Tradisi Katolik

Sejarah Pembasuhan Kaki Kamis Putih, Dilakukan dari Zaman Yesus hingga Paus Fransiskus

Saat misa Kamis Putih di gereja, pastor akan mengenang tradisi pembasuhan kaki.

L'Osservatore Romano via Tribun Jambi
Suasana saat Paus Fransiskus mencium kaki seorang pria saat ritual pembasuhan kaki di pusat migran Castelnuovo di Porto dekat Roma. Pembasuhan kaki itu saat Kamis Putih (24/3/2016). 

Sedangkan tentang pembasuhan kaki penekanannya tidak untuk menghadirkan kembali peristiwa itu, tetapi untuk memberikan teladan pelayanan dan kasih Kristus.

Paus Fransiskus mencium kaki seorang pria saat ritual membasuh kaki di pusat migran Castelnuovo di Porto dekat Roma, saat Kamis Putih (24/3/2016)
Paus Fransiskus mencium kaki seorang pria saat ritual membasuh kaki di pusat migran Castelnuovo di Porto dekat Roma, saat Kamis Putih (24/3/2016) (L'Osservatore Romano)

Maka tak mengherankan, jika Paschale Solemnitatis kemudian mengatakan:

“51. Pencucian kaki dari para laki-laki dewasa yang terpilih, menurut tradisi, dilakukan pada hari ini [Kamis Putih], untuk menyatakan pelayanan dan cinta kasih Kristus, yang telah datang “bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.”

Tradisi ini harus dipertahankan, dan pentingnya maknanya dijelaskan secara sepantasnya.”

Karena maksud pencucian kaki ini adalah untuk menyatakan pelayanan dan cinta kasih Kristus, maka tidak ada kaitan langsung antara upacara pembasuhan kaki ini dengan tahbisan imam.

Maka sekalipun dari 12 orang yang dibasuh oleh Paus itu ada wanitanya, tidak dapat dikatakan bahwa Paus setuju untuk menahbiskan wanita.

Ketika ditanya perihal tahbisan wanita, Paus Fransiskus menjawab, “Sehubungan dengan tahbisan wanita, Gereja telah memutuskan dan mengatakan tidak. Paus Yohanes Paulus II telah mengatakan demikian, dengan rumusan yang definitif. Pintu itu sudah tertutup.”

Paus Fransiskus mengacu kepada dokumen yang dituliskan oleh Paus Yohanes Paulus II, Ordinatio Sacerdotalis.

Di sana Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Gereja tidak berhak menahbiskan wanita, dan pandangan ini harus dipegang oleh semua, sebagai sesuatu yang definitif.

Pada akhirnya baik diingat bahwa ritus pembasuhan kaki adalah ritus optional, dan baru dimasukkan ke dalam bagian Misa pada 1955 oleh Paus Pius XII.

Maka walaupun memiliki sejarah yang panjang, namun detail pelaksanaannya memang mengalami perubahan dari masa ke masa. Namun karena tidak menjadi ritus yang mutlak, maka hal tersebut memungkinkan untuk disesuaikan oleh pihak Tahta Suci, jika kelak memang diputuskan demikian.

Jika hal pencucian kaki ini menimbulkan banyak pertanyaan baik dari kalangan umat maupun imam, tentunya ini akan ditanyakan kepada Kongregasi Penyembahan Ilahi, yang berwewenang untuk menjelaskannya lebih lanjut.

Namun sejauh ini, sepanjang pengetahuan kami, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kongregasi tersebut, selain dari ketentuan Paschales Solemnitatis, 51, seperti telah disebutkan di atas.

Maka sebelum dikeluarkan penjelasan lebih lanjut, sebaiknya kita berpegang kepada ketentuan tersebut, namun tetap menghormati keputusan Paus yang pasti mempunyai pertimbangan tersendiri, jika ia memutuskan untuk melakukan kekecualian ataupun penyesuaian dari ketentuan itu.

Itulah makna dan sejarah dari pembasuhan kaki saat Kamis Putih.

(*)

BERITA TERPOPULER :

 BREAKING NEWS Hasil Rapid Test Dinkes Tomohon, 2 Orang Dinyatakan Positif Virus Corona

 Maia Estianty Kenakan Busana Serba Hitam, Nyanyikan Lagu Penghormatan untuk Alm Glenn Fredly

 50 Gambar Poster Edukasi Pencegahan Virus Corona/Covid-19, Mudah Dipahami Anak-anak

TONTON JUGA :

Artikel ini telah tayang di Tribunjambi.com dengan judul Inilah yang Terjadi saat Kamis Putih, Sejarah Pembasuhan Kaki dari Zaman Yesus s/d Paus Fransiskus

Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved