Pasien Suspect Corona Meninggal di RS Kandou

Seorang pasien dalam pengawasan (PDP) Coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Sulawesi Utara meninggal dunia.

dewangga ardiananta/tribun manado
Ruang Isolasi di RSUP Kandou Malalayang 


TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Seorang pasien dalam pengawasan (PDP) Coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Sulawesi Utara meninggal dunia. PDP berumur 65 tahun asal Kota Tomohon itu meninggal dalam perawatan di Ruang Isolasi RSUP Prof Kandou, Kota Manado, Jumat (3/4/2020), pukul 09.30 Wita. Pasien menderita penyakit penyerta jantung dan lainnya.

Bagian Surveilans Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19 Sulut, Arthur Tooy membenarkan satu PDP asal Tomohon meninggal. "Iya, benar bahwa ada satu pasien kriteria PDP yang dirawat di Ruang Isolasi RSUP Prof Kandou Manado, meninggal dunia Jumat pagi," katanya pada pernyataan pers terkait perkembangan Covid di Sulut, Jumat kemarin.

Kata Tooy, pasien awalnya dirawat di RS Bethesda Tomohon dan dirujuk ke RSUP Prof Kandou. "Sekitar 5 hari dirawat di RS Kandou dan terakhir Kamis (2/4/2020) pasien mulai lemah dan meninggal dunia Jumat pagi," kata dia. Lanjut Arthur, pasien mengalami penyakit penyerta berupa sakit jantung dan penyakit lainnya. "Untuk penyebab kematian pasien belum bisa kami pastikan saat ini, karena masih menunggu hasil pemeriksaan swab (tes Corona)," katanya.

Tukang Ojek Antre Beras ODSK: Memasok Bantuan ke Tatelu

Informasi meninggal seorang PDP asal Tomohon di RS Kandou dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Tomohon, dr Deesje Liuw. "Iya PDP asal Tomohon pria berusia 69 tahun sudah meninggal," katanya. Meski begitu, menurut Liuw, untuk pasien yang mulai dirawat 29 Maret tersebut, belum bisa dipastikan apakah positif Corona atau tidak. Kata Kadis, belum ada hasil pemeriksaan swab tenggorokan. "Positif itu hanya bisa diperiksa di RS Kandou. Dia masih masih status PDP," ungkapnya.

Sekretaris Kota Tomohon yang juga Ketua Satgas Covid-19 Tomohon, Harold Lolowang membenarkan. "Iya PDP asal Tomohon sudah meninggal dan dikuburkan tadi," kata Lolowang, tadi malam. Proses penguburan sengaja tidak dipublikasikan karena, menurut Lolowang, hal itu berdasarkan panduan penata pelaksanaan jenazah suspect Covid-19. Dalam panduan itu, dijelaskannya jenazah yang menderita pheunomia, ISPA, ISPB, ARDF dengan atau tanpa kontak dengan Covid-19 yang mengalami perburukan harus dilakukan penataan jenazah suspect Covid-19.

"Artinya kalau ada orang yang dirawat dengan masalah penyakit paru-paru atau TBC kemudian meninggal. Walaupun dia tidak positif Covid-19, tapi demi berjaga harus dilakukan sesuai panduan protokol penataan pelaksaan jenazah suspect Covid-19," katanya lalu menjelaskan untuk suspect artinya menunggu, bisa positif atau tidak. 

"Kita tidak bisa menghakimi jenazah itu positif atau tidak, karena kan baru suspect. Nanti setelah dikeluarlan hasil dari laboratorium Bapelkes Jakarta dan hasil swab tenggorokan. Kalau postif Corona baru bisa dihakimi dia Corona. Namun kalau negatif tentu dia meninggal karena sebab lain. Tapi yang pasti statusnya masih PDP," terangnya.

Diterangkan Lolowang, prosesi penguburan PDP dilakukan langsung dari pihak RS dengan melibatkan pemerintah setempat serta dihadiri keluarga. "Langsung dilakukan penguburan tapi tetap dilakukan ibadah. Kemudian yang hadir juga dibatasi. Sementara untuk jenazah dibungkus dan disemprotkan disinfektan. Serta ditutup lubang hidung dan mulut sampai tidak mengeluarkan cairan," pungkasnya. 

Unsrat Produksi Masker Anti-Covid-19

Tinggal Menunggu Waktu

Dokter Adi Tucuan, Pengamat Kesehatan dari FKM Unsrat mengatakan, turut berduka cita. Saya meminta memperketat pengawasan di daerah perbatasan. Dalam kasus seperti sekarang, kita tinggal menunggu waktu akan ada korban jiwa, yang memang sama dengan di tempat lain.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved