Banjir di Jabodetabek

Kota Ini Paling Parah Terdampak Banjir, Pengungsi Capai 149 Ribu, Kata BNPB Banyak Tanggul Jebol

Ada satu kota yang menjadi yang paling parah terdampak banjir di Jabodetabek. Dan ini penjelasan BNPB kenapa bisa demikian.

Tribunnews/JEPRIMA
Sejumlah warga nekat melewati banjir yang merendam Jalan Kartini, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (2/1/2020). Arus lalu lintas di jalan tersebut lumpuh total, pemukiman warga, toko, hingga rumah sakit terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa serta kendaraan yang tidak sempat dievakuasi juga nampak terendam banjir hingga menutup seluruh badan mobil. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sesuai data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di antara sejumlah kota dan kabupaten di Jabodetabek yang paling parah terdampak banjir adalah Kota Bekasi Jawa Barat.

Jumlah pengungsinya mencapai 149 ribu jiwa. 

Untuk pengungsi di Jakarta hanya berjumlah sekitar 20 ribu saja.

Dan menurut BNPB satu di antara penyebab adalah banyak tanggul yang jebol.

Simak penjelasan lengkap BNPB berikut ini. 

Kepala Pusat Data Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo membeberkan alasan kenapa Bekasi menjadi kota paling parah terdampak banjir.

"Jadi waktu tanggal 1 itu, saya dan hampir semua orang itu melototi Katulampa. Kita lihat itu siaga 2 siaga 3 siaga 4 dan tidak pernah siaga 1 itu Katulampa. Dan orang berpikir itu tidak ada banjir dan ternyata banjirnya itu ada di sebelah timur Jakarta. Ada di kota Bekasi," kata Agus di Gudang BNPB, Pondok Gede, Jawa Barat, Sabtu (4/1/2020).

Selain itu, menurutnya, sistem early warning yang dimiliki di Jabodetabek hanya ada di Katulampa. Di antaranya aliran yang mengaliri kali Ciliwung, sedangkan aliran air yang lainnya tidak bisa terpantau.

Informasi saja, Sistem Peringatan Dini atau early warning system merupakan serangkaian sistem untuk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam, dapat berupa bencana maupun tanda-tanda alam lainnya.

"Kalau Katulampa tingginya siaga 1 berarti berapa jam lagi akan sampai ke Jakarta ke Kampung Melayu dan sebagainya. Dan itu baru sistem yang ada di kali Ciliwung. Sedangkan di sistem sebelah timur di kali Bekasi, kali Cikeas, kali Angke dan sebagainya belum ada sistemnya," ungkapnya.

Ke depan, kata dia, pemerintah akan membuat sistem early warning aliran air yang ada di kali sekitar Bekasi. Pembangunan itu akan dilakukan oleh Kementerian PUPR.

"Itu yang akan dilakukan pemerintah khususnya PUPR. Dan itu yang diminta disegerakan oleh PUPR pada tahun ini sampai tahun berikutnya sistim Bekasi dan sekitarnya seperti halnya di Ciliwung," tukasnya.

Selain itu, cuaca ekstrem yang ditunjukkan intensitas hujan yang tinggi membuat banyaknya tanggul yang jebol di Bekasi. Hal itulah dinilai semakin memperparah kondisi banjir di kota pimpinan Rahmat Effendy tersebut.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga Sabtu (4/1/2020) korban meninggal dalam bencana bencana banjir dan longsor di Jabodetabek mencapai 54 orang. Dari seluruh korban tersebut, 1 orang masih dinyatakan hilang.

Mayoritas korban meninggal paling banyak berada di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Totalnya, mencapai 16 orang.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com 

Subscribe YouTube Channel Tribun Manado:

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved