Tajuk Tamu Tribun Manado

Ruang Pesisir Pantai Kota Manado, Milik Siapa?

Menjadi catatan penting adalah perencanaan jalan boulevard tahap 1 masih kurang mengalokasi ruang untuk tambatan-tambatan perahu nelayan.

Tribun Manado
Ekskavator membantu menurunkan batu dari truk pada lokasi proyek reklamasi Boulevard II, Rabu (17/1/2018). 

Oleh:
Dwight Mooddy Rondonuwu
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Kelautan FPIK Unsrat Manado

WILAYAH pesisir pantai merupakan salah satu ciri khas Kota Manado sebagai kota berkarakter pantai (coastal city) yang memiliki panjang garis pantainya sekitar 18,7 kilometer.

Menelusuri karakteristik fisik pantai di wilayah pesisir Manado sebelum tahun 1989, ruang pesisir yang berkarakter pantai (beach) pada waktu itu masih dapat ditemukan di pantai Malalayang, Bahu, Sario, Titiwungen, Wenang (kecuali daerah milik Pelabuhan Manado), di Sindulang dan Tuminting ke arah utara pesisir pantai Manado.

Ruang pesisir pantai sering dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat kota, mulai dari kegiatan hidup nelayan, tempat permandian, rekreasi, ibadah, olahraga dan sebagainya. Namun saat ini berbagai aktivitas masyarakat khususnya pada daerah reklamasi pantai tersebut sebagian besar telah hilang dan tinggal kenangan.

Perubahan pemanfaatan ruang pesisir pantai ini dimulai seiring dibangunnya jalan boulevard tahap 1 sepanjang 4,5 Km yang selain berfungsi sebagai jalan penghubung dari wilayah kota selatan ke pusat kota, juga sebagai tanggul pengaman permukiman terhadap abrasi pantai yang sering merusak rumah warga di sepanjang pantai.

Alhasil model pembangunan jalan pantai boulevard 1 yang menyusuri garis pantai Manado mendapat sambutan positif dari kebanyakan masyarakat kota dengan segala kepentingannya.

KRONOLOGI dan Fakta 3 Anggota Polri Tewas Disambar Petir di Atas Gunung, Cuaca Mendadak Hujan

Secara spasial dan visual (cityscape), adanya jalan boulevard ini berhasil meningkatkan nilai estetika dan citra Manado sebagai kota yang berhadapan langsung dengan laut yang dikenal dengan istilah water front city.

Selain itu fungsi jalan boulevard ini di kala sore sampai malam hari menjadi ruang publik kota yang baru sebagai public place bahkan menjadi destinasi wisata bahari baru. (Saat ini sebagian besar ruang publik telah bergeser ke tepi laut blok-blok reklamasi dan ruang terbuka yang diperuntukan sebagai daerah hijau kota).

Menjadi catatan penting adalah perencanaan jalan boulevard tahap 1 masih kurang mengalokasi ruang untuk tambatan-tambatan perahu nelayan. Hal yang sama terlihat pula pada lanjutan pembangunan jalan boulevard 2 di bagian utara Manado.

Tentu hal ini perlu mendapat perhatian bagi pemerintah dalam perencanaan dan pembangunan reklamasi di kawasan pesisir kota bagian utara. Mengalokasikan ruang bagi aktivitas hidup nelayan dan ruang publik bagi masyarakat kotanya adalah sebuah keniscayaan.

Ferry Daud Liando: Target Menang Adalah Impian Semua Parpol Namun Harus Memiliki Tanggung Jawab

Halaman
123
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved