Breaking News:

Ahok Berbahaya jika Pimpin Ibu Kota Baru, Said Sidu Ungkap Perbedaan dengan Jusuf Kalla

Ahok yang beberapa kali disamakan dengan karakter Wakil Presiden 2014-2019, Jusuf Kalla (JK), membuat Said Didu mengungkap ketidaksetujuannya

Tribunnews/Jeprima
Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan Kementerian Sosial untuk menjalankan penyaluran subsidi gas LPG 3 kilogram. 

Sehingga, Said Didu kembali menegaskan bahwa yang dilakukan Jusuf Kalla mempercepat kebijakan.

"Semua percepatan pembangunan bandara dengan merombak bahwa tidak perlu lagi mengutamakan etnis daerah itu dia lakukan, jadi dia mempercepat kebijakan, tidak ada (aturan yang dilanggar)," tegas Said Didu.

Sedangkan, Ahok disebutnya telah melanggar aturan soal dana Corporate Social Responsibility (CSR) pembangunan Simpang Susun Semanggi yang dinilai Said Didu telah melanggar aturan.

Sehingga, Said Didu merasa akan berbahaya jika nantinya Ahok yang memimpin pembangunan ibu kota baru.

Sedangkan, membangun ibu kota baru melibatkan banyak pihak.

"Makanya itu sangat bahaya kalau mekanismenya dipakai di ibu kota."

"Karena ruang untuk melakukan kerja sama di pembangunnan ibu kota ini lebar sekali," ucap dia.

Said Didu mengatakan, pembangunan ibu kota baru melibatkan banyak pihak lantaran dana yang didapat juga melibatkan banyak pihak, bukan hanya dari anggaran negara.

"Kenapa dari 466 triliun, yang dari APBN kan cuma sekitar 89 triliun itu mekanisme APBN sisanya adalah dengan swasta."

"Akhirnya bisa saja itu menjadi tidak transparan, coba bayangkan tadi membangun istanan negara di sana, membangun kantor kementerian, membangun bank, membangun kantor lembaga dan itu kontrak jangka panjang semua dan dibikin oleh Ahok," jelas Said Didu.

Halaman
1234
Editor: Rhendi Umar
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved