Update Virus Corona Sulut
Sembuh Dari Covid-19, Istri dan Anak Pendeta Sugeng Masih Jalani Perawatan
Gembala di jemaat Sidang Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT) Petra ini sembuh setelah hasil dua kali test swabnya negatif.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Maickel Karundeng
TRIBUNMANADO.CO.ID - Sejumlah pasien Covid 19 di Sulut sembuh. Salah satunya Pendeta Sugeng Budi Susanto.
Gembala di jemaat Sidang Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT) Petra ini sembuh setelah hasil dua kali test swabnya negatif.
"Ini semua karena mujizat Tuhan.
Mujizat itu nyata," kata dia.
Meski demikian, istri dan anaknya belum terbebas dari Covid 19.
Keduanya sedang menjalani isolasi di RS Teling Manado.
"Sudah empat hari mereka disana," katanya.
Sebut dia, mereka dalam keadaan sehat.
Ia mengimani mereka sekeluarga akan berkumpul kembali.
"Saya yakin merekaakan dipulihkan Tuhan," katanya.
Sugeng bercerita panjang lebar pada Tribun Manado mengenai pengalamannya terkena Covid 19.
"Semua berawal pada Kamis 26 Maret 2020. Badan saya tak enak, lalu dada mulai sesak.
Batuk dan demam. Mata mulai gelap. Hidung tidak bisa cium bau. Seluruh tubuh tiba-tiba lemas," kata dia.
Ia pun dibawa ke Klinik Siloam yang berada dekat rumahnya.
Sempat mengira jantungnya bermasalah, ia terperangah saat dokter mendapati gangguan di paru paru yang
merupakan gejala Covid 19.
"Waktu EKG jantung saya tidak terjadi gangguan.
Kemudian photo dada, didapati pneumonia.
Gangguan di paru-paru," katanya.
Ia pun dirujuk ke RS Kandou dan ditangani sesuai protokol Covid 19.
Dia menyebut, enam hari pertama di ruang isolasimerupakan masa - masa terberatnya.
Sugeng merasakan hari berjalan lambat.
Berada seorang diri begitu menyiksa.
"Ruangan itu panas karena tanpa pendingin ruangan," kata dia.
Dalam kondisi demikian, sifat dasar manusia muncul.
Ia putus asa dan tawar hati. Imannya melemah.
"Seolah saya sedang berjalan di dalam lembah bayang-bayang maut. Pintu gerbang maut serasa begitu dekat," katanya.
Ia bagai di sakratul maut.
"Saya takut. Saya cemas. Dada sesak dan tubuh tiba-tiba begitu lemah. Pandangan mata saya mendadak kabur.
Saya sudah tidak sanggup," katanya.
Ia berseru pada Tuhan.
Doanya lirih dan pasrah.
"Saya berdoa, ampuni saya Tuhan.
Berikan saya hati yang damai dan tenang.
Kalau toh saya harus pergi biarlah pergi dalam ketenangan. Saya yakin Tuhan pasti jaga isteri dan anak saya." ratapnya dalam doa.
Tiba tiba, begitu ia bersaksi, dia mendengar suara Tuhan berbicara dengan keras dalam dirinya.
"Hidup dan matimu ada di tanganku. Bukan di tangan virus. Kalau belum waktunya, penyakit apapun tidak akan bisa membunuhmu. Tapi kalau sudah waktunya, biar kamu memohon kepadaKu kamu tetap akan mati." begitu suara yang ia dengar.
Bersamaan dengan itu hatinya pun damai.
Nafasnya yang tersendat mulai lega. Mendadak muncul kekuatan dalam dirinya.
"Saya menangis. Bersyukur.Bapa, trima kasih. Mujizat Tuhan begitu nyata," kata dia.
Ia ingat itu hari ketujuh.
Angka tujuh dalam kekristenan punya makna tersendiri.
Semenjak itu ia jadi kuat.
Hingga dua kali hasil swab testnya negatif.
"Pada hari ketujuh itulah Tuhan bebaskan saya dari segala ketakutan dan kecemasan," katanya.
Pengalaman rohani ia dapatkan saat perjamuan jumat agung.
Kala itu, ada seorang pemuda yang juga pasien Covid 19.
Kondisi pasien itu lebih parah dari dirinya.
"Ia saya ajak ikut perjamuan dan saya doakan.
Dan oleh kuasa Tuhan ia lebih dulu keluar dari saya," kata dia.
Sugeng punya kesan sendiri bagi tenaga medis.
Ia menyebut mereka sangat tangguh dan telaten.
"Mereka kontrol kami Jam 6 pagi jam 12 siang, jam 7 malam dan jam 12 malam.
Nyawa mereka pertaruhkan untuk kami. Saya disana sering mendoakan mereka," kata dia. (art)
• Jawaban Soal Segmen 3, Langkah-langkah Membuat Album Foto, Belajar dari Rumah TVRI SD Kelas 1-3
Subscribe Youtube Channel Tribun Manado:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/gembala-di-jemaat-sidang-gereja-pantekosta-tabernakel.jpg)