Berita Sulut

Barang Luar Negeri Banjiri Sulut, Butuh Penyederhanaan Regulasi Ekspor demi UMKM Lokal

Barang produk luar negeri membanjiri Sulut. Jumlahnya mencapai 30 persen dari total barang yang masuk menggunakan jasa ekspedisi

Barang Luar Negeri Banjiri Sulut, Butuh Penyederhanaan Regulasi Ekspor demi UMKM Lokal
Tribun Manado / Fernando Lumowa
Kepala JNE Manado, Julianus Barthen Patinggi mengecek barang yang di warehouse JNE Kairagi, Manado, Selasa (21/01/2020) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Barang produk luar negeri membanjiri Sulut. Jumlahnya mencapai 30 persen dari total barang yang masuk menggunakan jasa ekspedisi.

Kepala JNE Manado Julianus Barthen Patinggi mengatakan, banjirnya barang produk UMKM asing--utamanya didominasi Tiongkok--tak lepas dari regulasi yang relatif 'longgar'.

"Pertama memang ini pasar bebas dan eranya e-commerce. Orang lebih mudah membeli secara online, butuh apa tinggal buka smartphone. Kedua, regulasi impor kita yang memperbolehkan," kata Barthen kepada Tribun Manado, Selasa (21/01/2020).

Ia menjelaskan, pada November dan Desember tahun lalu ada sedikitnya 250- 300 ton barang asal luar negeri yang masuk menggunakan jasa JNE ke Sulut. Barang produk UMKM asing mudah masuk karena regulasi bea masuk.

Perdagangan Luar Negeri Sulut Surplus, Produk Turunan Kelapa Jadi Andalan Ekspor

Berdasar PMK Nomor 112 nomor/PMK.04/2018 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 182/PMK.04/2016 tentang Ketentuan Impor Barang Kiriman, barang impor yang kena bea masuk ialah senilai 75 dollar AS.

Artinya, barang senilai di bawah 75 dollar AS tak kena bea masuk. "Nah, biasanya kan barang online itu relatif murah. Ada jam tangan tak sampai Rp 100 ribu, baju, celana, sepatu, sendal dan lain-lain," katanya.

Beruntung, pemerintah kini sadar dan mengubah regulasi dengan mengeluarkan PMK Nomor 199 tahun 2019 tentang Kepabeanan, Cukai dan Pajak atas Impor Barang Kiriman.

Ganti Rugi Rp 17 M, Pengadilan Tinggi Manado Menangkan Gugatan Tanah Bandara Sam Ratulangi

PMK ini mengubah ambang batas pembebanan bea masuk barang impor dari sebelumnya 75 dollar AS menjadi 3 dollar AS per kiriman. "Secara tidak langsung akan mengerem laju barang masuk dan di sisi lain akan mendorong penerimaan bea masuk lewat Bea Cukai," katanya.

Meskipun demikian, ketimpangan tetap masih akan terjadi karena barang dari dalam negeri yang keluar relatif sulit karena regulasi. Apalagi barang produk UMKM.

Barthen bilang persoalan utamanya pada regulasi. UMKM sulit mengekspor produknya karena terkendala status usaha dan perizinan.

Halaman
12
Penulis: Fernando_Lumowa
Editor: David_Kusuma
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved