Penjualan Kelelawar Menurun di Manado

Sebulan Ini Penjualan Kelelawar di Pasar Amurang Menurun

"Sekarang harganya juga ikut turun jadi 50 ribu rupiah per kilogram," kata Tante Bet, Jumat (14/2/2020).

Sebulan Ini Penjualan Kelelawar di Pasar Amurang Menurun
Andrew/Tribun Manado
Sebulan Ini Penjualan Paniki di Pasar Amurang Menurun 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kelelawar yang dijual di pasar Tiongkok diduga menjadi hewan yang menyebarkan virus corona kepada manusia. Hingga sebulan terakhir ini sudah ada ribuan nyawa melayang setelah mengidap virus mematikan tersebut.

Bukan hanya di Tiongkok, hewan kelelawar juga banyak dijual di pasar-pasar di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) khususnya di Pasar 54 Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel). Oleh masyarakat lokal, kelelawar disebut 'paniki'.

Paniki ini sudah biasa disantap oleh warga Minsel apalagi kalau ada pengucapan syukur dan acara-acara penting lainnya. Namun sejak menyebarnya virus corona penjualan paniki ikut berkurang dalam sebulan ini.

Bet (52) penjual di Pasar 54 Amurang mengatakan, sebelum ada virus corona setiap hari bisa menjual 25 kilogram sampai 30 kilogram paniki. Harganya juga sangat menguntungkan yakni Rp 60 ribu per kilogram.

Tapi kini penjualan paniki sudah berkurang. Sejak sebulan ini, dalam sehari hanya bisa menjual 15 kilogram saja.

"Sekarang harganya juga ikut turun jadi 50 ribu rupiah per kilogram," kata Tante Bet, Jumat (14/2/2020).

Paniki ini didapatkan dari pedagang pengumpul dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Namun Tante Bet enggan mengatakan harga yang dibeli dari pedagang pengumpul.

Meity warga Amurang yang kebetulan membeli paniki mengatakan dia tidak takut dengan virus corona. Dia masih yakin paniki yang dijual masih aman.

"Saya beli enam kilogram untuk acara nanti," ujar dia sembari tersenyum.

Penulis: Andrew_Pattymahu
Editor: Maickel_Karundeng
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved