Profil Tokoh
Fakta Tentang Arief Budiman, Kakak dari Sang Idealis Soe Hok Gie
Arief adalah kakak kandung dari Soe Hok Gie, seorang aktivis tahun 60-an yang dikenal sangat Idealis dalam setiap tulisan-tulisannya.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Arief Budiman meninggal dunia pada Kamis (23/4/2020) di Rumah Sakit Ken Saras, Kabupaten Semarang, sekitar pukul 12.20.
Ia adalah kakak kandung dari Soe Hok Gie, seorang aktivis tahun 60-an yang dikenal sangat Idealis dalam setiap tulisan-tulisannya. Arief Sendiri terlahir dengan nama Soe Hok Djin.
Arief meninggalkan istrinya, Leila Chairani Budiman, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki dan beberapa orang cucu.
Arief Budiman menjadi tenaga pengajar di University of Melbourne dari tahun 1996-2008, demikian dikatakan oleh Profesor Vedi Hadiz dalam pernyataan yang dikeluarkan Asia Institute atas nama universitas tersebut.
Menurut Vedi Hadiz yang juga berasal dari Indonesia, Profesor Arief Budiman merupakan pendiri studi Indonesia di universitas tersebut dan mereka yang mengenalnya pasti mengenal dengan rasa bangga.
"Arief dikenal dengan seseorang yang memiliki integritas dan keberanian, hal yang membuatnya sering berurusan dengan pemerintah Indonesia di masa Orde Baru."
"Dia adalah seorang akademisi aktivis dalam arti sebenarnya, dan menjadi mentor bagi banyak akademisi, termasuk saya," tambah Vedi.
"Saya bangga bisa mengenal dia dengan baik. Saya juga senang bisa mengunjungi dia beberapa kali dalam tahun-tahun terakhir, selama dia menderita sakit yang panjang." kata Vedi lagi.
Menurut Dodi Ambardi, menantu Arief Budiman kepada ABC Indonesia, Arief meninggal pukul 11.40 pagi tadi di Rumah Sakit di daerah Bawen.
"Beberapa hari lalu beliau masuk ICU," katanya.
Selama dua tahun terakhir, menurut Dodi Ambardi, Arief Budiman tinggal di Salatiga.
"Dia di Salatiga, cuma di rumah saja. Ruang kamarnya yang diperluas untuk jalan dan gerak di rumah. Itu sudah dua tahun terakhir kalau gak salah. Sesekali saja ke Jogja, ke tempat saya." kata Dodi.
Kabar meninggalnya Arief Budiman juga disampaikan oleh salah seorang rekan lamanya, Profesor Ariel Heryanto.
"Selamat jalan kawan lama dan rekan sejawat Arief Budiman. Terima kasih atas semua yang kau sumbangkan untuk Indonesia," tulis Profesor Ariel Heryanto yang baru saja menyelesaikan tugasnya bulan Maret lalu menjadi Direktur Herb Feith Indonesian Engagement Center di Monash University di Melbourne.
Di era1990-an, Ariel Heryanto dan Arief Budiman pernah sama-sama menjadi tenaga pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, sebelum kemudian pindah ke luar negeri, setelah adanya konflik dengan pengelola universitas tersebut.
Kakak Soe Hok Gie
Bagi generasi muda Indonesia, Arief Budiman mungkin lebih dikenal dalam hubungannya dengan Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa yang meninggal pada1969 di Gunung Semeru, yang kemudian kisah hidupnya difilmkan dengan judul Gie.
Arief Budiman sendiri di masanya terkenal dengan berbagai aktivitas yang dilakukannya baik ketika menjadi mahasiswa Universitas Indonesia maupun ketika kemudian sosiolog dalam memberikan berbagai pendapat mengenai dunia politik dan sosial di Indonesia lewat buku-buku yang ditulisnya maupun komentarnya di media massa.
Arief Budiman dilahirkan dengan nama Soe Hok Djin pada tanggal 3 Januari 1941 di Jakarta.
Salah seorang yang mengenalnya sejak kecil adalah Dewi Anggraini, seorang penulis dan wartawan asal Indonesia yang sekarang tinggal di Melbourne.
"Waktu kecil/muda kami tinggal di kawasan yang sama. Arief selalu mengatakan kami bertetangga, tapi sebenarnya rumah kami berjarak kira-kira 500 meter. Ibu kami saling kenal." kata Dewi kepada wartawan ABC Indonesia, pada Kamis (23/4/2020).
"Waktu itu Arief tidak suka berbicara dengan perempuan muda, jadi kami jarang sekali mengobrol, cuma saling menyapa saja," kata Dewi lagi.
Dewi Anggraini yang pernah menjadi koresponden majalah Tempo di Australia tersebut kemudian bertemu lagi dengan Arief Budiman dan keluarganya ketika mereka tinggal di Melbourne.
"Pertama ketemu di Australia waktu ada konferensi-konferensi di Melbourne dan Monash, kalau tidak salah.
Lalu waktu dia diangkat menjadi professor di Melbourne Uni, mulai mengambil posisinya pada 1997 kami sering ketemu, dengan Leila (istrinya) juga tentunya," kata Dewi lagi.
Apa yang dikenang Dewi soal Arief Budiman dari sisi keilmuwanan?
"Tidak mudah memasukkan Arief Budiman dalam kotak, sisi, atau kategori. Dia melihat suatu situasi dengan intelek dan intuisinya"
"Arief adalah seorang intelektual yang paling tidak menonjolkan diri, dan tidak memandang rendah orang lain, meskipun mereka berbeda pandangan."'
"Orang yang segera teringat yang dapat saya bandingkan dengannya ialah Herbert Feith (ilmuwan Australia yang banyak melakukan penelitian mengenai Indonesia)." kata Dewi Anggraini.
Dalam dunia pergerakan mahasiswa Arief dikenal sebagai bagian dari Gerakan 66 yang menentang pemerintahan Soekarno pada 1960-an.
Setelah menamatkan pendidikan sarjana dari UI pada 1968 dari jurusan psikologi, Arief mendapatkan gelar Doktor dari universitas terkenal di Amerika Serikat Harvard University di bidang sosiologi pada 1980.
Sekembalinya dia ke Indonesia, Arief Budiman mengajar di Universitas Satya Wacana, sebelum kemudian sejak 1996 pindah ke University of Melbourne.
Setelah pensiun pada 2008, Arief Budiman masih tinggal di Melbourne, dan bolak balik Indonesia-Australia, setelah dia kemudian terkena Parkinson.
Istrinya Leila Ch Budiman juga dikenal luas oleh masyarakat sebagai pengasuh Ruang Konsultasi Psikologi di harian Kompas selama bertahun-tahun.
Ucapan duka dari Jepang
Setelah beredar kabar meninggalnya Arief Budiman di media sosial maupun di media massa, ucapan duka bermunculan dari mereka yang mengenalnya.
Di halaman Facebook Ariel Heryanto ratusan orang sudah menyampaikan belasungkawa.
Salah seorang diantaranya bernama Natsuko Saeki daari Jepang yang menulis "Turut berduka cita. RIP.
Beliaulah yang membuat kami di Jepang untuk membangun solidaritas dengan teman-teman aktivis demokratisasi di Indonesia pada akhir 90-an."
Yang lainnya Handry Tim menulis "Indonesia kehilangan partner diskusi yang keras namun lembut pikiran. Selamat jalan, Pak Arief."
Dan aktivis Nug Katjasungkana menulis "Rest in Power, Bung Arief... Dukacita dari Timor-Leste kepada keluarga dan para sahabat yang ditinggalkan."
Di mata sang istri
Kepergian sosiolog Arief Budiman meninggalkan duka mendalam bagi istrinya, Leila Ch. Budiman.
Leila mengenang Arief sebagai seorang akademisi yang selalu mencari kebenaran dan sosok yang apa adanya.
"Pak Arief itu selalu sederhana orangnya, enggak belok-belok. Luruslah. Ada keinganan kuat, will power yang besar sekali," kenang Leila usai pemakaman Arief Budiman di Makam Bancaan Salatiga.
Menurut Leila, di saat sakitnya, Arief tidak pernah mengeluh. Bahkan dia berusaha untuk melakukan hal-hal yang tak bisa dilakukan seperti berjalan keliling meja.
"Dokter yang merawat itu bilang, kalau ventilator diangkat Pak Arief akan berhenti napasnya. Dan kita tidak boleh dekat-dekat, hanya bisa lihat dari jauh. Tapi saat diangkat itu, baru boleh dekat. Pak Arief happy, bilangnya gak usah sedih," papar Leila.
Saat itu dia juga kaget karena Arief Budiman bisa bernapas lancar.
"Tensinya juga normal, dari 190 jadi 105, ini kan aneh. Tapi sangat happy dan ada keinginan kuat. Pak Arief akhir-akhir ini juga relijius," imbuhnya.
Leila mengatakan, pada saat dibawa ke rumah sakit, kondisi Arief sudah lemas. Padahal biasanya kaku karena penyakit parkinson yang dideritanya.
"Bilanya itu sudah stroke, karena lemas sekali," jelasnya.
Pada saat-saat terakhirnya, Arief Budiman senang menyanyikan lagu-lagu nasional seperti Indonesia Raya dan Indonesia Pusaka, bersama perawatnya yang bernama Wawan Surawan.
Wawan mengungkapkan, Arief Budiman dilarang beraktivitas berat sejak pulang dari mengajar Australia ke Salatiga.
"Itu paling jalan-jalan, kondisinya juga cukup baik. Kalau keluar pakai sopir, aktivitas hanya di rumah, keluar kota hanya ke Yogya. Untuk mengajar, sudah lama istirahat," paparnya.
Hal ini karena sakit yang diderita Arief Budiman adalah parkinson jenis kaku.
"Kakinya sebagian kaku, kaku sekali yang kiri. Nulisnya juga sudah tidak, sudah tidak mau mikir yang berat-berat. Paling kalau cerita sedikit-sedikit," ungkapnya.
Sementara Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Neil Rupidara, menilai Arief Budiman lebih dari seorang akademisi.
"Beliau mempunyai reputasi nasional dan juga sangat dihormati dan dihargai di tingkat internasional. Kajiannya tentang Indonesia, pemikiran-pemikiran beliau diterima secara luas, di dalam dan di luar negeri. Pemikiran beliau juga bisa diterima di Australia, di Melbourne University tempat beliau mengabdi setelah dari UKSW," papar Neil.
• KRONOLOGI Oknum Anggota DPRD Ngamuk karena Mobilnya Disemprot Disinfektan Tim Gerak Cepat Covid-19
• Kumpulan Ucapan Selamat Berbuka Puasa Ramadan 2020, untuk Orang Terdekat dan Status di Sosmed
• Empat Pastor Rayakan HUT Imamat ke-25 Dengan Misa Online, Ini Kisah Unik Tiga Dari Mereka
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "University of Melbourne Sampaikan Belasungkawa Atas Meninggalnya Profesor Arief Budiman" dan "Arief Budiman di Mata Sang Istri: Akademisi yang Mencari Kebenaran".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/foto-arief-budiman-soe-hok-djin-dan-adiknya-soe-hok-gie.jpg)