Gereja Eben Haezer Tanjung Merah Tertua di Bitung Baru Ditahbiskan
Jemaat GMIM Eben Haezer Tanjung Merah sudah berdiri sejak tahun 1811 yang saat ini sudah berusia 208 tahun, merupakan gereja tertua di kota Bitung.
Penulis: | Editor: Maickel Karundeng
TRIBUNMANADO.CO.ID - Tanggal cantik tidak dilewatkan begitu saja oleh jemaat GMIM Eben Haezer Tanjung Merah.
Kamis, (20/02/2020) merupakan tanggal yang sudah ditetapkan oleh Majelis Jemaat GMIM Eben Haezer Tanjung Merah untuk melaksanakan peresmian dan pentahbisan gedung gereja.
Di awali oleh Tarian Kabasaran sebagai tarian tradisional Sulawesi Utara untuk menjemput para tamu kemudian diikuti tari Lili Royor khas kelurahan Tanjung Merah.
Jemaat GMIM Eben Haezer Tanjung Merah sudah berdiri sejak tahun 1811 yang saat ini sudah berusia 208 tahun, merupakan gereja tertua di kota Bitung.
Pernah mengalami peristiwa kebakaran saat masa pergolakan permesta, sempat membuat gereja ini hangus terbakar dilahap si jago merah. Namun, peristiwa itu tidak membuat jemaat patah semangat dalam membangun rumah Tuhan. Hingga kini, gereja ini diresmikan dan ditahbiskan.
Ibadah dilaksanakan di halaman gedung gereja sebelum pengguntingan pita.
Pengguntingan pita dilakukan oleh asisten satu Provinsi Sulawesi Utara Drs E Humiang MSi.
Diikuti dengan penyerahan kunci dan pembukaan pintu gereja oleh Wakil Wali Kota Bitung Ir Maurits Mantiri. Setelah itu ibadah dilanjutkan di dalam gedung gereja.
Sekretaris Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM, Pendeta Evert Tangel sebagai khadim ibadah peresmian dan pentahbisan gedung gereja GMIM Eben Haezer Tanjung Merah mengucapkan selamat kepada jemaat karena sudah melaksanakan peresmian dan pentahbisan gereja ini.
"Bagi saya siapa yang melihat gereja ini akan melihat jemaat yang punya konsistensi dan keterpanggilan pelayanan dalam membangun rumah Tuhan," kata Pdt Tangel.
Tangel pun mengingatkan walaupun gereja ini sudah diresmikan dan ditahbiska, jemaat tetap harus membangun sarana-sarana penunjang pelayanan.
"Tapi jangan lupa yang terpenting. Yaitu membangun iman persekutuan jemaat. Percuma punya bangunan yang megah namun jemaatnya tidak bertumbuh," kata dia.
Pada tahun 1811 jemaat masih beribadah di alam terbuka. Berkumpul di batu, pinggiran sungai dodoku tua, dan tempat terbuka lainnya. Pada tahun 1906, mulai dibangun gedung gereja tetap.
Pada tahun 1989, mulai dirancang pembangunan gereja yang lebih permanen, dan melakukan pelerakan batu pertama pada tanggal 26 November 1989. Gedung gereja ini mulai digunakan pada 6 Oktober 1991 dan peresmian sekaligus pentahbisan.
Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM, Pdt Hein Arina yang juga hadir menyampaikan sambutan, mengatakan kebanggaannya kepada jemaat tua ini.