Update Virus Corona Indonesia
WASPADA, Masker Bekas Ternyata Rentan Sebarkan Virus Corona, Ini Penjelasannya
Tjetjep Yudiana mengatakan, masker ini selain dapat membantu pencegahan penularan virus, namun juga dapat mencelakakan
TRIBUNMANADO.CO.ID - Penularan virus corona lewat masker juga nyatanya masih bisa terjadi.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kepri Tjetjep Yudiana mengatakan, masker ini selain dapat membantu pencegahan penularan virus, namun juga dapat mencelakakan.
Hal ini karena masker merupakan barang pribadi yang jika tidak tepat dikelola bekas pakainya atau sampahnya, malah akan berdampak fatal bagi orang lain.
"Bayangkan saja, masker itu dipergunakan untuk menutupi mulut dan hidung, tentunya banyak virus yang tersimpan di masker tersebut. Jika sampahnya dibuang sembarang, hal inilah yang akan mengancam balik masyarakat lainnya. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui hal ini, maka dari itu kita harus bijak dalam membuang barang bekas ini," kata Tjetjep melalui telepon, Minggu (19/4/2020).
Tjetjep berharap kepada masyarakat Kepri agar membuang sampah masker atau masker bekas pakai ditempat sampah atau jangan membuangnya sembarang.
Selain itu, Masker yang dibuang diharapkan untuk disemprot disinfektan atau dengan hand sanitizer dan kemudian digunting.
“Bagusnya lagi usai digunting, masker tersebut dibungkus dengan kantong plastic lalu dibuang di tong sampah. Sebab masker bekas yang dibuang sembarangan menjadi salah satu jalan penularan virus Covid-19 tanpa kita sadari,” jelas Tjetjep.
Terlebih, lanjut Tjetjep yang menggunakan masker dalam keadaan pilek atau batuk. Jika maskernya dibuang sembarangan, maka virusnya akan menyebar. Hal inilah yang ditakutkan saat ini.
Ia menjelaskan, virus yang menempel di masker masih berproduksi, sebab masa inklubasi virus tersebut adalah 14 hari.
“Jadi sekali lagi saya ingatkan, masker setelah dipergunakan jangan dibuang sembarangan agar infeksinya tidak menular, sebab hal itu membahayakan," pungkas Tjetjep.
Diketahui saat ini Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Kota mengharuskan warganya untuk menggunakan masker.
Jika masker ini dibuang sembarangan, bisa dibayangkan dampak negatifnya dari masker bekas ini terhadap lingkungan, karena masa inkubasinya 14 hari.
Wajib Pakai Masker Saat Keluar Rumah, Tak Berarti Berbas Bertemu Orang
Penggunaan masker wajah bagi setiap orang saat berada di luar rumah, telah diserukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Namun, pemakaian masker wajah, baik itu masker yang kita beli di toko maupun masker DIY, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan jarak sosial ( social distancing).
" Masker wajah tidak menggantikan jarak sosial," kata Peter Gulick, spesialis penyakit menular dan profesor kedokteran di Michigan State University.
Dia menambahkan, masker darurat dapat berguna saat kita berada di supermarket dan apotek yang notabene merupakan tempat tersulit untuk menerapkan jarak sosial.
Namun, masker ini tidak bisa digunakan sebagai pengganti jarak sosial.
"Fungsi masker bukanlah untuk dipakai sehingga kita bisa lebih dekat dengan orang lain," ujar Gulick.
Masker mencegah kuman menyebar ke orang lain
Pada awal masa pandemi Covid-19, WHO dan Centers for Disease Control and Prevention menyatakan kita tidak perlu memakai masker wajah kecuali dalam kondisi sakit.
Jika kita sakit dan mengenakan masker wajah, maka itu akan mencegah kita menyebarkan kuman atau virus ke orang lain.
Namun sekarang, semua orang harus memakai masker, bahkan jika kita tidak merasa sakit.
Para ahli telah mempelajari, banyak orang yang terinfeksi Covid-19 tidak menunjukkan gejala, dan beberapa penelitian mengungkap hingga 50 persen orang dengan virus corona tidak menunjukkan gejala.
Kita juga diimbau agar berperilaku layaknya seseorang yang sudah mengidap virus corona.
Dengan menutup wajah di depan umum, kita membantu orang lain agar tetap aman dari kuman atau virus yang kita bawa.
Perlindungan dengan memakai masker wajah lebih baik daripada tidak melindungi diri sama sekali.
Tetapi itu bukan menjamin kita terbebas dari virus, terutama dengan masker wajah yang kita buat di rumah.
"Dalam hal perlindungan yang diberikan masker dan bandana DIY, bukti secara keseluruhan tidak meyakinkan," kata Lili Barsky, penyedia perawatan darurat di daerah Los Angeles.
Barsky menambahkan, masker tidak melindungi mata kita, cara lain yang memungkinkan virus dapat ditularkan.
"Partikel Covid-19 juga dianggap kecil dan berpotensi menembus masker atau tertahan di dalam kain, bahkan masker medis tidak memberikan perlindungan 100 persen," katanya.
Gary Slutkin, mantan kepala pengembangan intervensi WHO juga mengatakan masker wajah tidak kedap udara.
"Masker tidak kedap udara di sepanjang sisi dan sulit dipakai dengan benar. Virus masih bisa sampai ke kita melalui udara jika kita terlalu dekat," ujar Slutkin.
Jadi, kita tidak dapat benar-benar mengandalkan masker wajah semata.
Masker dapat bertindak sebagai suplemen untuk langkah-langkah kesehatan lain yang kita ambil, tutur Aimee Ferraro, ahli epidemiologi.
Ferraro mengatakan, dalam sebagian besar kasus, virus corona menyebar melalui tetesan pernapasan yang lebih besar yang dapat dihalau sebagian oleh semacam penutup mulut dan hidung.
"Selain itu, ada konsep pengurangan dampak buruk penyakit menular yang mengindikasikan penurunan dosis patogen memungkinkan tubuh kita lebih banyak waktu untuk mengembangkan kekebalan," kata dia.
Artinya masker wajah menawarkan cara untuk membantu mengurangi "dosis" virus corona yang ditularkan.
"Sesuatu apa pun lebih baik dalam mengurangi risiko infeksi virus corona daripada tidak sama sekali," kata Ferraro.
Bukan berarti bebas bertemu seseorang
Jika kita ingin menjaga diri dan komunitas kita dari virus corona, kita harus menerapkan jarak sosial.
Masker wajah tidak menggantikan jarak yang perlu kita jaga dari orang lain, kata Philip Robinson, direktur pencegahan infeksi di Hoag Memorial Hospital Presbyterian di Newport Beach, California.
"Setiap orang yang melakukan isolasi diri mengurangi risiko menulari orang lain," kata Robinson.
Ia menambahkan, dalam waktu 30 hari, seorang individu yang tidak mempraktikkan jarak sosial berisiko menginfeksi ratusan orang.
"Dengan mengurangi kontak fisik sebesar 75 persen, risiko infeksi individu itu merosot menjadi 2,5 orang," katanya.
Sementara itu, menurut David Fein, pendiri dan direktur medis Princeton Longevity Center menyebut, masker dapat membantu mengurangi penyebaran virus, tetapi memakai masker tidak membuat kita benar-benar aman.
Jarak sosial, dengan langkah-langkah pencegahan seperti memakai masker wajah adalah satu-satunya cara kita dapat memperlambat penyebaran virus corona saat ini.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Hati-hati, Masker Bekas Dipakai Ternyata Rentan Sebarkan Virus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/masker-kain-wajib-kita-pakai-nyatanya-hanya-boleh-digunakan-selama-4-jam-dalam-1-hari.jpg)