Opini

Mencari Pelaku Intelektual dalam Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Penanggulangan Banjir Manado

KASUS dugaan tindak pidana korupsi dana hibah penanggulangan banjir di Kota Manado, terus mengundang pertanyaan publik

Mencari Pelaku Intelektual dalam Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Penanggulangan Banjir Manado
Istimewa
Lucky Schramm SH MH 

Penulis : Lucky Schramm SH MH

* Pengamat/Praktisi Hukum
* Dosen Fakultas Hukum Univ Atma Jaya Jakarta

KASUS dugaan tindak pidana korupsi dana hibah penanggulangan banjir di Kota Manado, terus mengundang pertanyaan publik. Pasalnya Kejaksaan Agung Republik Indonesia yang menangani kasus tersebut, dinilai lamban dan seakan tebang pilih yang hanya menjangkau pelaku-pelaku "kacangan saja" dan bukannya pelaku intelektual atau intellectual Dader.

Buktinya, telah bergantinya pimpinan di Kajaksaan Agung, tetapi korps baju coklat, sebutan bagi Kejaksaan itu, tidak juga dapat menyeret para pelaku ke meja hijau Pengadilan Tipikor, apalagi mengungkap pelaku intelektual atau intellectual Dader pada dugaan korupsi yang terbilang wah tersebut.

Namun, seiring dengan diawalinya secara resmi aktivitas di tahun 2020, tepatnya pada Senin tanggal 6 Januari 2020, Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Adi Toegarusman membuktikan bahwa mereka masih "punya taring".

Kejagung Tahan 4 Tersangka Kasus Korupsi Banjir Manado, Wali Kota GSVL Saksi

Dirinya menyampaikan bahwa Kejaksaan Agung telah menahan empat tersangka kasus dugaan korupsi dana hibah penanggulangan banjir Kota Manado, hal ini membuktikan janjinya pada bulan Oktober lalu bahwa proses penyidikan untuk kasus ini belum selesai.

Hal ini sedikitnya menambah optimisme publik, dimana kasus dugaan adanya tindak pidana korupsi berawal dari tahun 2014 Pemerintah Kota Manado menerima dana hibah dari Pemerintah Pusat yang sangat besar yaitu sejumlah Rp 200 Miliar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pemukiman yang rusak akibat banjir pada tahun 2014, akan tetapi dana hibah tersebut ada yang disalahgunakan.

Begitu sangat disayangkan, karena dana hibah bantuan sosial merupakan dana untuk kemanusiaan yang artinya dapat membantu masyarakat atau orang banyak yang mengalami bencana.

Guntur Romli: Edan! Anies Baswedan Sebarkan Hoax Kemang Tidak Banjir

Dana hibah tersebut dikelolah oleh Pemerintah Kota Manado sebagai Pengguna Anggaran oleh Pemkot Manado menunjuk NJT selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Pemkot Manado dan FDS selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pemkot Manado yang sekarang ini ditahan bersama dua orang lainnya yakni pihak swasta yang berinisial YSR dan AYH, penahanan dilakukan oleh Kejaksaan Agung karena diduga kuat ke empat orang tersebut terlibat dalam kasus tindak pidana korupsi.

Tentu publik mengharapkan Kejaksaan Agung benar-benar obyektif mengungkap aktor intelektual atau intellectual dader pada dugaan korupsi dana kemanusiaan yang memiriskan tersebut, sebab jelas tindak pidana korupsi adalah kejahatan luar biasa yang dilakukan secara terencana dan sistematis dengan melibatkan pelaku yang punya power dalam lingkaran kekuasaan.

Apa lagi terhadap dana bencana Kota Manado tentu ada peran pelaku intelektual atau Intellectual Dader yang harus diungkap Kejaksaan Agung dan menjadi harapan publik.

Iran Hujani Roket di Pangkalan Militer AS, Serangan Balas Dendam Kematian Qassem Soleimani

Dalam istilah Hukum Pidana kita mengenal adanya Pelaku Intelektual (intellectual Dader) yang biasanya putusan hukum terhadap Pelaku Intelektual (Intellectual Dader) akan lebih berat, karena pelaku akan dianggap sebagai seorang yang berpendidikan dan melakukan tidak pidana secara integral, sehingga dalam hal ini tuntutan hukumannya bukan hanya berdasarkan UU No 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi akan tetapi bisa juga dijerat dengan KUHP Pasal 55 yaitu secara bersama-sama melakukan tindak Pidana Korupsi.

Sekarang menjadi pertanyaan buat kita semua, apakah penyidikan akan kasus ini akan terhenti sampai di sini atau pihak Kejaksaan Agung masih akan melanjutkan dengan mencari siapa sebenarnya pelaku Intelektual (Intellectual dader)? Apakah NJT sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau FDS selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan atau YSR dan AHY pihak swasta atau masih ada pihak lain yang belum tersentuh di luar ke empat orang yang ditahan tersebut ?

Jelas keempat pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka menjadi "pintu masuk" untuk menguak pelaku Intelektual atau Intellectual dader dari korupsi dana bencana Manado yang menjadi PR alias Pekerjaan Rumah dan bukannya "Pekerjaan Rupiah" yang akan menghambat bahkan mencoreng profesionalisme Kejaksaan Agung yang harus berbenah untuk kepercayaan publik bahwa penegak hukum Kejaksaan Agung menjadi harapan bangsa ini dalam penegakan hukum yang jauh dari "lingkaran setan", di mana para pelaku apalagi pelaku intelektual atau Intellectual Dader sudah menjadi rahasia umum bisa membeli hukum, -semoga tak demikian-.

Harapan pengungkapan kasus ini segera bisa diselesaikan sehingga pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat korban banjir di Kota Manado selama ini terjawab dengan kerja nyata dari Kejaksaan Agung yang menarik langsung kasus ini untuk ditangani di Gedung Bundar (Kejaksaan Agung) terutama menyeret pelaku intelektual atau Intellectual Dader korupsi dana kemanusiaan miliaran rupiah itu, yang pelakunya adalah mereka yang tak berprikemanusiaan.(*)

Reynhard Pemerkosa Berantai Paling Mengerikan di Inggris, Mengira Dirinya Seperti Peter Pan

Editor: David_Kusuma
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved