Cegah Virus Corona
Pengamat Intelijen Ingatkan Fadli Zon dan Rizal Ramli: Situasi Darurat Ini Seharusnya Evaluasi Diri
Mereka mempermasalahkan kedatangan 49 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok melalui Bandara Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara,
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pengamat politik dan intelijen meminnta Fadli Zon dan Rizal Ramli agar menahan diri untuk tidak memperkeruh situasi ditengah virus corona melanda Indonesia
Hal ini menanggapi Mantan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon seolah bersahut-sahutan dengan ekonom dan mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli dalam cuitannya di akun Twitter.
Mereka mempermasalahkan kedatangan 49 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok melalui Bandara Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (15/3/2020).
Dalam cuitannya, Rizal mengecam para pejabat yang merangkap jadi pengusaha yang tidak memperhatikan kepentingan nasional.

Fadli Zon kemudian merespons cuitan Rizal dengan menuduh mereka yang memberi izin masuk TKA sebagai pengkhianat bangsa.
Menanggapi cuitan kedua tokoh tersebut, pengamat politik dan intelijen Suhendra Hadikuntono memberikan apresiasi terhadap kepedulian Fadli Zon dan Rizal Ramli.
Namun, menurut Suhendra, selayaknya dalam kondisi bangsa yang sedang menghadapi darurat penyebaran virus Corona atau Covid-19 ini kedua tokoh itu bisa menahan diri untuk tidak memperkeruh situasi.
"Meskipun secara obyektif pandangan Rizal Ramli dan Fadli Zon tersebut benar, tapi seharusnya mereka bijak dalam mengeluarkan pendapat.
Setiap orang memang bebas berpendapat, namun dalam situasi darurat begini mereka seharusnya melakukan evaluasi diri apakah pendapatnya yang dikutip media tersebut produktif atau tidak bagi kemaslahatan bangsa," ujar Suhendra yang dihubungi media, Kamis (19/3/2020).
Suhendra mengimbau semua pihak, terutama para tokoh bangsa untuk bahu-membahu membantu pemerintah pusat
maupun daerah dalam menciptakan situasi kondusif bagi proses penanganan Covid-19 yang sampai hari ini sudah memakan korban 25 jiwa.
Menurut Suhendra, mereka seharusnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi ke masyarakat.
Setiap informasi ke publik, jelasnya, harus didahului dengan analisis intelijen yang akurat serta melakukan check and recheck.
Suhendra juga menyarankan lembaga intelijen baik di pusat maupun daerah agar berhati-hati menganalisis masalah.
Masukan yang diberikan kepada otoritas pejabat setempat menurut Suhendra harus disertai analisis dampak sosial politik yang mendalam.
Khusus mengenai kedatangan TKA asal Tiongkok di Kendari, menurut Suhendra, menunjukkan aparat intelijen setempat tidak peka memaknai dampak sosial politik yang terjadi dalam situasi negara yang sedang darurat menangani Covid-19.
"Tugas intelijen itu memberi masukan komprehensif disertai analisis dampak sosial politik dan aspek pertahanan keamanan kepada aparat negara dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan," paparnya.
Lepas dari itu, Suhendra mengaku lega bahwa 49 orang TKA asal Tiongkok tersebut sudah menjalani karantina selama 14 hari sesuai protokol kesehatan yang berlaku.
Untuk itu Suhendra mengajak semua pihak untuk tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut dan kembali fokus membantu pemerintah dalam menangani kondisi darurat Covid-19.
"Dalam kondisi darurat seperti ini saya mengajak semua tokoh bangsa untuk melakukan "statement distancing" yaitu menjaga memberikan pendapat pribadi yang bisa memperkeruh situasi.
Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita mempunyai soliditas dan solidaritas sosial yang tinggi dalam menghadapi situasi darurat penyebaran Covid-19," pungkas Suhendra.
Dalam kaitan ini, Rabu (18/3/2020), Suhendra juga mengkritik keras statemen mantan Panglima TNI Jenderal Purn Gatot Nurmantyo yang menggaungkan imbauan salat berjemaah di masjid
Menurut Suhendra sangat membahayakan keselamatan umat Islam dan berlawanan dengan upaya pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk melakukan pembatasan interaksi sosial masyarakat.
Sambil bercanda, Suhendra mengaku membuka kantornya 24 jam untuk menampung dan berdiskusi bagi siapa pun yang "radikal" dalam memahami Corona agar tidak berbicara di luar yang hanya memantik keresahan masyarakat
Geger 49 TKA China di Kendari, Fadli Zon: Ini Jelas Skandal, Usut Siapa di Belakangnya
Sebelumnya, Politisi Partai Gerindra sekaligus Anggota DPR RI, Fadli Zon, meminta supaya masuknya 49 Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok diusut tuntas.
Ia mempertanyakan, dalam situasi darurat corona seperti ini masih ada pihak-pihak yang membawa TKA asal China masuk ke Indonesia, sedangkan negara lain justru menghindari
Hal itu diungkapkan Fadli Zon melalui akun Twitternya, Selasa (17/3/2020)
"Harus diusut siapa dibelakangnya, apakah mungkin tanpa koneksi dan persyaratan 49 org dlm situasi darurat spt ini?," tulis Fadli Zon, dikutip Warta Kota dari akun Twitternya, Selasa (17/3/2020)
Fadli Zon menyebut masuknya puluhan TKA asal China itu sebagai sebuah “skandal”. Apalagi, tulisnya, kedatangan para TKA itu informasinya simpang-siur.
Fadli juga meminta supaya TKA tersebut sebaiknya dikembalikan ke negara asalnya.
"Ini jelas sebuah skandal, di tengah wabah virus corona, masih ada pihak2 yang membawa masuk TKA dr daerah terdampak dg cara diam2 lewat belakang."
"Informasinya pun simpang siur. Sebaiknya kembalikan TKA tsb ke negaranya. Usut siapa di belakangnya?"
Pada unggahan lain, Fadli membandingkan langkah antisipasi yang dilakukan beberapa negara lain untuk melindungi warganya dari paparan Corona.
Ia mencuplik sebuah berita yang mengabarkan Presiden Filipina, Duterte, tegas akan memecat pegawai yang terlibat meloloskan warga China masuk ke negara itu.
"Indonesia sebagai pemimpin tanpa hadapi wabah korona. Negara tetangga kita spt Malaysia, Singapura n Filipina berani n konsisten. Kita spt gagap n bingung. Malah masukin TKA. Duterte Pecat Semua Pegawai Imigrasi yang Loloskan Warga Cina Masuk ke Filipina."
Bikin heboh
Kasus video viral kedatangan 49 Warga Negara Asing (WNA) China di di Bandara Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi heboh.
Pasalnya, keterangan dari pihak kepolisian berbeda dengan data dari Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sulawesi Tenggara.
Di mana sebelumnya, pihak Polda Sulawesi Tenggara menyebut WNA itu merupakan Tenaga Kerja Asing (TKA) China yang datang dari Jakarta.
Sementara dari pihak Kanwil Kemenkumham Sulawesi Tenggara justru TKA China itu datang dari Provinsi Henan untuk bekerja di Sulawesi Tenggara.
Seperti dikutip dari Kompas.com, Kanwil Kemenkumham Sulawesi Tenggara menyatakan 49 tenaga kerja asing (TKA) asal China yang tiba di Bandara Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Minggu (16/3/2020), bukan datang dari Jakarta untuk memperpanjang visa kerjanya.
Warga China itu adalah TKA baru yang berasal dari Provinsi Henan untuk bekerja di Sulawesi Tenggara.
Masuk lewat Thailand
Kepala Kanwil Kemenkumham Sulawesi Tenggara Sofyan mengatakan, TKA ini sempat transit di Thailand sebelum tiba di Indonesia.
Mereka sempat menjalani karantina di Bangkok, Thailand, sebelum diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
"Berdasarkan cap tanda masuk imigrasi Thailand yang tertera pada paspor mereka tiba di Thailand, pada 29 Februari 2020, tapi mereka juga telah dibekali dengan hasil medical certificate atau surat kesehatan, dari pemerintah Thailand,” kata Sofyan di rumah jabatan Gubernur Sultra, Senin (16/3/2020) malam.
Dalam surat kesehatan yang dimiliki 49 orang TKA itu tertera mereka telah melewati proses karantina selama 14 hari.
Surat kesehatan itu telah diverifikasi oleh perwakilan Pemerintah Indonesia di Thailand.
“Telah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh Karantina Kesehatan Pelabuhan (KKP) Soekarno Hatta. Dan telah mengeluarkan kartu kewaspadaan kesehatan pada setiap orang tersebut,” bebernya.
Selanjutnya berdasarkan surat dari KKP itu, lanjut Sofyan, Imigrasi Bandara Soekarno Hatta, mengizinkan mereka melanjutkan perjalanan menuju Kendari dengan pesawat Garuda Indonesia GA 696.
“Jadi mereka ini orang baru dari China, bukan memperpanjang visa, tapi mereka TKA baru. Kalau soal dikarantina di Indonesia, itu bukan ranah kami itu ranah KKP," terangnya.
Sofyan mengakui, 49 TKA asal China tersebut belum menjalani proses karantina di Indonesia.
Mereka hanya mendapatkan kartu kewaspadaan kesehatan dari KKP Bandara Soekarno Hatta.
Padahal berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM nomor 7 tahun 2020 tentang Pemberian Visa dan Izin Tinggal dalam Upaya Mencegah Masuknya Virus Corona, seluruh TKA yang masuk di Indonesia, wajib mengikuti proses karantina selama 14 hari.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi mengaku khawatir dengan masuknya puluhan TKA asal China untuk bekerja dalam perusahaan tambang di Kabupaten Konawe.
Terlebih puluhan TKA itu masuk saat pemerintah tengah mengatasi penyebaran virus corona. "Jelas kita khawatir, ternyata WNA yang baru datang dari Cina," ungkapnya.
Ali pun langsung memerintahkan Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara dan BPBD Sulawesi Tenggara untuk mengisolasi 49 TKA yang sudah berada di Konawe.
Hal itu dilakukan guna memastikan TKA tersebut bebas dari virus corona.
“Saya sudah turunkan langsung Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra dan RSUD Bahteramas, mereka memang ada tim gugus tugas sesuai dengan Keputusan Presiden nomor 7. Saya perintahkan untuk segera turun, sekitar pukul 04.00 WITA, subuh tadi,” terangnya.
Ali Mazi mengungkapkan, hanya berwenang mengarantina 49 TKA itu, dan tidak bisa melakukan lockdown kawasan tempat mereka bekerja.
“Hanya 49 orang saja, kalau satu kawasan saya tidak punya kewenangan. Fasilitas karantina mereka, saya masih tunggu kabar dari tim gugus tugas di sana,” kata Ali.
Sebelumnya, warga Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) digemparkan dengan video yang merekam kedatangan puluhan warga negara asing (WNA) China di Bandara Haluoleo Kendari, Minggu (15/3/2020) malam.
Video berdurasi 58 detik itu menunjukkan sebanyak puluhan TKA lengkap dengan koper yang diderek dari sebuah ruangan kedatangan bandara.
Semua warga Tiongkok itu menggunakan masker di wajahnya. Puluhan TKA tersebut, bertolak dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta menuju Bandara Haluoleo, Kendari dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 696 dan tiba pukul 19.30 WITA.
Perekam Ditangkap
Polda Sulawesi Tenggara menangkap HD (39), pembuat dan penyebar video puluhan WNA China di Bandara Haluoleo Kendari.
Video puluhan WNA China, itu menjadi viral karena sempat diteriaki virus corona
HD pun menyesal karena telah menyebar video puluhan WNA China tersebut.
Video berdurasi 58 detik itu memperlihatkan sebanyak 40 WNA yang merupakan tenaga kerja asing asal China.
Dilansir Kompas.com, Polda Sulawesi Tenggara menangkap HD (39), warga Konawe Selatan yang diduga telah menyebarkan video kedatangan puluhan Tenaga Kerja Asing (TKA) China di Bandara Haluoleo Kendari, Senin (16/3/2020).
"Masih diamankan di Polda, jadi saat ini masih proses penyelidikan. Statusnya saat ini wajib lapor," ujar Kabid Humas Polda Sultra AKBP La Ode Proyek kepada wartawan.
Dia menjelaskan, perbuatan HD tersebut telah menimbulkan keresahan di masyarakat.
Sementara itu, HD menyampaikan permohonan maaf atas video yang diunggahnya di media sosial.
"Saya pembuat rekaman video yang viral terkait kedatangan warga China di Kendari" ungkapnya.
Dia mengaku, tujuan disebarnya video tersebut hanya bentuk keisengan semata.
"Saya ucapkan secara spontan dan hanya untuk main-main,” katanya.
Dia mengutarakan, TKA yang tiba di Bandara Haluoleo pada Minggu (15/3/2020) melainkan mereka baru pulang dari Jakarta setelah mengurus visa.
“Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Jika saya mengulanginya lagi maka saya siap dihukum sesuai dengan hukuman yang berlaku,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, video viral yang merekam kedatangan puluhan warga negara asing (WNA) asal China di Bandara Haluoleo Kendari, Minggu (15/3/2020) malam menyebar di media sosial.
Video berdurasi 58 detik itu memperlihatkan sebanyak 40 WNA yang merupakan Tenaga Kerja Asing asal China, lengkap dengan koper dan menggunakan masker keluar dari ruangan kedatangan bandara Haluoleo Kendari.
Dalam video itu terdengar suara seseorang berteriak dan mengaitkan kedatangan puluhan WNA itu dengan virus corona yang telah mewabah di seluruh dunia.