Berita Sulut

Barang Produk UMKM Tiongkok Banjiri Sulut, Bisa Capai 260 Ton dalam Sebulan

Era pasar bebas yang diikuti booming-nya e-commerce turut mendorong masuknya barang produk luar negeri ke Indonesia

Barang Produk UMKM Tiongkok Banjiri Sulut, Bisa Capai 260 Ton dalam Sebulan
Tribun Manado / Fernando Lumowa
Suasana pelayanan konsumen kantor JNE Manado di Jalan Yos Sudarso, Manado, Selasa (21/01/2020). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Era pasar bebas yang diikuti booming-nya e-commerce turut mendorong masuknya barang produk luar negeri ke Indonesia.

Di perusahaan ekspedisi JNE misalnya, sekitar 30 persen dari total barang masuk berasal dari luar negeri. "Paling banyak itu barang dari Tiongkok," kata Kepala JNE Manado, Julianus Barthen Patinggi kepada Tribun Manado, Selasa (21/01/2020).

Sebagai pembanding, pada November 2019, jumlah barang ekspedisi yang masuk ke Sulut menggunakan jasa JNE 897.494 kilogram (897,49 ton).

Sementara pada Desember jumlah barang masuk via JNE mencapai 953.646 kg (953,64 ton). "November-Desember adalah 'peak season' pengiriman ekspedisi," katanya.

Pelaku Pengancaman Tertunduk Lesu Ketika Diringkus URC Totosik

Dari jumlah itu, kata Patinggi, 30 persen atau sekitar 250-300 ton adalah barang dari Tiongkok. Termasuk di dalamnya Hong Kong, Taiwan dan Singapura.

"Semuanya barang e-commerce, yang dibeli online oleh warga Sulut," jelasnya.

Barang fashion mendominasi kiriman asal Negeri Tirai Bambu tersebut. Aneka pakaian seperti kemeja, celana, kaos, sepatu, sendal. Jumlahnya mencapai 80 persen. 15 persen di antaranya produk elektronik seperti handphone, vape dan pods.

Ganti Rugi Rp 17 M, Pengadilan Tinggi Manado Menangkan Gugatan Tanah Bandara Sam Ratulangi

"Sisanya aksesoris dan kebutuhan rumah tangga. Pernah ada panci, belanga hingga troli bayi pun ada," jelas dia.

Apa yang menarik, kata Barthen, barang-barang yang masuk itu merupakan produk UMKM di Tiongkok. "Berbeda dari kita di sini, produk UMKM relatif sulit diekspor," jelasnya.

Menurut dia, hal ini tak lepas dari beberapa faktor. Selain e-commerce yang menjadi marketplace terbuka, harga barang lebih murah. Dimana, pelaku UMKM di luar negeri lebih fasih bermain di marketplace dan memanfaatkan e-commerce.

BREAKING NEWS, Bupati Yasti Sidak TPA Inuai, Damprat Kepala DLH Bolmong

Ia bilang, biaya pengiriman juga relatif lebih murah karena perusahaan e-commerce mendapatkan harga khusus. Baik untuk pajak barang masuk maupun biaya kirim yang diberikan perusahaan ekspedisi.

Apalagi, e-commerce memberi kemudahan lewat sistem Cash on Delivery (COD). Pembayaran dilakukan kala pesanan tiba di tempat. 

Adanya COD, tak sedikit barang dari luar negeri yang dikembalikan. Meskipun, kata Barthen jumlahnya tak sampai 10 persen

"Biasanya barang yang dikembalikan karena tak sesuai dengan yang diharapkan. Di gambar lain, datangnya lain. Ada juga karena karena kesalahan teknis pemesanan," jelasnya. (ndo)

Kena Damprat Bupati Yasti saat Sidak ke TPA, Kepala DLH Kapok dan Cari Pemulung

Penulis: Fernando_Lumowa
Editor: David_Kusuma
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved