Kamis, 14 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Natal

Setiap Jelang Natal Anak-anak Panti Asuhan Berdoa Minta Mujizat, Simak Apa Yang Terjadi

Mujizat natal. Hal itu ada dan nyata jikalau menyimak kehidupan anak-anak panti asuhan Amazia Desa Sauk, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolmong.

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Tribun Manado/Arthur Rompis
Anak anak panti asuhan Amazia Desa Sauk, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolmong. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Mujizat natal. Hal itu ada dan nyata jikalau menyimak kehidupan anak-anak panti asuhan Amazia Desa Sauk, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolmong.

Dalam keadaan serba kekurangan, mereka selalu mendapat kado natal jelang hari natal.

"Selalu setiap jelang natal, ada saja yang datang beri uang lantas kita beli kado natal," kata pengurus panti Susye Wowor.

Susye menceritakan, tahun lalu ia dan anak anak nyaris putus asa. Hingga h min 2 natal, belum ada tanda tanda kado natal bakal ada. Keuangan mereka tak begitu baik.

"Yang kami lakukan cuma berdoa saja, berdoa dan berdoa," kata dia.

Pagi sehari jelang natal, penghuni panti dikejutkan dengan kemunculan beberapa mobil yang parkir depan panti tersebut.

Beberapa orang keluar dan dikeluarkan pula beberapa barang dalam kantong plastik. Itu hadiah natal mereka. 

7 Hadiah Natal Sederhana Tapi Bermanfaat

"Penyumbang tersebut juga menyerahkan bantuan uang, dengan uang itu kita beli baju bagi penghuni panti," kata dia.

Entah kebetulan atau tidak, pola yang sama selalu berulang tiap tahun. Mereka alami kesulitan dan datanglah malaikat penolong.

Sang malaikat itu bisa pejabat, pengusaha atau orang biasa.

"Kami maknai ini mujizat Tuhan, dalam kesusahan kita tak pernah berhenti berharap kepadaNya, dan Tuhan selalu memberi pertolongan tepat pada waktunya," kata dia.

Dia mengaku selalu berupaya memberikan kado natal bagi anak anak panti asuhan tersebut. Selain kebutuhan, itu juga demi memotivasi kehidupan mereka.

"Agar mereka berani bermimpi dan bekerja keras menggapainya," kata dia.

Doa dan puasa, ujar dia, adalah kuncinya. Tiap hari mereka berdoa dan berpuasa di gereja.

Sewaktu Tribun berkunjung ke sana beberapa hari lalu, mereka tengah khusyuk berdoa demi natal yang penuh sukacita.

"Hanya itu yang bisa kami lalukan dan puji Tuhan selalu ada mujizat," katanya.

Terbayang Orang Tua

Bayangkanlah, natalan tanpa orang tua. Jauh dari sanak saudara. Tanpa semua yang indah bagi seorang anak: baju baru, makan enak atau pesiar ke mall.

Pastinya berat. Inilah yang dialami anak - anak panti asuhan Amazia di Desa Sauk, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, saat hari natal.

Hari natal mereka jalani dalam kerinduan pada orang tua dalam imajinasi tentang kemewahan natal seperti di film.

Meski demikian, merekalah pelakon sesungguhnya dari keajaiban natal.

Bukan keajaiban natal versi sutradara hollywood seperti munculnya peri yang baik hati di malam natal.

Tapi keajaiban berupa hati yang mensyukuri.

Hati yang mampu menerima kepahitan dan mau memberi yang manis bagi dunia.

"Saya tak pernah menyesal dilahirkan. Saya ingin memberi sesuatu bagi dunia ini," kata Alfa Timbowo, salah satu penghuni panti.

Dia buta sejak lahir. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Seluruh hidup dilewatinya di panti asuhan.

"Sejak lahir saya hanya melihat gelap," katanya.

Alfa kerap jadi sasaran bully. Frustasi dan nelangsa, ia kemudian menemukan jalan hidup.

"Di panti asuhan di Manado ada keyboard, saya iseng iseng main dan ternyata saya berbakat di musik. Dalam keadaan buta saya bisa lebih peka terhadap nada," kata dia.

 Ia pun menjelma menjadi seorang musisi. Undangan manggung pun berdatangan.

"Suatu hari saya diminta tampil di Bolmong, lantas saya masuk di panti asuhan ini," kata dia.

Ia merasakan hangatnya keluarga di panti asuhan Amazia. Pengurus panti menyayanginya, begitupun rekan - rekannya.

"Di sini ada grup musik yang mengisi puji pujian, saya ikut di dalamnya. Rasanya bahagia," ujar dia.

Saat hari natal, ia bermain musik dan bernyanyi dalam ibadah natal. Suara indahnya membawa sukacita natal bagi anak anak panti.

"Daripada mengutuki seribu kegelapan, lebih baik memasang sebuah lilin," kata dia.

Grace Sanggelorang, anak panti lainnya sudah yatim piatu. Ayah dan ibunya meninggal karena sakit.

"Sewaktu pertama berada di panti asuhan saya merasa sedih, selalu teringat ibu yang kala itu masih sakit sakitan," kata dia.

Awalnya natal terasa pedih baginya. Ia membayangkan teman temannya yang lebih beruntung, punya ayah dan ibu, bisa berkumpul bersama sama di hari natal.

Lambat laun Grace bisa menerima kenyataan hidup. Lewat bimbingan pengurus panti asuhan ia bisa memahami arti kehidupan sesungguhnya.

"Yesus saja lahir di kandang hina. Saya ada di dunia ini karena ada maksud Tuhan dari keberadaan saya. Ini hal yang harus disyukuri. Dalam penderitaan kita lebih dekat dengan kasih Tuhan Yesus," beber dia.

Kesadaran akan cinta Tuhan yang besar membuatnya berani bermimpi.

"Saya ingin jadi astronot," kata dia.

 Setiap malam natal ia berdoa agar Tuhan menyampaikan cita cita tersebut pada ayah ibunya di surga.

"Selamat natal untuk ayah dan ibu di surga," beber dia.

Rani Antahari anak panti lainnya masih punya ibu. Ia terpisah dari ibunya karena masalah ekonomi.

"Papa sudah tidak ada kemudian saya dititip di sini karena kami sangat miskin, ibu sekarang bekerja di Dumoga," kata dia.

Setiap hari natal, ia bertemu ibunya. Dalam suasana prihatin, keduanya bertemu. Tak lama. Tapi bermakna. "Saya senang sekali," kata dia.

Dari pengalaman hidupnya yang papah dan menderita, bangkit perasaan untuk menunjukkan jalan bahagia kepada dunia.

Baginya bahagia adalah menerima yang pahit dengan mengucap syukur dan memberi yang manis dengan sukacita.

"Saya ingin jadi Gembala," kata dia.

Susye Wowor pengurus panti asuhan mengatakan, di hari natal, anak anak panti dibebaskan pesiar.

"Ada yang kembali dengan orang tuanya, ada yang tinggal di sini," beber dia.

Ia berupaya keras agar para anak panti ini memperoleh hadiah natal. Dirinya berdoa dan berpuasa agar hal itu terpenuhi.

"Sebagai anak mereka sangat mendambakan itu, saya selalu berusaha," kata dia.

Mujizat sering terjadi. Jelang natal selalu ada donatur yang membantu.

"Puji Tuhan pertolongan Tuhan selalu datang tepat waktunya," kata dia.

Namun jika Tuhan menghendaki lain, ia dan penghuninya menerima itu sebagai bentuk lain kasih Tuhan.

"Yang penting kami saling mengasihi," kata dia.

Sebutnya, ada 46 anak di panti asuhan tersebut.

"Ada yang memang sudah yatim piatu, ada yang broken home, ada pula yang masalah ekonomi," kata dia.

Sebut dia, anak anak panti asuhan dididik secara kristen.

Mereka dibiasakan berdoa, berpuasa serta memuji Tuhan.

"Bangun pagi, pukul setengah lima mereka berdoa dan saling mendoakan, kemudian ke sekolah, pulang sekolah bersih bersih, belajar kemudian beribadah dan berdoa kembali," kata dia.

Menurutnya, mengurus anak panti cukup sulit. Para pendidik harus bertindak layaknya psikolog.

"Mereka ada yang aktif, ada pula yang pasif, ada yang suka cari perhatian, ada yang suka ngarang," kata dia sambil tertawa.

Dikatakannya hasil pembinaan kepada para penghuni panti terlihat dari terbentuknya grup musik. Grup ini kerap mengisi acara di gereja maupun pemerintahan.

"Harapan kami mereka mampu menjadi anak yang baik dan bisa mewujudkan cita citanya," kata dia. (art)

Libur Natal di Rumah Saja? Tonton 7 Film Kocak Bertema Natal Berikut Ini

 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved