News
Pemakaman Jenderal Iran Makan Korban, 50 Orang Mati Terinjak-Injak, 200 Orang Terluka
Para pejabat Iran menyebut lebih dari 50 orang meninggal dunia karena terinjak-injak dalam prosesi pemakamanan komandan Iran
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemakaman Jenderal Iran Qasem Soleimani makan korban.
Dilansir dari tribunwow.com, para pejabat Iran menyebut lebih dari 50 orang meninggal dunia karena terinjak-injak dalam prosesi pemakamanan komandan pasukan elite Quds, Jenderal Qasem Soleimani, yang tewas dalam serangan drone Amerika Serikat di Baghdad, Irak, Jumat lalu (03/01).
Selain 50 orang meninggal dunia, sekitar 200 lainnya mengalami luka-luka ketika massa pelayat menghadari prosesi pemakaman Qasem Soleimani di kota kelahirannya, Kerman, Iran selatan.
Massa telah berkumpul di jalan-jalan sejak Selasa pagi (07/01) menjelang rencana pemakamannya, namun banyaknya kematian warga di Kerman menyebabkan pihak berwenang sempat menunda pemakamannya.
Secara keseluruhan, jutaan warga di berbagai kota Iran diperkirakan sudah turun ke jalan-jalan untuk mengikuti serangkaian prosesi sang jenderal yang dianggap sebagai pahlawan itu.

Banyak pelayat membawa foto komandan pasukan elite Quds bagian dari Garda Revolusi Iran tersebut, sementara sebagian lainnya mengibar-ibarkan bendera merah.
Dalam tradisi Muslim Syiah, tindakan itu mencerminkan tekad untuk melakukan balas dendam.
• Perang Teluk Kembali Pecah , Iran Tembakkan Lebih Dari 5 Rudal ke Pangkalan Militer Amerika
Pembunuhan Jenderal Soleimani semakin menambah kekhawatiran akan potensi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Ia dianggap sebagai pemimpin paling berpengaruh kedua setelah Pemimpin Agung Ali Khamenei.
Namun Amerika Serikat menggolongkannya sebagai teroris dan ancaman bagi pasukan Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan televisi Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, mengecam pembunuhan Jenderal Soleimani dengan menyebutnya sebagai tindakan tak berdasar yang akan menghapus pengaruh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Namun ditekankannya sejauh ini Amerika Serikat belum melakukan usaha untuk mengurangi ketegangan.
"Ini adalah aksi perang drone dalam operasi teroris yang pengecut dan Iran akan mengambil tanggapan atas kejadian itu.
"De-eskalasi artinya Amerika Serikat tidak mengambil tindakan lebih lanjut, berhenti mengancam Iran, meminta maaf kepada Iran, tetapi tindakan Amerika Serikat mempunyai dampak yang akan terjadi dan saya yakin ini sudah mulai terjadi. Akhir dari kehadiran Amerika di kawasan sudah mulai," kata Zarif.
Presiden Donald Trump mengambil sikap yang keras terhadap Iran setelah ia menjadi presiden Amerika Serikat, dan Teheran menanggapinya dengan cara mereka sendiri.
Kini Iran berikrar akan melakukan "balasan dendam kejam" atas pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, yang posisinya sekarang diisi oleh wakilnya, Esmail Qaani.
Di sisi lain, Presiden Trump sudah memperingatkan bahwa negaranya "telah menetapkan" 52 sasaran di Iran dan "akan menyerang secara cepat" jika ada serangan Iran terhadap aset-aset Amerika.
• 5 Rudal Iran Hantam Pangkalan Militer AS, Tempat Trump Hadiri Thanksgiving Tahun Lalu
Qasem Soleimani selama ini memimpin Pasukan Quds- kesatuan elite di tubuh Garda Revolusi Iran yang bertugas menangani operasi rahasia di luar negeri.
Pasukan Quds terlibat dalam rangkaian konflik di Suriah, di antaranya memberikan konsultasi kepada pasukan yang setia terhadap Presiden Suriah, Bashar al-Assad, sekaligus mempersenjatai ribuan milisi Syiah di Suriah dan Irak.
Adapun di Irak, pasukan elite itu memberi dukungan kepada paramiliter Syiah yang membantu melawan kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.
Iran Hujani Roket di Pangkalan Militer AS, Serangan Balas Dendam Kematian Qassem Soleimani
Iran menghujani puluhan roket di pangkalan militer AS di Ain Al Asad Provinsi Anbar Rabu (8/1/2020) dini hari waktu setempat.
Kabar awal ini diwartakan akun stasiun televisi Iran, PressTV, Rabu pagi ini WIB. Belum ada keterangan resmi militer Irak.
Di lapangan terbang ini, ditempatkan sejumlah pesawat nirawak MQ-1 Reaper, yang diduga turut dikerahkan saat pembunuhan Mayjen Qassem Soleimani.
Serangan roket diduga dilakukan Brigade 45 Khataib Hezbollah Irak, bagian kelompok Popular Mobilization Unit (PMU) yang diakui militer Irak.
Namun versi lain menyebut, serangan terkoordinasi ini dilakukan elemen-elemen Korps Garda Republik Iran (IGRC).
Perkembangan lebih lanjut terkait serangan roket ke pasukan AS di Irak masih menunggu laporan-laporan lebih detil dari lapangan.
• Ketua MPR RI Ingatkan Petualangan Cina di Perairan Natuna Akan Terus Berlanjut
Qassem Soleimani, Kepala Pasukan Quds Garda Republik Iran tewas akibat serangan rudal di Bandara Baghdad, Kamis (2/1/2020).
Pembunuhan dilakukan militer AS atas perintah Presiden Donald Trump. Kematian Qassem menyulut kemarahan Iran dan Irak.
Iran bertekad membalas serangan ini menggunakan segala cara. Parlemen dan pemerintah Irak memutuskan mengusir pasukan AS dan sekutunya dari negara itu.
Jerman lebih awal menarik kontingen mereka di Irak. Prajurit Jerman yang bertugas sebagai instruktur ditarik ke Yordania dan Kuwait.
Swedia, Denmark, dan Latvia juga melakukan hal sama mengingat perkembangan situasi yang tidak kondusif di Irak.
Sebaliknya, Pentagon mengirimkan 3.000 prajurit Lintas Udara 82 dari Fort Bragg, North Carolina menuju Kuwait.
Sebagian dikirim ke Lebanon, guna melindungi Kedubes AS di negara yang sebagian dikuasai kelompok Hezbollah Lebanon.
• Mengintip Kekuatan Militer Iran yang Bakal Berperang dengan Amerika Serikat, Punya Rudal?
Menyusul reaksi kemarahan Iran, Presiden Trump mengekuarkan serangkaian ancaman serangan lebih kuat ke 52 sasaran penting di Iran, termasuk situs warisan budaya dunia.
Menlu Mike Pompeo dalam pernyataan terbarunya menegaskan, keputusan AS melenyapkan Qassem Soleimani memiliki dasar kuat.
Meski begitu, kalangan Kongres AS menyatakan, Trump tidak melalui proses konstitusional, meminta persetujuan Kongres atas keputusan eksekutifnya membunuh Qassem.
SUBSCRIBE YOUTUBE TRIBUNMANADO OFFICIAL:
Artikel ini telah tayang di Tribunwow.com dengan judul 50 Orang Lebih Meninggal Dunia karena Terinjak-injak saat Pemakaman Jenderal Iran Qasem Soleimani