTUBE TRIBUNMANADO OFFICIAL:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pengamat-kesehatan-sulut-121212.jpg)