Breaking News:

Informasi Otomotif

Jangan Sembarangan, Menyetir Mobil Sport Berbeda dengan Mobil Biasa, Ini Alasannya

Menurut Marcell, hal tersebut secara bersamaan juga bisa meningkatkan fictitious force (rasa badan tertarik ke belakang).

Sumber : - | Author : Automobilemag
Toyota FT-1 

Menyikapi indisen ini, Jusri Pulubuhu, pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), mengatakan ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang mengalami kecelakaan.

Dalam kasus mobil sport, meskipun dikendarai oleh seseorang yang berpengalaman bukan berarti bisa menghindari adanya kecelakaan, apalagi mengingat bidang lintasnya berada di jalan raya.

"Masalahnya ada banyak juga orang terampil berkendara super car yang melupakan hal-hal bersifat nonteknis, "kata Jusri saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (4/4/2020).

"Biasanya, orang yang mengendarai mobil atau motor bertenaga buas selalu berfikir hanya bagaimana menaklukan, tapi mereka lupa atau bahkan tidak tahu ada hal-hal di luar pengetahuan teknis yang bisa membiaskan referensi yang sudah dimiliki," ucap dia.

Lebih lanjut Jusri mengatakan, biasanya orang yang akan mengendari kendaraan dengan mesin atau kemampuan di atas rata-rata, cenderung akan memiliki rasa deg-degan, di sini ada peran hormon endrofin yang bekerja, seperti sebuah zat penghilang stres yang bisa dihasilkan alami oleh tubuh.

Makin menjadi lagi saat sudah duduk di kokpit atau berada di belakang kemudinya, dan pada momen endrofin makin tinggi langsung berubah menjadi adrenalin.

"Saat sudah mencapai tahap adrenalin, biasanya seketika itu pula resensi, logika, dan pengetahuan teknis bisa hilang.

Fokus atau orientasi lebih pada bagaimana mengendalikan dan menaklukan kendaraan tersebut," ujar Jusri.

"Tak hanya itu, aspek-aspek yang sudah pernah dipelajari dan dimiliki seseorang mengenai teknis berkendara bisa gugur, ini yang dimaksud aspek di luar nonteknis tadi," kata dia.

Lebih lanjut Jusri menjelaskan ada tiga karakter yang wajib diadopsi pengendara sebelum memacu kendaraan, terutama pada jenis motor atau mobil yang memiliki performa buas, layaknya Nissan GT-R R35, yakni tenaga, rem, dan handling.

"Secara aspek teknis, tiga aspek tadi harus dikuasai dulu, diadopsi dulu oleh pengendaranya.

Pada mobil ini (GT-R) yang sudah dalam spesifikasi luar biasa dari tenaga, tiga karakter tadi sudah wajib dipahami dan diterapkan sebelum mengendarainya," ucap Jusri.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Jangan Samakan Nyetir Mobil Sport dengan Mobil Biasa

Editor: Gryfid Talumedun
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved