Dua Bayi Ini Meninggal DBD: Hingga Februari Ada 34 Kasus

Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali minta korban jiwa. Seorang balita bernama Nathania Alexandra Mangundap (4)

Dua Bayi Ini Meninggal DBD: Hingga Februari Ada 34 Kasus
ISTIMEWA
Ilustrasi pelaksanaan fogging Dinas Kesehatan di wilayah yang terkena kasus DBD Januar 2020 lalu. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali minta korban jiwa. Seorang balita bernama Nathania Alexandra Mangundap (4) asal Kelurahan Ranomea, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan meninggal di RSUP Prof Kandou Manado pada Sabtu (22/2/2020).

DPP Golkar Pilih Tetty Maju Pilgub: Calon Independen Tarung di 4 Daerah

Sebelumnya pada Januari 2020, satu warga yang meninggal dunia. Hingga bulan Februari, sudah ada dua warga yang menjadi korban nyamus Aedes aegypti.

Kepala Dinas Kesehatan Minsel Erwin Scouthen membenarkan jika ada lagi warga yang meninggal dunia. Korban, kata dia, menghembuskan nafas terakhir saat sedang menjalani perawatan intensif di RS Kandou.

Usai peristiwa itu, warga sudah meminta supaya Dinkes melakukan fogging. Kata Scouthen, Puskesmas Amurang sudah turun melakukan pengasapan pada Senin kemarin. "Staf kami sudah melakukan fogging. Warga juga sudah kerja bakti untuk membersihkan baik selokan maupun tempat-tempat tergenang," kata dia.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Minsel Yunike Panambunan menambahkan, hingga Februari, DBD di daerah ini sudah mencapai 34 kasus. Dia mengakui setiap tahun angkanya mengalami peningkatan. "Kalau Januari lalu ada satu orang yang meninggal dunia di Kelurahan Pondang, Kecamatan Amurang Timur. Untuk kasus DBD pada Januari 2020 mencapai 57 kasus," kata dia.

Bulan Februari ini penderita DBD dirawat di beberapa rumah sakit seperti Kalooran Amurang, Balai Keselamatan Amurang, RS Kandou. Yunike berharap masyarakat menerapkan perilaku hidup sehat dengan menjaga kesehatan lingkungan.

2.624 Orang Meninggal Dunia karena Virus Corona, Tercatat Mewabah di 35 Negara

Fogging akan dilakukan jika sudah ada kasus yang terjadi. "Walaupun begitu, fogging jika dilakukan terus-menerus bisa menyebabkan nyamuk menjadi resisten," ujar dia.

Kepergian Nathania menyisahkan dukacita bagi keluarga dan tetangganya. Saat wartawan menyambangi rumah duka di Kelurahan Ranomea, masih terlihat papan bunga dukacita yang menghiasi pendopo dan halaman rumah. Di dalam rumah permanen berwarna putih dan krem nampak kosong dari perabotan lantaran baru saja dipakai untuk ibadah pemakaman.

Tak jauh dari rumah ini terlihat beberapa warga yang kerja baksi membersihkan selokan yang tersumbat oleh plastik-plastik bekas kemasan. Di lokasi ini pula masih tercium asap fogging yang baru saja disemprot Dinas Kesehatan Minsel.

Ilustrasi nyamuk DBD
Ilustrasi nyamuk DBD (Net)

Dolvie Mangindaan, papa sarani Nathania yang ada di rumah duka mengatakan, tak percaya jika anak gadis yang periang dan lucu itu sudah pergi menghadap Sang Khalik. Dia mengatakan, Nathania dekat dengan siapa saja termasuk para tetangganya dan tentu saja denga bocah-bocah seumurannya. "Saya tiap kali ketemu Nathania, langsung bakusedu (bercanda). Yah, tapi itulah kehendak Yang Kuasa, siapa saja tak bisa menolaknya," kata dia.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved