Breaking News
Sabtu, 9 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Update Virus Corona Sulut

Dampak Covid-19, Adit Gadaikan Ponsel Demi Makan, 1.500 Pekerja Kena PHK, 3.000 Dirumahkan

"Kami cuma diminta tetap stan by jika ada panggilan, selama dirumahkan gaji tidak dibayar," kata dia.

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Maickel Karundeng
artur rompis/tribun manado
Suasana perbatasan Bolmong dan Minsel di Jembatan Poigar. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Hari-hari gelap bagi Asyer bermula pertengahan Mei lalu.

Kala itu, pekerja salah satu pusat perbelanjaan di Manado ini, dirumahkan perusahaan tempatnya bekerja.

"Kami cuma diminta tetap stan by jika ada panggilan, selama dirumahkan gaji tidak dibayar," kata dia.

Tanpa pendapatan, warga Minut ini, kelimpungan membiayai hidup.

Makan sehari saja terasa sulit.

"Kami makan seadanya saja, nasi dan telur, atau mi instan, itupun sehari dua kali," kata dia.

Sebut Asyer, tagihan kreditnya menumpuk.

Mulai dari ponsel, sepeda motor hingga mesin cuci.

"Saya tak tahu lagi mau bayar dengan apa," kata dia.

Asyer sama sekali belum menemukan solusi bagaimana bertahan hidup.

"Mau usaha butuh modal, tapi uang dari mana," kata dia.

Wabah Covid 19 memukul perekonomian Sulut.

Sejumlah perusahaan kehilangan pendapatan.

Akibatnya karyawan di PHK atau dirumahkan.

Di Sulut, data dinas tenaga kerja Sulut sebagaimana dilansir dari Kompas.com, sebanyak 1.500 pekerja di Sulut terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan 3.000 dirumahkan karena pandemi corona (Covid-19).

"Rata-rata dari pekerja perhotelan. Jumlah tersebut dipastikan bertambah, karena ada perusahaan yang tutup mulai April ini," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulut Erny Tumundo.

Dia menuturkan, solusi saat ini sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi), para pekerja yang dirumahkan maupun di PHK diusahakan mendapatkan Kartu Pra Kerja.

"Juga ada pelatihan secara online, kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan bagi sektor formal," tuturnya.

Adit salah satu pekerja pariwisata di Manado mengaku terpaksa menggadaikan barang untuk menyambung hidup.

Motor sudah tergadaikan, menyusul ponsel kesayangannya.

"Kalau tak demikian kita sulit makan," katanya.

Lina, warga Lolak coba berbisnis di masa krisis ini.

Ia menjual donat yang bisa diantar ke rumah rumah.

"Ini untuk para pekerja yang masih stay di kantor dan penghuni kos kosan," katanya.

Wimfried seorang pengusaha dari Bolmong mengaku kesulitan menggaji karyawannya.

Dalam sebulan, pembeli hanya bisa dihitung dengan jari.

"Tapi saya tak berpikir mem PHK mereka, meski gaji mereka sulit dibayar," kata dia.

Pemkab Bolmong akan mendata 2500 pengangguran di Kabupaten Bolmong sebagai salah satu cara penanganan dampak wabah Covid 19.

Hal itu disampaikan Sekda Bolmong Tahlis Gallang dalam rapat membahas pembentukan pos tapal batas di ruang aula lantai 2 Pemkab Bolmong pada pekan lalu.

Asisten 1 Pemkab Bolmong Dekker Rompas mengatakan, pihaknya sementara melakukan persiapan pendataan para penganggur.

"Kami laksanakan sesuai petunjuk, ada 2500 penganggur yang akan kami data," kata dia.

Dekker belum membeber secara rinci apa yang akan didapatkan para penganggur dalam data tersebut.

Hal itu masih akan dikaji.

"Semua bergantung putusan pimpinan," kata dia.

Selain mendata pengangguran, beber dia, pihaknya juga akan mendata tambahanNjumlah penerima BLT. (art)

 Data Terkini Covid-19 Dunia, (13/4/2020): Tembus 1.847.095 Kasus, 113.902 Meninggal & 422.488 Sembuh

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved