Sulut Maju
Sulut Butuh Budaya Mapalus, Bukan Pencitraan
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Covid-19 jadi momok bagi dunia, jutaan orang tewas. Indonesia pun tengah berupaya menangani penyebaran Covid-19, termasuk Sulut di dalamnya.
Saat ini yang dibutuhkan gotong royong. Sulut mengenal mapalus, budaya asli Daerah Nyiur Melambai.
Mapalus berarti bekerja sama untuk kepentingan bersama, bergotong royong, budaya yang sudah mengakar lama sejak nenek moyang kita dahulu.
Hanya dengan bersatu kita bisa melawan Covid-19.
• PDP Covid-19 di Sulut Total 72 Orang, 2 di Antaranya Sudah Meninggal, Ini Rincian Asal Mereka
Itulah yang dibutuhkan Sulut saat ini, mapalus, bukan pencitraan diri masing-masing.
Mapalus, berarti mengikuti arahan pemerintah pusat, di daerah pemerintah provinsi bersama-sama pemerintah kabupaten /kota, dan pata pemangku kepentingan. Pemerintah memberi pengertian, arahan dan bantuan kepada masyarakat.
Masyarakat pun menopang semua program pemerintah, dengan cara ini maka kita bisa melalui pandemi Covid 19 ini.
• Gubernur Tinjau Lab Tes Covid 19 di Mapanget, Segera Dioperasikan, Hasil Kebut 5 Minggu
"Saya menyayangkan ada penolakan soal pemakaman Covid-19. Sudah ada arahan dari pemerintah pusat daerah menyiapkan lahan untuk pekuburan Covid-19. Tentu kita tidak berharap, pekuburan ini digunakan nanti, tapi sebagai pemerintah sudah harus siap sedia," ujar Gubernur Olly Dondokambey.
"Saya sudah mengirim surat ke kabupaten/kota, agar setiap daerah menyiapkan lahan pekuburan, cuma sampai saat ini belum mendengar respons balik.
Syukur-syukur tidak ada penolakan warga jika ada jenazah Covid-19 ketika dimakamkan di pemakaman umum atau pemakaman keluarga, tapi kita perlu bersiap-siap dengan harapan lahan ini tak jadi digunakan," imbuh Olly. (ryo)