Permintaan Paniki Turun 50 Persen Pasca Corona: RM Kuliner Ekstrem Ikut Terdampak

Isu virus Corona Wuhan-Cina (2019-nCoV) berdampak pada penjualan daging ekstrem paniki (kelelawar).

Permintaan Paniki  Turun 50 Persen  Pasca Corona: RM Kuliner Ekstrem Ikut Terdampak
Jufry Mantak/Tribun Manado
Menu Ikan Paniki siap saji di Rumah Makan ayng ada di Manado. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON – Isu virus Corona Wuhan-Cina (2019-nCoV) berdampak pada penjualan daging ekstrem paniki (kelelawar). Daging paniki turun 50 persen dari Rp 60 ribu menjadi Rp 30 ribu per ekor. Permintaan di pasaran pun ikut menurun.

Pantauan di Pasar Beriman Kota Tomohon, Kamis (13/2/2020), di area lapak daging ekstrim, tidak terlalu banyak pembeli paniki. Selain bukan hari raya, isu virus Corona yang menyebar di masyarakat diduga penyebabnya.

Puan Teteskan Air Mata: Raih Gelar Doktor Honoris Pertama

Maikel Andris (43), pedagang paniki mengaku cukup dirugikan dengan adanya informasi (isu virus Corona) ini. "Padahal yang menjadi lokasi penyebaran di Cina tapi dampaknya berasa sampai di sini (Tomohon)," katanya.

Demi menarik minat pembeli, ia rela menurunkan harga paniki yang sebelumnya dijual Rp 60 ribu per ekor menjadi Rp 30 ribu per ekor dengan ukuran besar. "Tentu sangat merugikan. Pasalnya, omzet saya ikut turun dari yang rata-rata Rp 1,5 juta per hari kini menjadi Rp 700 ribu per hari. Hingga kini (omzet) masih begitu ," katanya.

Maikel mengatakan mendapat pasokan paniki dari Kendari dan Makassar. Ia dibelinya seharga Rp 20 juta per 1 ton yang bisa dijual hingga 2 minggu. "Kalau kondisi penjualan masih begini terpaksa saya akan mengurang suplai pasokan kelelawar," katanya.

Ia pun berharap agar harga penjualan paniki bisa cepat pulih supaya para pedagang tidak terus-terusan merugi.
Walaupun sudah diberitakan klarifikasi dari Pemerintah Kota Tomohon, kelelawar di Tomohon bebas dari virus Corona, namun kondisi penjualan masih tetap menurun.

Penjualan paniki di Pasar 54 Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) pun terpengaruh isu Corona. Bet (52), pedagang di Pasar Amurang mengatakan, sebelum ada isu Corona setiap hari bisa menjual 25 kilogram sampai 30 kg daging paniki.

Harganya Rp 60 ribu per kg. Kini penjualan paniki sudah berkurang. Sejak sebulan ini, dalam sehari hanya bisa menjual 15 kg. "Sekarang harganya juga ikut turun jadi Rp 50 ribu per kg," kata Bet, Jumat (14/2/2020).

Tulude Melibatkan Semua Agama

Meity warga Amurang yang kebetulan membeli paniki mengatakan, dia tidak takut dengan isu Corona. Dia masih yakin paniki yang dijual masih aman. "Saya beli 6 kg untuk acara nanti," ujar dia.

Pedagang paniki mulai berkurang di Pasar Pinasungkulan Karombasan, Kota Manado. Seperti yang dikatakan Wulan, pedagang paniki. Dia mengatakan, bahwa penjualan paniki menurun. "Sebelum adanya informasi Corona dari Cina, setiap hari paniki terjual," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved